Yona Primadesi

Membaca, Menulis, dan Berkarya

Puisi di Harian Pikiran Rakyat Jawa Barat, 13 April 2014

?????????????

Percakapan di Beranda

: Abinaya Ghina Jamela

Sebaiknya kita jeda sejenak.

kita perlu memberi lebih banyak ruang bagi paru-paru

yang disesak asap, tempat tungkai meluruskan jejak

waktu untuk telinga yang dikunjungi gerbong-gerbong

dari negeri jauh.

Bagaimana jika kuseduh teh ke cangkirmu

yang bertabur kupu-kupu, sambil menikmati matahari

lesap di atap tetangga.

Dongengkan buatku apa saja. Bukankah duniamu adalah jantung yang semakin berdegub dalam gigil.

Aku ingin beringsut sejengkal lagi lebih dekat

untuk bayanganmu, menciumi bau mimpimu yang melulu aku

mengerti bahwa kita sebatas ruang, tempat orang-orang lalu lalang.

Dan katamu, harusnya ada alamat di pintu, bukan?

Sayang, kota manakah yang akan kita persilahkan masuk

agar makan malam di meja, atau menghapus air mata yang menjadi ranjang

bagi setiap pertemuan.

Bukankah rumah kita hanya nyanyian

yang mengendap di dinding, tanpa gema yang memanggil pulang

Aku telah lebih dahulu menggantung luka di sana

bersama waktu, seperti tubuh yang terpaku

di tengah ingatan yang berhamburan.

Terlalu banyak keramaian

yang menawarkan apa saja dalam nadiku yang berdenyut

tapi tak akan pernah ada pintu untuk dada kita.

Naya, apakah hatimu juga mulai lebam atau aku yang terlampau cemas untuk segala yang ditanggungkan.

Letakkan saja bibir itu di punggungku, di jantungku juga tak mengapa

sebab hanya kau mata yang akan mengenang tubuh

yang perlahan kisut, lelah melengkung dengan dada

yang harus tetap terbusung.

Sayang, mari kita berdoa

barangkali Tuhan berbaik hati

malam ini saja, menuntaskan segala luka.

Padang, Maret 2014

Babako*

Aku bertemu denganmu di jalan menuju pulang

memanjang. Perempuan menandu kebaya pernikahan; tangis anak-anak,

keringat dari punggung lelaki, dan rumah di kepala

barangkali kita pernah bertemu sebelumnya

dari hikayat untuk negeri tiga warna

kelewat anggun membawakan diri

menyelinap dalam keramaian pesawat televisi

mendekor ulang ranjang

mengganti gorden dengan angka

menjadikan beranda sebising pesawat tempur negeri jauh

untuk huruf di kening, perempuan

ujung jilbab terbakar terik

tersisa lubang dengan tandu di kepala

Padang, Maret 2014

Lelaki Berpunggung Tuhan

:Hendro Wicaksono

ada yang berkunjung pagi-pagi sekali

lelaki berpunggung tuhan melangkup ke dalam tas, bergegas

rumah di tangan kiri meninggalkan gugup

yang membersihkan wajah dari kata-kata

tuhan muntah di kakinya

mengasingkan diri pada tombol-tombol di kepala

membangun telinga yang mencengkram leher

aku hantarkan kau hingga rahim ibu;

perempuan gigil.

Jemari terselip di dadanya

melarikan musim yang kesepian

di cermin toilet

di cangkir teh

di gorden

di pagar-pagarbesi

di bantal yang kering

tuhan masih mengirimi berlembar-lembar kartu pos

aku naik motor saja, ujarmu pagi-pagi sekali

api berjatuhan dari punggungmu yang basah.

Depok, 2014

2 comments on “Puisi di Harian Pikiran Rakyat Jawa Barat, 13 April 2014

  1. nanangrusmana
    18 September 2015

    karya karya puisi yang baik. sangat baik. salam kenal.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 18 September 2015 by in puisi.
%d blogger menyukai ini: