Yona Primadesi

Membaca, Menulis, dan Berkarya

Kode Etik Pustakawan dan Praktiknya dalam Perspektif Umum

Kode Etik Pustakawan dan Praktiknya

dalam Perspektif Umum

Pengantar

Profesi bukan sekedar pekerjaan, akan tetapi suatu pekerjaan yang juga memerlukan keahlian, tanggungjawab, dan kesejawatan. Pustakawan sebagai sebuah bentuk profesi telah ada dan memiliki kedudukan yang cukup tinggi sejak masa Mesir kuno. Profesi pustakawan pada masa itu diakui karena memiliki kompetensi, pengalaman, serta keahlian dalam berbagai bahasa. Pustakawan menjadi salah satu profesi dengan kedudukan yang cukup penting dan diperhitungkan dalam pemerintahan.

Di Indonesia, profesi pustakawan secara resmi diakui berdasarkan SK MENPAN No.18/MENPAN/1988 dan diperbaharui dengan SK MENPAN No. 33/MENPAN/1990. Pustakawan merupakan individu yang melaksanakan kegiatan perpustakaan dengan jalan memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan tugas lembaga induknya, berdasarkan ilmu perpustakaan, dokumentasi, informasi yang dimiliki melalui jenjang pendidikan formal. Dalam perkembangannya, keberadaan profesi pustakawan di Indonesia diperkuat oleh lahirnya keputusan-keputusan dan aturan professional tertulis yang berkaitan dengan kewajiban dan hak sebagai profesi dan fungsional pustakawan.

Salah satu syarat sebuah pekerjaan dapat dikatakan sebagai sebuah profesi apabila telah memiliki kode etik. Kode etik merupakan sebuah sistem norma, nilai dan aturan professional tertulis yang secara tegas menyatakan apa yang benar dan baik dan apa yang tidak benar dan baik bagi profesional. Kode etik pustakawan di Indonesia dibuat oleh lembaga Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI). Kode etik atau Etika Profesi IPI diatur dalam AD dan ART IPI.  Kode Etik Pustakawan Indonesia (KEPI) secara garis besar, dibagi menjadi tiga bagian utama, yaitu pembukaan, kewajiban-kewajiban pustakawan yang mencakup kewajiban umum, kewajiban kepada organisasi dan profesi, kewajiban sesama pustakawan, kewajiban pada diri sendiri., serta bagian yang mencakup sanksi terhadap pelanggaran kode etik.

Kewajiban-kewajiban pustakawan yang tercantum dalam kode etik tersebut, antara lain:

  1. Pustakawan menjaga martabat dan moral serta mengutamakan pengabdian dan tanggungjawab kepada instansi tenpat bekerja, bangsa dan Negara
  2. Pustakawan melaksanakan pelayanan perpustakaan dan informasi kepada setiap pengguna secara cepat, tepat, dan akurat sesuai dengan prosedur pelayanan perpustakaan, santun, dan tulus.
  3. Pustakawan melindungi kerahasian dan privasi menyangkut informasi yang ditemui, dicari dan bahan pustaka yang diperiksa dan dipinjam pengguna perpustakaan
  4. Pustakawan ikut ambil bagian dalam kegiatan yang diselenggarakan masyarakat dan lingkungan tempat bekerja terutama yang berkaitan dengan pendidikan, usaha sosial dan kebudayaan
  5. Pustakawan berusaha menciptakan citra perpustakaan yang baik di mata masyarakat
  6. Pustakawan melaksanakan AD dan ART IPI dank ode etik IPI
  7. Pustakawan memegang prinsip kebebasan intelektual dan menjauhkan diri dari usaha sensor sumber bahan pustaka dan informasi
  8. Pustakawan menyadari dan menghormati hak milik intelektual yang berkaitan dengan bahan perpustakaan dan informasi
  9. Pustakawan memperlakukan rekan sekerja berdasarkan prinsip saling menghormati dan bersikap adil kepada rekan sejawat serta berusaha meningkatkan kesejahteraan mereka
  10. Pustakawan menghindarkan diri dari menyalahgunakan fasilitas perpustakaan untuk kepentingan pribadi, rekan sekerja dan penggunaan tertentu
  11. Pustakawan dapat memisahkan antara kepentingan pribadi dan kepentingan professional kepustakawanan
  12. Pustakawan berusaha meningkatkan dan memperluas pengetahuan, kemampuan diri dan profesinalisme

 

Praktik Kode Etik Pustakawan dalam Perspektif Umum

Pustakawan sebagai sebuah profesi, telah memiliki kode etik sebagai sebuah bentuk aturan norma dan nilai yang menjaga pustakawan agar tetap bekerja dan berjalan dalam koridor profesionalisme. Idealnya, pustakawan harus menunjukkan eksistensinya sebagai sebuah profesi dengan memberikan layanan dan rasa puas kepada masyarakat, terutama pemustaka. Akan tetapi dalam praktiknya profesi pustakawan masih dipandang sebelah mata oleh hampir sebagian besar masyarakat dan bahkan pustakawan itu sendiri.

Tak jarang pustakawan terkesan masih jauh dari apa yang dituntut dan diharapkan, seperti yang tercantum dalam AD dan ART maupun kode etik IPI. Bahkan ada oknum-oknum pustakawan yang terang-terangan melanggar AD-ART dan kode etik. Hal tersebut akan menimbulkan rasa ketidaknyamanan bagi pemustaka, sehingga pemustaka enggan untuk datang kembali ke perpustakaan dan memanfaatkan produk serta jasa yang telah disediakan oleh perpustakaan.

Pelanggaran kode etik sering terjadi dan dilakukan oleh pustakawan, baik secara disengaja maupun tidak. Ketidaksesuaian kinerja pustakawan dengan apa yang telah digariskan oleh IPI dikarenakan oleh berbagai faktor, baik itu yang berasal dari internal pustakawan (kemauan, kemampuan, maupun kepribadian dan perilaku) maupun yang berasal dari faktor eksternal (institusi, kebijakan, pengahargaan, serta rewerd).

Untuk menjadi seorang tenaga pustakawan yang profesional, diwajibkan untuk mengantongi tiga komponen utama yakni, kemampuan, kemauan serta kepribadian dan perilaku.  Jika merujuk pada pengertian tenaga pustakawan professional  dalam AD dan ART IPI, maka individu baru dikatakan sebagai pustakawan apabila telah melalui jalur pendidikan formal tentang informasi, dokumentasi, dan perpustakaan atau yang disetarakan. Akan tetapi dalam praktiknya, tak jarang kita menemui pustakawan karbitan.

Pustakawan karbitan sering mejadi kendala dalam pengembangan sikap profesionalisme pustakawan. Dengan hanya menempuh satu atau dua bulan pelatihan yang berhubungan dengan perpustakaan, pustakawan karbitan terkadang merasa telah memiliki kemampuan menyamai pustakawan dengan latar pendidikan ilmu perpustakaan. Padahal, pustakawan karbitan ini hanya mengetahui sedikit tentang catalog, klasifikasi, dan layanan.

Dengan latar pendidikan di bidang informasi, dokumentasi dan perpustakaan, pustakawan diharapkan memiliki modal dasar yang cukup kuat untuk mengembangkan profesi mereka. Selain itu, keterbatasan kemampuan untuk mengaplikasikan teknologi informasi dan komunikasi dalam dunia kerja menjadi salah satu faktor penghambat perkembangan profesi pustakawan.

Pustakawan dituntut mampu mengaplikasikan teknologi informasi dan komunikasi yang sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan pemustaka. Akan tetapi dalam praktiknya, untuk menyelakan pc computer pun banyak dari pustakawan yang tidak bisa, terutama pustakawan-pustakawan yang sudah senior.

Pustakawan pun diharapkan memiliki kemampuan berbahasa diluar bahasa ibu, bahasa Inggris misalnya. Globalisasi, termasuk dibidang informasi menyebabkan perkembangan dan kebutuhan informasi yang tidak terbatas. Perpustakaan tak jarang memiliki koleksi dalam bahasa asing dan juga pemustaka dari Negara lain. Oleh karena itu, diharapkan pustakawan memiliki kemampuan berbahasa yang baik sebagai penghubung.

Selain kemampuan, pustakawan harus memiliki kemauan. Kemauan untuk mengembangkan diri demi kemajuan profesi serta kemauan untuk mengembangkan pekerjaan dan organisasi. Gairah untuk mengembangkan diri sangat kurang dirasakan dari seorang pustakawan. Pustakawan sering merasa puas dan nyaman atas apa yang telah diperoleh, sehingga pemustaka terkadang merasakan bahwa pustakawan bekerja setengah hati.

Hal terpenting lainnya yang harus dimiliki oleh seorang pustakawan professional adalah sikap dan perilaku yang mendukung pekerjaan yang dijaga oleh kode etik pustakawan. Sikap dan perilaku pustakawan ini yang sering menjadi jurang antara pustakawan dan pemustaka. Pustakawan sering merasakan bahwa pemustaka tidak bersahabat, jutek, tidak mau tahu, dan terkadang acuh terhadap pemustaka. Rogansi pun tak jarang ditunjukkan oleh pustakawan. Pustakawan bersikap sebagai superior yang menguasasi dengan baik semua koleksi yang ada. Sikap ini sering menjadikan pemustaka merasa rendah diri, malu, dan terintimidasi.

Dalam kode etik pustakawan, telah diatur bagaimana seharusnya pustakawan bersikap, baik terhadap koleksi, pemustaka, rekan sejawat, maupun masyarakat. Akan tetapi dalam kenyataannya sikap yang ditunjukkan oleh pustakawan sering berlawanan. Sikap pustakawan yang cenderung kurang professional ini disebabkan oleh berbagai faktor. Kurangnya kemampuan sering menjadikan pustakawan minder sehingga bersikap acuh terhadap pemustaka. Pustakawan berusaha menjaga jarak agar ketidakmampuannya tidak diketahui oleh pemustaka.

Disamping kemampuan, kemauan, dan perilaku pustakawan yang terkadang melanggar rambu-rambu, faktor eksternal pun tak jarang semakin memperparah penilaian terhadap profesi pustakawan sebagai profesi kelas dua. Kebijakan yang kurang mendukung, kurangnya apresiasi dan penghargaan, minimnya reward yang diberikan serta tidak adanya punishment serta sistem evaluasi yang berkala dan berkesinambungan menjadi faktor penghambat lainnya.

Menurut teori kebutuhan Maslow (Hierarcy Needs Theory), manusia baru bisa dan mampu mengaktualisasikan dirinya apabila telah terpenuhinya kebutuhan dasar dan kesejahteraan, pengakuan, dan penghargaan. Banyak dari pustakawan (terutama pegawai negeri) yang hidupnya sangat pas-passan, sehingga jangankan untuk meningkatkan kualitas kerja, untuk peningkatan kualitas hidup pun mereka harus berjuang sangat keras. Pekerjaan tidak menjadi prioritas untuk pustakawan ini.

Masyarakat yang memposisikan pustakawan sebagai profesi kelas dua menandakan bahwa kurangnya pengakuan terhadap profesi ini. Masyarakat sering memandang sebelah mata terhadap pustakawan. Pustakawan dianggap sebagai penjaga deretan buku-buku di rak perpustakaan. Pustakawan jarang dipandang dari sisi humanis.

Pustakawan pun perlu diberi reward apabila dalam pekerjaan mengalami peningkatan dan memperoleh sangsi apabila mengalami degradasi kinerja. Evaluasi terhadap kinerja pustakawan perlu dilakukan secara rutin dan berkesinambungan, sehingga pustakawan mengetahui apa yang sebaiknya ditingkatkan dan apa yang harusnya tidak lagi dilakukan dalam pekerjaan sehari-hari.

Daftar Pustaka

Achmad. 2001. Prefesionalisme Pustakawan di Era Global. Makalah                                       disampaikan pada Rapat Kerja Pusta XI IPI. Jakarta: 5                                              November 2001.

Herzberg, Frederich.  1982. The Managerial Choice : of be efficient and to                   be Human.Homewood.  Illinois : Dow – Jones Irwin.

Maslow, Abraham. 1970. Motivation and Personality. New York : Harper                                and Row Publisher.

Rusmana, Agus. 2008. Strategi Menuju Pustakawan Profesional.                                             www.scribd.com. Diakses 17 Maret 2012

 

2 comments on “Kode Etik Pustakawan dan Praktiknya dalam Perspektif Umum

  1. pena surya
    20 Desember 2012

    tulisan yang menarik mba yonaa..
    namun, saya ingin bertanya bagaimana seharusnya sikap seorang pustakawan ketika menghadapi adanya sensor atau larangan terhadap suatu bahan pustaka oleh pemerintah, padahal di sisi lain kan harus ada keterbukaan informasi publik, bagaimana menurut mba..
    trim’s🙂

  2. sri fujianti
    17 Oktober 2013

    tanpa ada dukungan yang penuh dari pemerintah sangat sulit bagi pustakwan mengembangkan diri, terutama para pustakawan di daerah…pustakwan bersemangat memajukan perpustakaan…tetapi perpustakaan di pimpin oleh orang yang memang tidak ada kemauan untuk mengembangkan perpustakaan, disamping memang tidak mempunyai latar belakang pendidikan perpustakaan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 26 Maret 2012 by in Perpustakaan.
%d blogger menyukai ini: