Yona Primadesi

Membaca, Menulis, dan Berkarya

Puisi di Harian Pikiran Rakyat Jawa Barat 23 Februari 2014

kupu-kupu-bulu-angsa-kecil1.jpg

SUNYARURI

: NA

32 jam lagi, kota melepas pelukan

di luar gerbong-gerbong berdenyut

berubah lonceng jam di tubuh

mengirimi sejarah dari sebuah kamar

aku masih rebahan di tilam

sembari bercakap-cakap bersama sepatu

yang katamu beraroma susu. ada sisa kopi

di pita beludru coklat, lalu aku memotretnya

menyelipkan di bawah bantal

membangun kota-kota baru tanpa stasiun

gerbong mulai melintas di telinga

ia bertanya: mengapa aku tidak mengambil

bantalku lalu sembunyi. aih, mengapa kau datang seperti itu

tidakkah kau lihat aku baru saja membersihkan genangan di kamar

dan aku tidak menemukan waktu di sini

hanya wajah yang memunguti batu. pada dinding hanya kaki

yang berjalan jingkat. di loteng aku berlari mengekorimu

ingin memeluk punggungmu

bertanya, di mana sunyaruri kita?

Pasar Minggu, Februari 2014

RUANG MAKAN

wajah ibu hilir mudik

selepas memasang cermin di ruang makan

bisul berkecambah di tenggorokkan, dan otak

menjadi hidangan bagi anak-anak kelaparan

hujan menyembunyikan meja yang kesepian

mengganti dengan bertumpuk-tumpuk tubuh telanjang

malam ini, ibu membawa semangkuk sup dari rahimnya sendiri

melukiskan sekolah, mall, salon kecantikan, bahkan juga rumah bordil

anak-anak berteriak. sementara gelas di meja beradu

menyoal sendok atau garpu yang menyusup ke atas ranjang

kita tertawa hingga terkencing-kencing, seperti dungu yang lupa

memasang pintu kamar mandi

ah ibu, ruang makan ini persis rahimmu yang berdebu.

Pasar Minggu, Februari 2014.

DI PINGGAN PAGI

sebelah dada ibu, menu di pinggan pagi ini

pelukan yang hijau

garnis yang manis

sendok mencuri bibir

garpu mengiris lidah

dan air susu bercecer di sepanjang lengan

suara ayah menjatuhkan keberanian

lewat punggung yang berkeringat

baunya persis sebelah dada ibu di pinggan

merupa hingga berjejalan di tas sekolah

di lipatan buku pelajaran

di sekantung gundu warna-warni

bahkan di sepatu yang berlari-lari sekitaran meja

lalu, di mana aku harus duduk

menikmati menu di pinggan pagi ini

lipatan meja menjadi serbet

menyeka hujan yang terik di kepala

Pasar Minggu, Februari 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 18 September 2015 by in puisi.
%d blogger menyukai ini: