Yona Primadesi

Membaca, Menulis, dan Berkarya

Khalil Gibran

  1. KHALIL GIBRAN BIOGRAFI, DAN KARYANYA 

Khalil Gibran lahir pada tanggal 6 Desember 1883 di kawasan Wadi Qadisha di Bisharri, sebuah kota kecil di Libanon Utara yang terletak di kaki pegunungan Cedar. Keluarga Gibran menganut agama Kristen Maronit, suatu mazhab yang bernaung di bawah Gereja Katolik Roma, tetapi tidak menggunakan liturgi bahasa latin tetapi menggunakan bahasa Siriania atau Aramia.

Ayahnya Khalil Gibran seorang yang tegar tetapi berpenghasilan sangat terbatas dan tingkat pendidikannya pun tidak berarti, ia bekerja sebagai penagih pajak tetapi ia juga kecanduan pada arak dan judi ia sering mabuk dan berkelahi serta berlaku kasar terhadap istri dan anak-anaknya. Gibran sendiri secara terselubung menggambarkan kekerasan watak ayahnya, sekaligus mengaguminya, dalam syairnya.

“aku mengaguminya karena kekuatannya, kejujurannya dan integritasnya. Keberaniannya untuk tampil dengan kesejatian dirinya, keterusterangannya dan sifatnya yang pantang mengalah itulah yang sering menjerumuskannya dalam berbagai kesulitan”.

Ibunya Kamila Rahmi, anak seorang pendeta Maronit yaitu, Pendeta Istifan sebelumnya pernah kawin dengan suaminya yang pertama bernama Abdul Salam dan mempunyai anak yang bernama Boutros (peter) dan mereka tinggal di Brazil, setelah suami pertamanya meninggal karena kesusahan hidup Kamila Rahmi pulang ke Lebanon dan akhirnya kawin dengan Khalil Gibran dan mempunyai mempunyai tiga orang anak, Gibran, Mariana, Sultana. Ibunya ini seorang yang memiliki kemauan keras, tapi lemah lembut tutur katanya, cerdasdan juga menguasai beberapa bahasa seperti Arab, Inggris dan Perancis.

Karena sulitnya hidup diLebanonpada masa itu apalagi setelah meninggalnya ayah tirinya akhirnya Peter minta izin kepada ibunya untuk merantau ke Amerika, ibunya memberi izin dan juga meminta Peter untuk mengusahakan agar ibunya dan adik-adiknya ikut kesana. Akhirnya pada tahun 1894 Kamila dan seluruh keluarganya pindah keBoston. Mereka tinggal di sebuah apartemen kecil didaerahChinaTown, suatu daerah kumuh, dengan lorong-lorong sempit dan berpenduduk padat. Kepindahan ini memang merubah keadaan ekonomi keluarga mereka tetapi tidak secara kehidupan dimana mereka tinggal, Seperti terlihat dalam tulisannya :

“peradaban palsu ini telah menegangkan dawai jiwakita hingga melampaui titik ketahanannya. Kita harus berangkat sebelum sebelum fajar menyingsing. Tetapi kita harus tetap bersabar menanti saat keberangkatan. Kita harus toleran”. (A Self Portrait, 70)

Kemudian : “Sejak tiba dikota yang rusuh ini aku hidup dalam neraka berbagai teka teki duniawi. Kalau bukan demi adikku, niscaya kutinggalkan segalanya dan aku kembali kepertapaanku, dan kubersihkan debu bumi dari kakiku” (A Self Portrait 73).

Gibran juga bersekolah disana dan bakat-bakat seninya semasa bersekolah di Boston Gibran sudah mencuat kemahirannya dalam bidang kesusteraan terutama bahasa dan lukisannya, pada tahun 1896 karena rindu pada Lebanon akhirnya Gibran pulang dan bersekolah di Madrasah Al-Hikmah untuk memperdalam bahasa dan kesusteraan Arab. Pada tahun 1901 Gibran lulus dari madrasah Al-Hikmah, dan mulailah ia mengembara untuk belajar seni ke Yunani, Italia, Spanyol, dan akhirnya menetap di Paris. Pada usia 18 tahun inilah lahir karyanya Spirits Rebellious yang menyerang tatanan hukum yang tidak adil dan menyerang kesewenangan penguasa, juga kecaman keras terhadap gereja. Buku ini menyebabkan diasingkan dariLebanondan buku-bukunya dibakar.

Pada tahun 1902 Gibran meninggalkan Paris menuju Boston karena ibunya sakit keras, selama mendampingi ibunya yang semakin payah pada tanggal 4 April 1902 adiknya yang sangat dicintainya Sultana meninggal karena TBC, dan setahun kemudian Peter kakak tirinya yang menjadi tilang punggung keluarganya meninggal karena TBC, 4 bulan kemudian ibunya meninggal karena TBC (ada yang mengatakan karena kanker).

Mengingat lingkungan tempat mereka tinggal yang kumuh tersebutlah, maka penyakit mematikan tersebut bisa menjangkiti keluarga mereka selanjutnya Gibran tinggal berdua dengan Mariana, dia bekerja sebagai penjilid buku sedangkan adiknya sebagai penjahit, disamping itudia tetapmenulis dan melukis, mereka harus hidup hemat. Hampir secara bersamaan lukisannya yang sedang ditampilkan di pameran terbakar. Dengan kejadian-kejadian ini Gibran merasa sangat terpukul.

Pengaruh ibu pada diri Gibran sangat kuat dan besar dan sering kali muncul dalam banyak tulisannya, seperti dalam bukunya sayap sayap patah  tak luput dari besarnya pengaruh ibu dalam dirinya :

“Ibu adalah segalanya dalam hidup ini, dia adalah pelipur di saat kesedihan dan pemberi harapan di saat kedukaan serta kekuatan disaat kelemahan. Ia adalah pancaran kasih saying, ketangguhan, dan ampunan. Orang yang kehilangan ibunya berarti kehilangan dada tempat menyandarkan kepalanya, tangan yang memberkati, dan mata yang menjaga dirinya”. (Broken Wing 76-77)

“kalau bukan karena ibu-perempuan, saudara-perempuan, dan tema-perempuan, maka mungkin aku masih tertidur di antara mereka yang mengganggu ketenangan alam dengan dengkurnya”. (A Self Portrait 84)

Sesudah masa suram itu Gibran kembali bangkit dan makin produktif dengan karya-karyanya yang baru. Baik lukisan maupun tulisan kemudian dia merampungkan dan menyempurnakan tulisannya yang dirancangnya sejak bersekolah di Al-Hikmah yaitu Sang Nabi yang kemudian ditulis dalam bahasa Inggris (The prophet), damdi terbitkan pada tahun 1923.

Semua peristiwa diatas menambah rasa bersalah Gibran karena hasratnya itu telah memperburuk kondisi keluarganya yang berakibat kehilangan kakak,ibu dan seorang adiknya. Dan rasa bersalah tersebut melekat sampai akhir hidupnya. Dan beban ini dia tumpahkan dalam bentuk karya seni baik itu lukisan maupun tulisan,penderitaan batin ini pernah dia tuliskan seperti :

“Aku terlahir dengan anak panah tertancap dijantungku, dan dicabutnya sakit sekali sedangkan dibiarkanpun sakit…….. Aku hidup dalamdiriku sendiri,seperti tiram yang berusaha membentukmutiara dari jantungnya sendiri. Tetapi seorang berkata mutiaratak lain adalah penyekit dari tiram itu sendiri”.

Karena kerja kerasnya dalam menulis dan melukis tersebut sering kali dia lupa waktu, ditambah kebiasaan buruknya minum kopi dan merokok menambah lemahnya tubuhnya yang selama ini memang tidak begitu kuat. Teman-temannya menyarankan untuk kembali ke Lebanon dan Dia menyetujuinya tetapi niat ini tidak pernah terlaksana mengingat kondisi kesehatannya yang memburuk, akhirnya pada 10 April 1931 menghembuskan napas terakhirnya dengan penyakit TBC dan Liver seperti kematian ibu dan saudaranya terdahulu.

Walaupun pada masa awal-awal dia menulis, karyanya banyak yang ditentang, dibakar bahkan dia sendiri dilarang untuk pulang ke Lebanon tetapi akhirnya karena di dunia terutama dunia Barat dan lainnya karyanya sangat terkenal dan selalu dicari para pengagumnya, akhirnya pemerintah Lebanon menyadari kekeliruannya sehingga jasadnya diminta dibawa ke Lebanon seperti yang diimpikan Gibran apabila meninggal untuk dikubur di Biara Mar Sarkis tempat dulu dia sering menyendiri.

B. KRITIK SOSIAL YANG TERDAPAT DALAM KARYA-KARYA GIBRAN

Sebagai seorang seniman yang sangat mencintai tanah airnya Gibran sangat terpengaruh oleh keindahan Wadi Qashi dan Hutan cedar tempat dia dilahirkan dan masa kecilnya, sehingga dalam banyak tulisannya sangat jelas pengaruh tersebut. Apalagi kondisi sosial masyarakatLebanonpada waktu itu yang sangat memprihatinkan, dimana golongan berkuasa sewenang-wenang terhadap rakyat dan penderitaan yang tak kunjung hilang bagi kaum lemah.

Keindahan dan kekayaan alamLebanontelah membuat banyak bangsa-bangsa didunia tergiur dan berhasrat untuk memiliki dan menguasainya, sehinggaLebanondari dulu selalu menjadi incaran untuk dijajah sampai akhir hayat Gibran Lebanoin masih merupakan pusat pertarungan kekuasaan. Kecintaan Gibran terhadapLebanonbisa dilihat dari karyanya tentangLebanondan bagaimana Dia menggambarkanLebanonyang diidamkannya danLebanonsetelah tercabik-cabik karena pertarungan kekuasaan. Seperti dalam Lebanonku Lebanonmu:

Lebanonku adalah puisi

Barisan bukit-bukit dan gunung menjulang tinggi

Lembah yang anggun menggemakan lonceng

Gereja dan desahananak sungai

 

Lebanonku adalah doa-doa bersayap

Membumbung kelangit ketika penggembala

Menggiring ternaknya ke padang rumput

Di kala pagi, dan para petani pulang dari kebun

Di kala petang

 

Lebanonku bunga kenangan dari seorang dara

Untuk rembulan, dannyanyian gadis-gadis

Di kebun anggur atau penggilingan

 

Lebanonku adalah kuil tempat jiwaku berlindung

Saat gemetar ketakutan merenungkan peradaban

Yang berlari kencang diatas roda-roda goyah

 

Lebanonku adalah pandangan kemasa depan

Kuncup muda yang tumbuh dan bergerak

Kematangan dan hikmat zaman

 

Lalu tentang perebutan kekuasan diLebanon:

Lebanonmu adalah Lebanon politis, problem

Internasional yang tak kunjung habis

 

Lebanonmu adalah papan catur, tempat bermain

Para kardinal dan jenderal

 

Lebanonmu muslihat srigala ketika bertemu heina,

Dan siasat heina ketika melihat singa

 

Lebanonmu kumpulan dari pelabuhan,para buruh

Dan para penganggur

 

Manusianya hanya ada dua pembayar pajak

Dan pengumpulnya

 

Itu Lebanonmu bukan Lebanonku.

 

Karya karya Gibran banytak yang merupakan kritik sosial terhadap keadaan negeri dan masyarakatnya, dalam karyanya terdapat sikap dan pandangannya yang tegas mengenai reformasi social dan dihormatinya hak dan martabat manusia sebagai sesama. Dalam masyarakat tidak dibenarkan ada yang terpilih dan ada yang tersisih, kekuasaan berdasarkan keturunan, kedudukan, kekayaan,kepangkatan. Kritiknya juga terhadap kesenjangan social yang tinggi adalah sumber ketidak adilan karena itu baginya hukumyang dibuat manusia tak lebih sebagai kebenaran yang diabdikan bagi kepentingan penguasa, sedangkan Tuhan dan alam mempunyai yang berlaku adil bagi sesama manusia dengan tidak melihat pangkat dan derajatnya.

Seperti dalam tulisannya yang berjudul jeritan dari Liang Kubur, dalam Spirit Rebellious dikisahkan tentang putusan hukuman mati oleh pengadilan bagi 3 orang : pembunuh, seorang yang berselingkuh, dan seorang pencuri. Yang pertama membunuh petugas pajak untuk membela seorang wanita yang terancam akan dibunuh sipetugas jika tidak sanggu melunasi pajak yang dibebankan kepadanya. Yang kedua, seorang wanita yang berselingkuh karena dia sudah mempunyai kekasih tetapi dipaksa kawin dengan orang tua yang sama sekali tidak dicintainya. Yang ketiga pencuri yang mencuri karena anak-anaknya hampir mati kelaparan. Dalam kasus ini Gibran menunjukkan betapa hukum buatan manusia justru bertentangan dengan rasa keadilan.

Kemudian masih dalam bukunya Spirit Rebellious, khususnya tentang cerita Khalil si Murtad, yang menceritakan bagaimana para biarawan hidup dengan segala kemegahan yang terselubung dalam jubah kebiarawan mereka dan makanan yang mereka makan itu merupakan derma dan hasil keringat yang disumbangkan oleh orang miskin yang taat beragama.

Kemudian dalam Tears and Laughter pada cerita Si Penjahat diceritakan bagaimana perputaran nasib sipenjahat dari sebelumnya rakyat kecil yang susah mencari pekerjaan dan selalu ditolak akhirnya kelaparan dan mengemis tetapi dipandang rendah dan digunjingkan masih kuat tetapi malas, akhirnya dia menjadi penjahat dengan mencuri,  merampok dan membunuh tetapi setelah kaya karena kejahatannya dia  justru disanjung dan dihormati.

Dalam Sayap Sayap Patah diceritakan bagaimana kekayaan Faris Affandi telah membuat hati banyak orang tergiur untuk memilikinya, begitu juga dengan Pendeta Balus Galib,karena kekuasaan Pendeta yang sangat besar pada waktu itu akhirnya Pendeta bisa menjodohkan keponakannya Mansur Bay Galib (seorang pemabuk, penjahat dan penyeleweng) dengan anak semata wayang Faris Affandi bernama Selma Karami, tujuannya hanya untuk mendapatkan harta bapak Selma setelah harta didapat maka Selmapun dicampakkan.

Disamping itu banyak lagi karya-karya Gibran lainnya yang dibuat sebagai kritik sosial terhadap masyarakat dan pemerintahan serta ketidak adilan dan ketimpangan yang terjadi di masyarakat pada waktu itu. Dan dalam mengungkapkan ketidak setujuannya terhadap ketimpangan tersebut dia membuatnya dalam bahasa yang sangat indah sehingga membuat pembacanya tidak bosan membacanya. Dan secara umum karyanya memuat tentang Tuhan, Alam,Cinta dan Keindahan,dan didalamnya banyak terdapat kritikkan terhadap masyarakat, pemerintah dan ketidak adilan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 19 Desember 2011 by in umum.
%d blogger menyukai ini: