Yona Primadesi

Membaca, Menulis, dan Berkarya

Penelitian Fenomenologi

Penelitian Fenomenologi

Pendahuluan

Akhir abad ke-17, pemikiran filsafat terbagi kedalam dua kelompok besar yang saling bertolak belakang, yakni aliran empirisme dan aliran rasionalisme. Pada masa pertentangan aliran tersebut, muncullah filsuf Immanuel Kant yang mencoba untuk menjembatani perbedaan tersebut.Immanuel Kant berpendapat bahwa pengetahuan merupakan apa yang tampak pada diri kita, atau dikenal dengan istilah fenomena. Fenomena diartikan sebagai sesuatu yang terlihat atau muncul dengan sendirinya. Auguste Comte menjelaskan bahwa fenomena adalah fakta atau keadaan yang harus diterima dan dapat dijelaskan oleh ilmu pengetahuan.

Perkembangan pemikiran Immanuel Kant menjadi titik awal fenomena digunakan dalam pembahasan filsafat. Dengan demikian, sebagai sebuah istilah, fenomenologi telah mulai ada sejak Immanuel Kant mencoba memilah unsure-unsur yang berasal dari pengalaman (phenomena). Fenomenologi semakin berkembang ketika Hegel menggunakannya untuk menjelaskan pengertian tesis dan antithesis  yang kemudian melahirkan sintesis. Pada dasarnya, akar fenomenologi adalah pandangan-pandangan filsafat mengenai sebuah fenomena.

Fenomenologi merupakan filosofi dan sekaligus suatu pendekatan metodologi dalam penelitian yang bersifat kualitatif. Hakekatnya, fenomenologi berkenaan dengan pemahaman tentang bagaimana keseharian, dunia intersubyektif (dunia kehidupan) atau juga disebut Lebenswelt terbentuk. Fenomenologi berasal dari bahasa Yunani dengan asal suku kata pahainomenon yang berarti fenomena atau sesuatu yang tampak dan terlihat. Dalam bahasa Indonesia, biasa dipakai istilah gejala. Istilah fenomenologi diperkenalkan oleh Johann Heinrick Lambert, sedangkan tokoh pelopor fenomenologi adalah Edmund Husserl (1859-1938). 


Simpulan

Metodologi kualitatif dengan menggunakan metode fenomenologi merupakan riset terhadap dunia kehidupan orang-orang, pengalaman subjektif mereka terhadap kehidupan pribadi sehari-hari. Periset secara konsisten akan melakukan bracketing atau mengurung asumsi-asumsi pribadi peneliti sehingga peneliti mampu melihat fenomena dari sudut pandang responden. Fenomenologi berusaha mendekati objek kajian secara konstrukvis serta pengamatan yang cermat, dengan tidak menyertakan prasangka oleh konsepsi-konsepsi manapun sebelumnya.

Daftar Pustaka

Daymon&Holloway. 2002. Metode-Metode Riset Kualitatif dalam Public    Relation dan Marketing Komunikasi. Jogyakarta: Bentang.

Kuswarno, Engkus.2009. Metodologi Penelitian Komunikasi            Fenomenologi:Konsepsi, Pedoman dan Contoh Penelitiannya. Bandung:         Widya Padjadjaran.

Littlejohn, S.W. 1999. Theories of Human Communication 6th Edition. Belmont,    CA: Wadsworth.

Moustakas, Clark. 1994. Phenomenological Research Methods. California: SAGE             publications

Mujiyanto, Bambang. [200?]. Metode Fenomenologi Sebagai Salah Satu    Metodologi Penelitian Kualitatif dalam Komunikologi. Jurnal Penelitian        Komunikasi dan Opini Publik. (hal. 55-85).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 22 April 2012 by in umum.
%d blogger menyukai ini: