Yona Primadesi

Membaca, Menulis, dan Berkarya

RUANG PUBLIK JURGEN HARBERMAS

Konsep Perpustakaan Sebagai Ruang Publik (Public Sphere) Ditinjau dari

Teori Public Sphere Jurgen Harbermas

 

Istilah post-modernisme lahir pada paruh kedua abad ke-20, berkisar antara  tahun 1960 hingga tahun 1990. Lahirnya post-modernisme ditandai dengan lahir dan berkembangnya era informasi dalam masyarakat yang mengakibatkan perubahan-perubahan dalam fenomena sosial-budaya masyarakat. Seperti yang dinyatakan oleh Akhyar, bahwa salah satu ciri sosial-budaya masyarakat post-modernisme ditandai dengan lahirnya era mode informasi. Era mode informasi ini memungkikkan masyarakat untuk mengorganisir dan menyebarkan informasi dalam masyarakat (Akhyar, 2011).

Dinamika kebutuhan dan ketergantungan terhadap informasi menyebabkan perubahan dalam masyarakat, seperti perubahan estetis, kultural, dan ekonomi. Proses perubahan ini kemudian melahirkan istilah masyarakat informasi atau information society. Konsep masyarakat informasi itu sendiri muncul pada awal tahun 1970.

Daniel Bell menggunakan istilah post-industrial society untuk menyebut masyarakat informasi, yaitu pergantian produksi barang-barang kepada sistem pengetahuan dan inovasi pelayanan sebagai strategi dan sumber informasi masyarakat (Bell, 1973). Menurut William J. Martin, masyarakat informasi merupakan suatu kedaan masyarakat dimana kualitas hidup, prospek untuk perubahan sosial dan pembangunan ekonomi bergantung pada peningkatan informasi dan pemanfaatannya (Martin, 1995).

Salah satu saluran sumber dan saluran informasi yang umum di dalam masyarakat adalah perpustakaan. Perpustakaan merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang merefleksikan perubahan yang terjadi di masyarakat. Perpustakaan atau library didefinisikan sebagai pusat media, pusat belajar, sumber pendidikan, pusat informasi, pusat dokumentasi dan pusat rujukan (The American Library Association dalam Mahmudin, 2006)

Darmono menyatakan bahwa perpustakaan adalah salah satu unit kerja yang berupa tempat untuk mengumpulkan, menyimpan, mengelola, dan mengatur koleksi bahan pustaka secara sistematis untuk digunakan oleh pemakai sebagai sumber informasi sekaligus sebagai sarana belajar yang menyenangkan (Darmono, 2001: 2). Perpustakaan memiliki fungsi informasi, edukasi, kebudayaan dan rekreasi bagi masyarakat. Di perpustakaan, informasi dikumpulkan, diolah dan disediakan untuk memenuhi kebetuhan  masyarakat. Perpustakaan terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat, tanpa memandang agama, ras, maupun warna kulit. Setiap anggota masyarakat memiliki hak untuk datang ke perpustakaan dan memanfaatkan informasi serta fasilitas yang disediakan oleh perpustakaan, terutama di perpustakaan umum.

Konsep perpustakaan yang terbuka bagi umum dan semua lapisan masyarakat ini memiliki kemiripan dengan konsep ruang publik Jurgen Harbermas. Ruang publik bisa diartikan sebagai sebuah tempat untuk berkumpulnya masyarakat guna berdiskusi terntang berbagai permasalahan yang terjadi, dimana semua masyarakat memiliki persamaan dan kesataraan serta tanpa adanya pengaruh atau tekanan dari pihak yang berkuasa.

Bagi Habermas, ruang publik bisa dikatakan sebaga sebuah ruang, baik abstrak maupun ruangan fisik, yang berperan dalam pembentukan opini yang bersifat non-pemerintah serta terlepas dari kendali pemerintah. Hal tersebut didasarkan pada hakikat masyarakatsebagai mahkluk sosial, dimana masyarakat memiliki hak dan kemampuan untuk berargumen dan mengemukakan pendapat dan pemerintah berfungsi sebagai pelaksana keputusan masyarakat tersebut (Pendit, 2007).

Perpustakaan, sebagai suatu lembaga yang bertujuan untuk mengolah dan melestarikan informasi agar berdaya guna bagi masyarakat, menjadi sebuah wadah yang memungkinkan masyarakat untuk berinteraksi dan berkomunikasi tanpa memperhatikan kedudukan atau jabatan individu dalam masyarakat. Akan tetapi dalam praktiknya, tidak keseluruhan konsep ruang publik yang dikemukakan oleh Habermas bisa diimplementasikan di perpustakaan. Pengaruh dari pemeritah, sensor, serta keterbatasan dalam mengemukakan pendapat merupakan hal-hal yang umum ditemukan pada sebuah perpustakaan, terutama perpustakaan umum, sehingga perpustakaan belum sepenuhnya bisa dikatakan sebagai ruang publik yang ideal.  


c.       Simpulan

Perpustakaan, sebagai suatu lembaga yang bertujuan untuk mengolah dan melestarikan informasi agar berdaya guna bagi masyarakat, menjadi sebuah wadah yang memungkinkan masyarakat untuk berinteraksi dan berkomunikasi tanpa memperhatikan kedudukan atau jabatan individu dalam masyarakat. Konsep perpustakaan yang terbuka bagi umum dan semua lapisan masyarakat memiliki kemiripan dengan konsep ruang publik Jurgen Harbermas.

Perpustakaan secara umum, bisa dikatakan sebagai sebuah ruang publik, karena perpustakaan merupakan sebuah lembaga yang memungkin masyarakat untuk bertemu, berdiskusi, serta memenuhi kebutuhan informasi tanpa ada pembatasan gender, usia, pendidikan, maupun jabatan. Akan tetapi perpustakaan belum bisa dikatakan sebagai sebuah ruang publik yang ideal, sebagaimana yang dikemukakan oleh Jurgen Habermas karena ruang publik yang ideal hanya bisa diwujudkan pada tataran masyarakat yang madani.

Daftar Referensi

Darmono.(2001). Manajemen dan Tata Kerja Perpustakaan. Jakarta: Gramedia

Habermas, Jurgen. (1989). The Stuctural Transformation of The Public Sphere. Britain:        Polity Press

Kuntowijoyo. (1987). Budaya dan Masyarakat. Jogyakarta: Tiara Wacana

Laugu, Nurdin. (Agustus 2011). Media dan Ruang Publik dalam Padangan Jurgen Habermas. http://www.adia-adab.org. 1 November 2011

Martin, William. J. (2003). Global Infprmation Society. London: Aslib Gower.

Nuroho, Wahyu. ( Maret 2011). Urgensi Public Sphere Bagi Masyaakat Modern    Perkotaan dan Pedesaan. www. Kolomsosiologi.com. 1 November 2011.

Pendit, Putu Lexman.(Februari 2007). Bisakah Perpustakaan Umum Menjadi         Ruang Publik. www. Kepustakawanan.blogspot.com. 24 Oktober 2011

Sumaryanto, Yohanes. (2008). Ruang Publik Jurgen Habermas dan Tinjauan atas             Perpustakaan Umum Indonesia. Jakarta: Universitas Indonesia.

One comment on “RUANG PUBLIK JURGEN HARBERMAS

  1. ayu
    7 Desember 2011

    …..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 7 Desember 2011 by in Perpustakaan.

Navigasi

%d blogger menyukai ini: