Yona Primadesi

Membaca, Menulis, dan Berkarya

Ulasan Artikel

Exploring access in the developing world: people, libraries and information technology in Morocco

            Artikel yang ditulis oleh Heather Lea Moulaison berbicara tentang perkembangan dan pemanfaatan akses informasi, dalam hal ini perpustakaan pada negara berkembang, khususnya Maroko.

Perkembangan informasi dan lembaga penyedia informasi, dalam hal ini perpustakaan, salah satunya di pengaruhi oleh faktor budaya. Maroko, sebagai negara yang terletak di semenanjung utara benua Afrika, memiliki latar budaya yang sangat unik. Hal ini ssangat dipengaruhi oleh kondisi geografis, sejarah, bahasa, politik, isu gender, pendidikan serta perkembangan teknologi informasi.

  1. Kondisi Geografis

Maroko terltak di bagian utara benua Afrika, sebelah utara berbatasan denganLaut tengah, sebelah selatan dengan Mauritanis, sebelah barat dengan Samudera atlantik dan laut tengah, sebelah timur dengan Aljazair. Kondisi geografis ini memberikan dampak yang cukup besar tehadap perkembangan budaya Maroko.  Maroko yang terletak di benua Afrika dengan suku bangsa asli Barber (afrika) sangat dipengaruhi oleh peradaban Eropa, khususnya Spanyol dan Prancis, serta peradaban asia, Khususnya negara-negara Arab.

2. Sejarah

Maroko telah ada sejak zaman neolitikum (8000 SM). Pada abad ke-2 M, seiring dengan jatuhnya Romawi kuno, Maroko dikuasai oleh suku-suku Vandal yang menyebabkan hilangnya sebagian besar naskah-naskah atau manuskrip sejarah Maroko. Dan ketika abad ke-7 M, seiring dengan perkembangan dan masuknya agama Islam ke Eropa, salah satunya melalui Masir dan Maroko, agama islam dan budaya arab mulai diperkenalkan dengan berasimilasi dengan kebudayaan masyarakat setempat..

3. Bahasa

Masuknya agama bangsa Arab dan agama Islam pada abad ke-7 M, memberi pengaruh yang bersar terhadap perkembangan literasi dan perpustakan di Maroko. Masyarakat mulai di perkenalkan untuk membaca dan menulis menggunakan bahasa Arab, sehingga banyak buku-buku dan hasil pemikiran bangsa Maroko terdapat dlam bahasa Arab. Selain itu, bahasa Arab berkembangan menjadi bahasa Ibu bangsa Maroko.Akan tetapi, masuknya imperialisme Perancis ke Maroko, mau tidak mau memaksa rakyat Maroko untuk menggunakan bahasa Perancis. Bahasa Perancis kemudia dijadikan sebaga bahasa Ibu, dan banyak buku-buku yang mulai diterbitkan dalam bahasa Perancis. Akan tetapi sebagian masyarakat Maroko masih menggunakan bahasa Arab, bahasa Barber, atau perpaduan antara bahasa Arab dan Perancis dalam komunikasi sehari-hari.

Di Maroko, pendidikan dasar dan menengah menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar, meskipun pada tahun ke-3 pendidikan dasar telah mulaidiperkenalkan bahasa Perancis. Perguruan tinggi pada umumnya telah menggunakan bahasa perancis sebagai bahasa pengantar, meskipun untuk beberapa departemen masih menggunakan bahasa Arab.

4. Peta politik

Kolonial Perancis di Maroko memberikan corak yg berbeda dalam perkembangan literatur Maroko. Pemerintah Perancis berusah untuk menjadikan bahasa Perancis sebagai bahasa Ibu dalam penulisan Literatur, mendirikan perpustakaan yang keseluruhan koleksinya dalam bahasa Perancis (meskipun hal ini sangat sulit dilakukan pada negara-negara di benua Afrika).

Meskipun saat ini Monarki memiliki bentuk pemerintahan Monarki Konstitusional, akan tetapi hak absoulut masih dipegang oleh raja selaku jabatan tertinggi dalam pemerintahan. Di maroko menganal sistem sensor terhadap terbitan dan tulisan yang beredar, dan hak sensor tersebut sepenuhnya dipengaruhi oleh pihak kerajaan. Sehingga tak jarang tulisan-tulisan yang dianggap merugikan pihak kerajaan akan dilarang.

5. Isu Gender

Seperti halnya negara-negara Arab lainnya, Maroko merupakan negara yang masih belum memberika kebebasan kepada kaum perempuan untuk berpartisipasi aktif dalam berbagaikegiatan, salah satuna menulis. Hak-hak perempuan masih sangat dibatasi.

6. Pendidikan

Pendidikan di Maroko telah cukup maju, bahkan menurut UNICEF, Maroko merupakan negaa Afrika dengan sistem pendidikan yang bisa dijadikan model untuk negara-negara afrika lainnya.

7. Teknologi Informasi dan Komunikasi

Negara Maroko merupakan negara yang aktif mengikuti perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi. Berbagai alat-alat informasi dan telekomunikasi sudah mulai digunakan dan dikembangkan di Maroko, seperti penggunaantelpon selular, dan internet, meskipun dalam praktiknya hal tersebut masih sangat dibatasi oleh pihak kerajaan.

 

Tidak bisa dipungkiri bahwa budaya sangat berpengaruh terhadap perkembangan literasi dan layanan informasi di suatu negara. Sebagai contoh, Maroko, perkembangan literasi Maroko sempat mengalami disorientasi karena pengaruh politik dan bahasa. Banyaknya bahasa yang diperkenalkan di Maroko (Barber, Arab, Perancis, Gabungan antara Arab dan Perancis) mengakibatkan tidak adanya standar baku dalam penulisan literasi. Hal ini pun berdampak pada layanan informasi. Tidak seua orang Maroko bisa bahasa Arab, perancis atau keduanya, sehingga tak jarang antara pustakawan dan pemustaka sering terjadi miscommunication.

Pengaruh raja dan kerajaan yang cukup besar di Maroko, menyebabkan perkembangan literai dan layanan informasi menjadi terhambat. Sensor yang cukup keras terhadap literasi yang terkesan anti pemerintah akan segera dibredel atau dilarang. Literasi-literasi yang terbit diharapkan menunjang kepentingan politik kerajan. Sehingga tak jarang pada negara-negra maju, lebih sering kita junpai literasi dari negara-negara eropa atau amerika. Meskipun negara Maroko telah menerapkan teknologi informasi an komunikasi dalah berbagai aspek kehidupan dan khususnya peprustakaan, akan tetapi penggunaannya masih sangat dibatasi dan diawasi oleh pemerintah dan kerajaan.

Maroko pada tahun 1787, meupakan negara pertama yang mengakui kedaulatan Amerika sebagai negara, hal ini berakibat pada hubungan bilateral kedua negara yang sangat baik, salah satunya di bidang informasi dan perpustakaan. Maroko banyak memperoleh bantan, bik berupa instrumen, koleksi, maupun pegetahuan dalam proses pengembangan perpustakaan dan akses informasi.

Untuk menghasilkan ahli-ahli informasi dan perpustakaan, Maroko telah memilki jurusan perpustakaan dan informasi di beberapa universitas. Akan tetapi departemen tersebut tidak termasuk kedalam kementrian pendidikan, akan tetapi masuk kedalam kementrian perencanaa. Ilmu informasi dan peprustakaan di Maroko menggunakan bahasa Perancis sebagai bahasa pengantar, serta menerpkan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan negara tersebut.

Hal ini pada dasarnya bertentangan dengan pendapat Guys St. Clairs (2003), yang menyatakan bahwa untuk membentuk knowledge services-world class, kita harus memilki persamaan persepsi dalam pendidikan formal, salah satunya kurikulum, tanpa mengabaikan budaya yang berlaku pada masyarakat setempat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 19 Desember 2011 by in ICT perpustakaan dan Pusat Informasi.
%d blogger menyukai ini: