Yona Primadesi

Membaca, Menulis, dan Berkarya

FRBR: Kerangka Konseptual Katalog Abad 21

FRBR: Kerangka konseptual katalog abad ke-21
Bagian ke-I

Oleh: Irma U. Aditirto

Abstrak
Functional Requirements for Bibliographic Records atau FRBR adalah hasil dari suatu studi yang
bertujuan mengidentifikasi data bibliografi terpenting yang minimal harus ada dalam suatu cantuman
bibliografi agar cantuman itu dapat berfungsi sebagai wakil dokumen (document surrogate) dalam katalog
dan sarana temu kembali lain. Berbagai trend dan masalah yang secara simultan membuat kegiatan
pengatalogan semakin kompleks dan berbiaya tinggi, mendorong pemikiran ke arah penyederhanaan tanpa
mengorbankan kualitas katalog. Bertolak dari kebutuhan pengguna katalog, suatu kelompok studi yang
ditunjuk oleh IFLA mengembangkan suatu entity-relationship model. Setelah mengidentifikasi entitas,
atribut entitas, dan pelbagai hubungan antar entitas dan atribut, kelompok studi menilai seberapa penting
entitas, atribut dan hubungan tersebut ditinjau dari kebutuhan pengguna. Yang penting akan menjadi
bagian dari cantuman bibliografi dasar (basic bibliographic record). Hasil akhir dari studi ini adalah: (1)
suatu model atau kerangka konseptual berperspektif baru, dan (2) terminologi yang jelas. Kedua hal ini
diharapkan akan dapat menjadi landasan untuk mendesain kode pengatalogan baru yang lebih sesuai
dengan perkembangan zaman.
Kata kunci: pengatalogan, kode pengatalogan, cantuman bibliografi

Functional Requirements for Bibliographic Records
atau FRBR adalah hasil dari suatu
studi tentang fungsi-fungsi yang harus dipenuhi oleh cantuman bibliografi yang dimuat
dalam bibliografi nasional atau katalog perpustakaan. Studi ini, yang dilaksanakan oleh
suatu Study Group dari IFLA dari tahun 1992 hingga 1997, menghasilkan suatu model
atau kerangka konseptual yang dapat digunakan sebagai landasan untuk merevisi kode
pengatalogan (cataloging code, misalnya AACR) atau membuat kode baru.
FRBR bukan kode pengatalogan, maka mungkin akan ada yang bertanya apa
manfaat mempelajari FRBR bagi pustakawan pada umumnya. Kebanyakan pustakawan
tidak akan terlibat secara langsung dalam proyek revisi kode atau penyusunan kode baru.
Memang benar bahwa revisi atau penyusunan kode baru akan dikerjakan oleh
sekelompok pustakawan saja yang telah mendapat mandat untuk tugas yang besar dan
berat itu, tetapi mereka ini hanya dapat menghasilkan sesuatu yang baik apabila
pustakawan di lapangan aktif memberikan masukan. Pengetahuan mengenai prinsipprinsip umum FRBR dapat memperluas wawasan pustakawan mengenai “bibliographic
universe” dengan segala permasalahannya, sehingga ia dapat memberikan masukan
yang lebih terarah. Pengetahuan tentang FRBR juga bermanfaat untuk memecahkan
aneka persoalan pengatalogan yang dihadapi di lapangan, yang belum diatur oleh
peraturan pengatalogan yang sedang berlaku. Khususnya untuk mereka yang harus
menetapkan kebijaksanaan pengatalogan (cataloging policy) untuk perpustakaan atau
lembaga lain tempat mereka bekerja, dokumen berisi Final Report dari IFLA Study
*

Group on the Functional Requirements for Bibliographic Records (biasanya disebut
FRBR saja) dapat menjadi sumber rujukan yang sangat bermanfaat.
Tulisan ini merupakan pengantar singkat ke FRBR, yang akan dibagi menjadi dua
bagian. Bagian pertama akan mengetengahkan faktor-faktor latar belakang yang
mendorong dilakukannya studi tentang fungsi-fungsi cantuman bibliografi, sasaran yang
ingin dicapai lewat studi ini, metodologi, dan pembahasan mengenai unsur-unsur data
yang paling penting bagi pengguna katalog, atau “key objects of interest to users of
bibliographic data” (FRBR, p.12) yang dalam studi ini disebut “entities”. Sedangkan
bagian kedua tulisan ini akan membahas ciri-ciri entitas  (attributes of entities), hubungan (relationships) antar entitas, pemetaan ciri entitas dan hubungan yang dikaitkan dengan kebutuhan pengguna, kesimpulan dan rekomendasi FRBR.

Latar Belakang
Revisi kode pengatalogan
Mengapa kode pengatalogan perlu direvisi dan mengapa diperlukan kerangka konseptual
baru untuk revisi tersebut? Kode-kode pengatalogan yang sekarang berlaku dibuat
berdasarkan Paris Principles yang dirumuskan pada ICCP (International Conference on
Cataloguing Principles) di Paris pada tahun 1961, dan International Meeting of
Cataloguing Experts di Copenhagen tahun 1969 yang menghasilkan resolusi untuk
menetapkan standar internasional untuk bentuk dan isi deskripsi bibliografi, yaitu yang
kemudian dikenal sebagai ISBD. Semua kode ini telah mengalami revisi berkali-kali,
sejalan dengan perubahan di pelbagai bidang, khususnya bidang teknologi. Sejak awal
sesungguhnya ada kasus-kasus pengatalogan tertentu yang sulit dipecahkan karena
menyangkut hal-hal yang fundamental. Perkembangan teknologi kemudian membuat
masalah ini lebih kompleks lagi. Berikut ini akan dibahas tiga kelompok masalah
terpenting yang menjadi dorongan untuk studi IFLA yang membuahkan kerangka
konseptual yang sekarang dikenal sebagai FRBR.

Dikotomi “content – carrier”
Cantuman bibliografi adalah wakil ringkas dokumen (condensed document
surrogate atau condensed document representation). Persoalan lama ialah: Apa
yang harus menjadi fokus dari cantuman bibliografi, isi atau wujud fisik? Atau
dengan perkataan lain: Cantuman bibliografi harus menjadi wakil karya (work),
atau wakil dokumen? Persoalan ini, yang dikenal sebagai “content-carrier
dichotomy”, atau masalah “literary unit” versus “bibliographic unit”, sudah lama
dirasakan sebagai ganjalan cukup serius, juga ketika dunia sumber informasi masih
serba analog. Saat itu sudah terasa dampak “multiple versions”, yaitu hadirnya Penulis menggunakan berbagai versi dari satu karya. Versi bisa berbeda karena karya diterjemahkan,
diringkas, diadaptasi, diberi catatan, dilengkapi dengan ilustrasi, dijadikan film.
Pengalihan informasi dari satu bentuk media ke bentuk lain baik secara utuh
maupun sebagian saja, dengan modifikasi di sana sini, begitu mudah. Proliferasi
format-format ini dan hadirnya berbagai versi dari satu karya sekaligus, melahirkan
beban baru bagi perpustakaan. Kewajiban membuat cantuman baru untuk tiap versi
yang dimiliki perpustakaan menyebabkan tiga jenis masalah: masalah akses,
penumpukan bahan yang harus dikatalog, dan peningkatan biaya. Kualitas
pengatalogan atau kualitas cantuman bibliografi mundur, sebab untuk mempercepat
pengolahan banyak perpustakaan memutuskan untuk menerapkan “minimal level
cataloging”, pengatalogan yang disederhanakan, sehingga data bibliografi maupun
titik temu dikurangi. Masalah ini dapat teratasi apabila cantuman bibliografi adalah
wakil karya. Tetapi peraturan AACR2 0.24 menetapkan bahwa bentuk fisik
dokumen yang ada di tangan pengatalog (“carrier”) menjadi titik tolak untuk
deskripsi, sehingga untuk tiap versi, meskipun tidak beda banyak dengan versi lain
yang sudah lebih dulu dibuatkan cantumannya, harus dibuatkan cantuman baru
(Howarth, 1997).

Dokumen digital
Masalah “multiple versions” yang sudah disinggung di atas dengan sendirinya
semakin sulit ditangani ketika teknologi digital mengubah secara fundamental
proses produksi dan transmisi dokumen. Pertama, apa yang dulu dipandang sebagai
media yang berbeda dan terpisah, sekarang dapat dintegrasikan untuk menciptakan
dokumen yang menyatukan berbagai cara dan bentuk untuk mengekspresikan ide,
emosi, informasi, seperti notasi berupa lambang (teks misalnya), gambar, suara,
gambar bergerak (moving image) dan bahkan juga basis data dan program.
Dokumen digital hasil perpaduan ini jauh lebih kompleks dari dokumen analog
konvensional baik dalam isi maupun struktur. Kedua, teknologi digital
memungkinkan modifikasi bentuk dokumen maupun revisi isinya dengan mudah
dan cepat. Dan yang dapat melakukan modifikasi bukan pencipta dokumennya saja.
Dengan perangkat lunak aplikasi dan komunikasi yang terhubung dengan jaringan
atau sarana lain yang digunakan untuk mengakses dan menampilkan dokumen,
bentuk dokumen dapat diubah-ubah lewat pilihan dengan memilih tampilan yang
dikehendaki. Sulit untuk mengenali suatu edisi atau revisi baru, melacak versi-versi
yang berbeda baik dari segi isi maupun format, updates dan supplemen.
Kebanyakan gejala ini belum terakomodasi dalam peraturan pengatalogan.
Teknologi digital masih relatif baru dan terus berevolusi dalam tempo yang cukup
cepat, maka tepatlah pernyataan Delsey (2001) bahwa: “… we are dealing with a
moving target” dan tampaknya sasaran ini sulit terkejar.

Globalisasi
“The cataloguing environment today is global” demikianlah tulis Gunilla Jonsson
(2003:41), “The use of integrating search protocols and search interfaces on the
Internet and new techniques of record discovery and record input have given more
realism to the utopian goal that a bibliographic resource shall only be described
once”. Sejak tahun 90-an shared cataloging memang sudah menjadi modus
3pengatalogan yang umum di negara-negara yang telah maju. Keberhasilan bentuk
kerjasama ini tidak saja tergantung dari kecanggihan sarana telekomunikasi,
perangkat keras dan lunak, tetapi juga dari harmonisasi kode pengatalogan. Untuk
itu masing-masing negara harus menganalisis kodenya dan bila perlu mengadakan revisi.

Alasan untuk merevisi peraturan tertentu dari suatu kode pengatalogan cukup banyak.

Namun harus dibedakan antara peraturan yang menjadi peraturan dasar atau pokok dan

peraturan yang sifatnya tidak begitu prinsipiil. Apabila beberapa peraturan dasar perlu
direvisi, maka mungkin lebih bijaksana untuk meninjau ulang landasan atau kerangka
konseptual kode tersebut, dan bila perlu modifikasi dilakukan terlebih dahulu pada
kerangka. Jika ini tidak dilakukan, maka akan terjadi perbaikan tambal sulam, peraturan
tidak terintegrasi lagi dengan baik, dan bahkan bisa ada kontradiksi antar peraturan.
Kasus-kasus yang dipaparkan di atas hanya dapat diatasi dengan perombakan cukup
drastis, maka langkah yang paling bijaksana ialah meninjau ulang landasan peraturan.
Dalam kasus globalisasi dan kerjasama yang menuntut harmonisasi kode, modus yang
telah diterapkan lebih dari 40 tahun yang lalu kiranya juga bisa diadopsi. Paris Principles
ketika itu dijadikan landasan bagi masing-masing negara untuk mengembangkan kode
nasional. Prakarsa untuk merumuskan suatu kerangka konseptual yang lebih sinkron
dengan perkembangan mutakhir dicetuskan pada suatu seminar tentang cantuman
bibliografi pada tahun 1990.
Stockholm Seminar on Bibliographic Records (1990)
Stockholm Seminar on Bibliographic Records tahun 1990 disponsori oleh IFLA
Universal Bibliographic Control and International MARC (UBCIM) Programme dan
IFLA Division of Bibliographic control. Para peserta seminar, yang pada umumnya
pakar yang telah banyak berbicara maupun menulis tentang landasan teoretis
pengatalogan, sepakat bahwa ada beberapa masalah besar yang harus dicarikan solusinya
serentak. Biaya penyusunan cantuman bibliografi harus ditekan, tetapi itu tidak boleh
dilakukan dengan mengorbankan kepentingan pengguna. Jika solusinya adalah semakin
banyak melakukan pengatalogan “minimal level”, maka agar solusi ini dapat
dipertanggungjawabkan perlu diadakan penelitian untuk mengetahui unsur-unsur data
manakah yang mutlak perlu ada dalam cantuman bibliografi. Harus ada kesepakatan
yang berskala nasional maupun internasional mengenai suatu standar untuk cantuman
tingkat dasar atau inti (core). Seminar Stockholm ini menghasilkan sembilan resolusi,
dan salah satu di antaranya adalah bahwa perlu dibuat suatu studi untuk menetapkan
fungsi-fungsi yang harus dipenuhi suatu cantuman bibliografi. Secara lebih rinci: Studi
ini harus merumuskan, dengan menggunakan istilah-istilah yang didefinisikan dengan
jelas, fungsi-fungsi yang dilakukan oleh cantuman bibliografi berkaitan dengan aneka
ragam format media, aplikasi, dan kebutuhan pengguna. Studi ini harus mencakup fungsi
cantuman bibliografi dalam arti seluas-luasnya, jadi tidak terbatas pada unsur-unsur
deskripsi saja, tetapi juga titik temu atau titik akses (nama, judul, subyek, dsb.), serta
unsur lain yang membantu dalam organisasi informasi (klasifikasi, dsb.), dan anotasi
(termasuk ringkasan dan abstrak). Pada seminar ini dalam terms of reference (TOR)
untuk studi ini ditentukan bahwa studi ini diharapkan menghasilkan:
4 “a framework that would provide a clear, precisely stated, and commonly shared
understanding of what it is that the bibliographic record aims to provide
information about, and what it is that we expect the record to achieve in terms of
answering user needs.” (FRBR, p2)
TOR juga menyebutkan bahwa tugas kedua bagi kelompok studi ini, adalah membuat
rekomendasi berkenaan dengan fungsi dasar untuk cantuman bibliografi dan data yang
harus ada dalam cantuman yang diciptakan oleh badan bibliografi nasional. TOR untuk
studi ini mendapat persetujuan dari Standing Committee of the IFLA Section on
Cataloguing pada konperensi IFLA di New Delhi tahun 1992, dan baru pada tahun 1997
final report diterbitkan dengan judul Functional Requirements for Bibliographic
Records.

Kebutuhan pengguna
Salah satu hal yang menarik dari FRBR ialah bahwa FRBR bertolak dari kebutuhan dan
kepentingan pengguna. Siapa yang dimaksud dengan pengguna? Pengguna diperkirakan
akan berasal dari berbagai kalangan. Studi ini berasumsi bahwa data yang ada dalam
cantuman bibliografi yang dibuat untuk bibliografi nasional dan katalog perpustakaan
akan dimanfaatkan oleh pengguna dengan beragam latar belakang dan kebutuhan,
misalnya: pembaca, siswa dan mahasiswa, peneliti, staf perpustakaan, penerbit,
distributor (seperti agen dan pedagang buku), pialang informasi, pejabat pengurus hak
kekayaan intelektual. Persyaratan fungsional untuk cantuman bibliografi didefinisikan
dengan menghubungkannya dengan kebutuhan pemakai dengan menganalisis tindakan
atau kegiatan yang dilakukan oleh pengguna untuk memenuhi kebutuhan tersebut lewat
penelusuran bibliografi nasional dan katalog perpustakaan, yang kemudian dalam FRBR
diidentifikasi sebagai: Find, Identify, Select, Obtain. Penjabarannya adalah:
• Menggunakan data untuk menemukan bahan yang sesuai dengan kriteria
penelusuran pengguna (misalnya, semua dokumen tentang subyek tertentu, atau
rekaman yang diterbitkan dengan judul tertentu);
• Menggunakan data yang ditemukan (retrieve) untuk mengidentifikasi suatu
entitas (misalnya untuk memastikan bahwa dokumen yang dideskripsikan dalam
suatu cantuman sama dengan dokumen yang dicari oleh pengguna, atau untuk
membedakan antara dua teks atau rekaman yang mempunyai judul yang sama);
• Menggunakan data untuk memilih suatu entitas yang cocok dengan kebutuhan
pengguna (misalnya untuk memilih teks dalam bahasa yang dimengerti pengguna,
atau untuk memilih versi program komputer yang kompatibel dengan perangkat
keras dan operating system yang tersedia bagi pengguna);
• Menggunakan data untuk memperoleh atau mengakses entitas yang
dideskripsikan (misalnya: memesan suatu publikasi, mengisi formulir
peminjaman di perpustakaan, atau mengakses online dokumen elektronik yang
tersimpan di komputer di tempat lain).

Metodologi
FRBR lebih mudah dipahami apabila kita ketahui sedikit tentang metodologi studi ini,
yaitu suatu metodologi yang didasarkan atas teknik entity analysis yang lazimnya
digunakan dalam pengembangan model konseptual untuk basis data relasional. Teknik
ini dipilih sebagai landasan metodologi studi ini sebab teknik ini memungkinkan suatu
pendekatan terstruktur untuk mengidentifikasi entitas-entitas yang penting bagi para
pengguna suatu sistem informasi. Untuk sistem temu kembali informasi (mungkin lebih
tepat: sistem temu kembali dokumen) misalnya, entitas yang penting adalah karya,
pengarang, dan subyek dokumen. Langkah berikutnya ialah identifikasi hubungan
(relationships) yang ada antara satu tipe entitas dengan tipe entitas lain, dan identifikasi
ciri atau atribut yang penting dari tiap entitas. Teknik ini oleh sebab itu juga disebut
entity-relationship analysis technique. Sesuai dengan kesepakatan untuk mengutamakan
kebutuhan para pengguna, tiap entitas, atribut, dan hubungan dipelajari dan dinilai sejauh
mana ia diperlukan untuk memenuhi salah satu kebutuhan pengguna. Yang dinilai
penting bagi pengguna akan mendapat tempat dalam cantuman bibliografi dasar.

Terminologi
FRBR, sesuai dengan TOR, juga berupaya membenahi terminologi bidang perkatalogan,
sebab kebanyakan kode cenderung menggunakan istilah-istilah yang kurang jelas,
bermakna ganda, tidak konsisten. Pembenahan akan membantu para perumus kode
pengatalogan, perancang sistem dan pengguna kode, yaitu para pustakawan dan
profesional informasi lainnya. Selama ini istilah-istilah seperti “karya”, “edisi”, “item”,
dan masih banyak istilah lain, digunakan tanpa didefinisikan dengan jelas sehingga
pengatalog ragu bagaimana menerapkan peraturan dari kode yang berlaku di tempat ia
bekerja. Merujuk ke pernyataan Jonsson di atas bahwa “the cataloging environment
today is global”, kesepakatan mengenai makna tiap istilah mutlak perlu. Yang “global”
dalam konteks pengatalogan adalah partisipasi dalam berbagai bentuk kerjasama dalam
pengatalogan. Kesepakatan ini penting sekali untuk membuka jalan menuju harmonisasi
kode, atau sebagai langkah pertama menuju kode pengatalogan internasional. Untuk
sementara tampaknya tiap negara tetap mempunyai kode pengatalogan nasional, namun
diharapkan bahwa kerangka konseptualnya sama. Oleh sebab FRBR diproyeksikan
menjadi “framework for commonly shared understanding” (Le Boeuf, 2003) yang
dimaksud, maka dengan sendirinya FRBR harus sangat teliti dalam mendefinisikan
konsep-konsep serta istilah-istilah yang mewakili konsep tersebut. Le Boeuf (2003)
memberikan contoh bahwa ketika kita menggunakan kata “buku” dalam percakapan
sehari-hari, maksud kita tidak selalu sama. Kadang-kadang misalnya yang dimaksud
ialah:
1. suatu obyek fisik yang terdiri atas setumpuk lembar kertas yang dijilid menjadi
satu (yang sewaktu-waktu mungkin dipakai untuk mengganjal kaki meja atau
pintu)
2. suatu publikasi, seperti kalau kita ke toko buku dan mencari publikasi dengan
ISBN tertentu. Asal kopi yang diberikan pada kita memenuhi kriteria yang
diminta (ISBN tertentu) dan ada dalam kondisi baik, lengkap (tidak ada halaman
yang hilang), kita menerimanya
3. suatu teks tertentu, isi intelektual suatu publikasi, seperti kalau kita bertanya:
Siapa yang menulis buku itu, atau menerjemahkan buku itu?
4. suatu yang abstrak, isi konseptual yang melandasi semua versi suatu buku, baik
versi asli, maupun terjemahannya FRBR akan menggunakan istilah berbeda-beda. Dalam contoh di atas FRBR akan memakai istilah: (1) item, (2) manifestation, (3) expression, dan (4) work.

KERANGKA UMUM FRBR
Sebagai suatu model E-R (entity-relationship), FRBR mengidentifikasi sejumlah
kelompok entitas umum (entities) yang penting dalam konteks katalog perpustakaan,
sederetan ciri (attributes) yang menjadi karakteristik kelompok-kelompok umum
tersebut, dan hubungan-hubungan (relationships) yang ada antara kelompok-kelompok
umum ini.

Entitas
Entitas atau obyek yang diidentifikasi sebagai penting bagi pengguna cantuman
bibliografi dibagi menjadi 3 kelompok (FRBR p.12-16):

Group 1: Products of intellectual or artistic endeavour
• Work
• Expression
• Manifestation
• Item

Group 2: Those responsible for the intellectual & artistic content
• Person
• Corporate body

Group 3: Subjects of intellectual or artistic endeavour
• Groups 1 & 2, plus
• Concept
• Object
• Event
• Place

Kelompok 1: Produk dari upaya intelektual atau artistik
Kelompok entitas yang paling menarik, tetapi mungkin juga agak sulit untuk dipahami,
adalah kelompok pertama. Seperti dikatakan di atas, selama ini banyak konsep yang
sebenarnya perlu dibedakan sering disatukan, dicampuradukkan, disalahtafsirkan. Diskusi
tentang dikotomi “content – carrier” dan dampaknya pada praktek pengatalogan, tidak
jarang menemui jalan buntu karena tidak ada pemahaman yang sama mengenai konsep
seperti karya, ekspresi, manifestasi, item.
Work atau karya adalah suatu entitas abstrak, hasil daya cipta intelektual atau artistik
seorang atau sekelompok orang. Karya tidak merujuk ke suatu obyek konkrit. Kita
mengenal karya lewat realisasi karya tersebut dalam bentuk ekspresi. Svenonius
(2000:35) mengutarakan bahwa konsep karya belum pernah didefiniskan dengan
memuaskan, meskipun konsep ini krusial untuk organisasi informasi. Ia antara lain
mengutip Lubetzky yang berpendapat bahwa buku muncul atau tercipta sebagai “a
dichotomous product” yaitu sebagai obyek atau medium yang konkrit yang digunakan
untuk menyampaikan karya intelektual seorang pengarang. Jadi ia membedakan antara
aspek intelektual dan fisik dari suatu entitas bibliografis, antara suatu komunikasi dan
kemasannya, dan antara sebuah pesan dan media penyampaiannya.

Expression atau ekspresi adalah realisasi intelektual atau artistik dari suatu karya dalam
bentuk notasi alfa-numerik (teks), musik, atau koreografi, suara, gerak, atau kombinasi
bentuk. Ekspresi mencakup misalnya kata, kalimat, paragraf spesifik yang merupakan
hasil dari realisasi suatu karya dalam bentuk teks. Atau nada, ucapan, dan sebagainya
hasil realisasi suatu karya musik. Macbeth adalah hasil kreativitas penulis drama Inggris
terkenal William Shakespeare. Kita bisa mengenal karya ini lewat realisasinya dalam
berbagai ekspresi, misalnya teks asli dalam bahasa Inggris zaman Shakespeare, teks
dalam bahasa Inggris modern, teks berupa terjemahan dalam berbagai bahasa lain.
Contoh lain: Karya Trout quintet gubahan Schubert dikenal orang karena terealisasi
dalam berbagai ekspresi (e), seperti dalam music score dari penggubahnyas (e1), karena
ada realisasi berbentuk ekspresi berupa permainan (performance) oleh Amadeus Quartet
dengan Menuhin pada piano (e2), atau permainan Cleveland Quartet dengan Yo-Yo Ma
pada cello (e3).

Manifestation atau manifestasi adalah entitas yang merupakan perwujudan fisik suatu
ekspresi dari suatu karya. Manifestasi bisa berbentuk naskah, buku, jurnal, peta, poster,
rekaman suara, film, rekaman video, CD-ROM. Semua rekaman Trout Quintet yang
dimainkan Cleveland Quartet dengan Yo-Yo Ma pada cello, yang berwujud piringan
hitam dengan kecepatan 33 1/3 rpm terbitan perusahaan rekaman XYZ tahun 1983,
adalah manifestasi (m1) dari suatu ekspresi. Begitu pula ketika rekaman yang sama
direlease lagi dalam bentuk CD pada tahun 1995, ada manifestasi (m2) baru.

Item adalah satu eksemplar dari suatu manifestasi, dan merupakan entitas yang konkrit.
Jika perpustakaan kita memiliki satu CD Trout Quintet yang dibawakan oleh Cleveland
Quartet, maka itu berarti bahwa perpustakaan kita punya satu eksemplar dari suatu
manifestasi Trout Quintet. Atau jika kita mau menyebutkan seluruh “silsilahnya”: CD itu
adalah eksemplar dari manifestasi (m2) yang merupakan perwujudan dari ekspresi (e3)
yang merupakan realisasi dari karya Schubert berjudul Trout Quintet.
Diagram berikut memperlihatkan bagaimana entitas kelompok ke-1 saling berhubungan.
Seymour Lubetzky (1898-2003) pakar teori pengatalogan terbesar abad ke-20, penulis Cataloging Rules
and Principles (1953). Karya ini pada tahun 1961 oleh ICCP (International Conference on Cataloguing
Principles) di Paris diterima sebagai landasan untuk Statement of Principles (lebih dikenal sebagai Paris
Principles).

Diagram 1: Group 1 Entities and Primary Relationships
Sumber: Functional Requirements for Bibliographic Records, p.13
Hubungan-hubungan yang tergambar dalam diagram ini menunjukkan bahwa suatu karya
dapat terealisasi lewat satu atau lebih ekspresi, dan sebab itu ada panah ganda pada garis
yang menghubungkan karya dengan ekspresi. Sebaliknya ekspresi adalah realisasi dari
satu karya saja, maka ada panah tunggal pada garis yang menghubungkan ekspresi
dengan karya. Suatu ekspresi bisa terwujud sebagai satu atau lebih manifestasi, dan
sebaliknya manifestasi bisa merupakan perwujudan satu atau lebih ekspresi. Suatu
manifestasi dapat terwakili oleh lebih dari satu eksemplar, tetapi suatu eksemplar hanya
bisa menjadi contoh dari satu manifestasi.

Diagram 2 memperlihatkan entitas Work – Expression – Manifestation – Item, dan
hubungan satu dengan yang lainnya sebagai hubungan bertingkat. Setiap karya (dalam
contoh ini sebuah novel) yang cukup terkenal pasti akan terealisasi dalam pelbagai
ekspresi, yaitu teks asli, terjemahan, dan edisi yang disertai catatan dan ulasan kritis, edisi
berilustrasi, dan lain sebagainya. Teks asli bisa terwujud dalam berbagai manifestasi.
Contoh ini hanya memperlihatkan tiga kemungkinan, yaitu buku tercetak atas kertas, teks
digital berformat PDF, dan HTML. Pada kategori item, yang sesungguhnya sudah sangat
spesifik, masih tetap ada kemungkinan tidak semua eksemplar sama. Di sini ada
eksemplar yang berbeda dengan yang lain karena ada tanda tangan penulis. Hal lain yang
juga menarik ialah bahwa novel yang difilmkan (The Movie) pada diagram ini
ditempatkan sejajar dengan The Novel, berarti film ini dianggap sebagai suatu karya,
bukan ekspresi dari The Novel. Menurut FRBR, modifikasi yang memerlukan upaya
intelektual dan artistik yang cukup signifikan, menghasilkan suatu karya baru.
Demikianlah parafrase, penulisan ulang, abstrak, rangkumen, adaptasi untuk anak,
parodi, variasi musik berdasarkan suatu tema, dianggap karya baru. Adaptasi suatu karya
dari satu bentuk sastra atau seni ke bentuk sastra atau seni lain juga menghasilkan karya
baru. Yee (1997) menegaskan:
Do not consider two items to be the same work if the particular way in which the
intellectual or artistic activity is expressed has changed in order to adapt it to a
new medium of expression. Examples would be the novelization of a film, the
dramatization of a novel, an etching based on a painting, or a free transcription of
a musical work.

Diagram 2: Contoh hubungan antara Work-Expression-Manifestation-Item

Kelompok 2: Penanggung jawab
Penanggung jawab bisa orang (individu) maupun badan korporasi, yaitu suatu organisasi
atau atau sekelompok individu yang bertindak sebagai suatu unit, dikenal di bawah satu
nama tertentu. Baik individu maupun badan korporasi hanya akan diperlakukan sebagai
entitas apabila individu atau badan tersebut terlibat dalam penciptaan atau realisasi suatu
karya. Peran individu sebagai entitas antara lain bisa sebagai: pengarang, penggubah,
ilustrator, editor, penerjemah, sutradara, dsb. Badan korporasi dapat juga berperan
sebagai sponsor. Diagram 3 memperlihatkan hubungan tanggung jawab antara entitas
kelompok pertama dan kedua. Disini pun garis-garis yang menunjukkan hubungan diberi
tanda panah ganda sebab hubungan antara entitas ini bersifat resiprokal. Misalnya: suatu
karya dapat diciptakan oleh satu atau lebih dari satu orang atau badan. Sebaliknya satu
atau lebih orang atau badan dapat menciptakan satu atau lebih dari satu karya.

Diagram 3: Group 2 Entities and “Responsibility” Relationships
Sumber: Functional Requirements for Bibliographic Records, 14

Kelompok 3: Subyek
Kelompok ini terdiri atas entitas yang dapat menjadi subyek suatu karya. Kelompok ini
mencakup konsep (sesuatu yang abstrak atau suatu ide), obyek (benda konkrit), peristiwa
(kegiatan atau kejadian), dan tempat (suatu lokasi). Entitas dari kelompok pertama dan
kedua dapat juga menjadi subyek. Suatu karya dapat membahas satu atau lebih karya,
ekspresi, manifestasi, eksemplar, orang, dan badan korporasi.
Diagram 4 menggambarkan hubungan antara karya dan subyeknya. Suatu karya dapat
membahas lebih dari satu subyek, misalnya konsep, obyek, peristiwa dan/atau tempat.
Sebaliknya, suatu konsep, obyek, peristiwa, dan/atau tempat dapat menjadi subyek dari
satu atau lebih karya.

Diagram 4: Group 3 Entities and “Subject Relationships”
Sumber: Functional Requirements for Bibliographic Records, p. 15

Identifikasi entitas yang menjadi fokus pengguna saat menggunakan katalog atau
bibliografi menghasilkan tiga kelompok entitas yang, seperti ditunjukkan di atas, saling
berhubungan. Tahap ini baru tahap pertama dari penyusunan model entity-relationship.
Hubungan antar entitas lewat atribut yang dimiliki atau yang “melekat” padanya akan
memperlihatkan adanya suatu jaringan hubungan yang sangat kompleks. Identifikasi
12simpul-simpul jaringan dan pemetaannya perlu dilakukan agar cantuman bibliografi
dapat menjadi sarana yang sungguh-sungguh fungsional.

 

Sumber:
Delsey, Tom. (2001) “Reassessing conventional paradigms for document description”,
dalam Guernini, Mauro and Gambari, Stefano and Sardo, Lucia (eds). Proceedings
International Conference Electronic Resources: Definition, Selection and Cataloging,
Rome. Dapat diakses lewat WWW:
http://w3.uniroma.it/ssab/er/relazioni/delsey_eng.pdf
Howarth, Lynne. (1997) “Content versus carrier”, makalah untuk International
Conference on the Principles and Future Development of AACR, Toronto, Canada,
October 23-25, 1997. Dapat diakses lewat WWW: http://collection.nlcbnc.ca/100/200/300/jsc_aacr/content/carrier.pdf
IFLA Study Group on the Functional Requirements for Bibliographic Records. (1998)
Functional Requirements for Bibliographic Records. Final Report. Munich: K.G. Saur,
1998. Juga dapat di-download dari WWW: http://www.ifla.org/VII/s13/frbr/frbr.htm
atau http://www.ifla.org/VII/s13/frbr/frbr.pdf
Jonsson, Gunilla. (2003) “The Basis for a Record in the Light of Functional
Requirements for Bibliographic Records”, IFLA Journal, v.29, no.1 (2003)
LeBoeuf, Patrick. (2003) “Brave new FRBR world”, makalah untuk IFLA Meeting of
Experts on an International Cataloging Code, 1
st
, Frankfurt, Germany, 2003. Dapat
diakses lewat WWW: http://www.ddb.de//news/pdf/papers_leboeuf.pdf
Svenonius, Elaine. (2000) The Intellectual Foundations of Information Organization.
Cambridge: MIT Press.
Yee, Martha M. (1997) “What is a work?” makalah untuk makalah untuk International
Conference on the Principles and Future Development of AACR, Toronto, Canada,
October 23-25, 1997. Dapat diakses lewat WWW: http://collection.nlcbnc.ca/100/200/300/jsc_aacr/content/carrier.pdf
============

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 23 April 2012 by in Perpustakaan.
%d blogger menyukai ini: