Yona Primadesi

Membaca, Menulis, dan Berkarya

Puisi di Harian Media Indonesia, Minggu, 24 Mei 2015

Media INdonesia

Prabhasa

 Aku tengah dimabuk cinta, Wasistha, ketika kau

kutuk aku menjadi lumpur di dasar sungai.

Nandini hanya gelang kaki bingkisan wasu

untuk sejumput rekah di merah wajah

penghias kekanakan; ditaburi kidung penuh

puja juga kuncup-kuncup rupa warna.

Tapi kau benamkan aku ke dalam Gangga

antara wangi dupa, ketuaan yang mengoceh

seperti gembala pada ternak, juga karma

dari busur dan panah para ksatria.

Mengapa tak kau biarkan aku mati di rahim ibu

laksana tujuh dewa, bergegas menuju pulang, sebelum

anjing dungu memelas penuh berahi, sebelum cacing

memamah biak di jantung, sebelum Arjuna mengokang busur.

2015

Amba

Namaku Amba; kijang berkepala perempuan.

Lututku pernah gemetar, untuk setiap panah, dilepaskan

bersama kalungan bunga, asap dupa dan sari berwarna

darah; mengusungku dengan keranda menuju halaman istana.

Ayahku tak menitipkan peta apalagi senjata

hanya kaki-kaki ramping, berlarian memanjangkan

silsilah dari sisi ranjang, dan Salwa tak lebih

sapi dungu Saubala, melenguh ketika

Bhisma kegirangan memerangkapku

dari taman raja sebagai persembahan.

Namaku Amba, kutinggalkan kisah-kisah

yang memenjarakan, setelah mondar-mandir

dan menjadi gila karena mengutarakan cinta.

Aku menjelma melankoli, tersungkur

pada halaman-halaman, disesaki

para dewa, raja perkasa, kesatria, raksasa,

gandarawa, bahkan anjing Hastinapura.

2015

Kutukan Bunga Teratai

 

Sebab teratai menjuntai di lehermu, Amba

denting pedang amsal kaing anjing

berkabar tentang ksatria tanpa peperangan

Anak panah menjelma kanak

kikuk, menyembul di lengkung dada ibu.

2015

Senandung Dewi Gangga

 

Semestinya, tak kuperdaya Sentanu hingga ke ranjang tidur

atau menghanyutkan anak-anakku seperti kotoran ke sungai.

Aku perempuan dungu, terperangkap di sepasang kaki:

rengekan manja dewa-dewa dan kisah-kisah bermuka lelaki.

Susu sapi persembahan tak  akan mampu

menghapus jejak bindi di langit Hastinapura

Sementara dengung mulut pendeta, sediakala

menjelma gema terompet di medang perang.

2015

Srikandi

 

Panah terakhir yang mencium dadamu, Bhisma

tabuh gendang dan gemericing gelang kaki di ruang

istana yang lengang, dan aku seumpama angin

menyampaikan gema penuh suka cita ke telingamu.

Dari kereta kuda ini, sekelok senyum Arjuna pun

tak lebih rupawan dari selarik kidung yang berjatuhan

bersama jejak panjang air mata di wajahmu;

Anak panah ini milik Arjuna,bukan Srikandi.

2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 18 September 2015 by in Perpustakaan.
%d blogger menyukai ini: