Yona Primadesi

Membaca, Menulis, dan Berkarya

PROFIL PENERAPAN AUTOMASI PERPUSTAKAAN DI SUMATERA BARAT

Profil Automasi Perpustakaan di Wilayah Sumatera Barat

Peluang dan Tantangan

1.1. Latar Belakang

Perpustakaan merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang merefleksikan perubaan yang terjadi di masyarakat. Perpustakaan atau library didefinisikan sebagai tempat buku-buku yang diatur untuk dibaca dan dipelajari atau dipakai sebagai bahan rujukan (The Oxford English Dictionary). Istilah perpustakaan juga diartikan sebagai pusat media, pusat belajar, sumber pendidikan, pusat informasi, pusat dokumentasi dan pusat rujukan (The American Library Association dalam Mahmudin, 2006)

Darmono menyatakan bahwa perpustakaan adalah salah satu unit kerja yang berupa tempat untuk mengumpulkan, menyimpan, mengelola, dan mengatur koleksi bahan pustaka secara sistematis untuk digunakan oleh pemakai sebagai sumber informasi sekaligus sebagai sarana belajar yang menyenangkan (Darmono, 2001: 2). Secara lebih umum, Yusuf dan Suhendar menyatakan bahwa perpustakaan adalah suatu tempat yang didalamnya terdapat kegiatan menghimpun, mengelola, dan menyebarluaskan segala macam informasi, baik yang tercetak maupun yang terekam dalam berbagai media seperti buku, majalah, surat kabar, film, kaset, tape recorder, video, komputer, dan lain-lain (yusuf&suhendar, 2005:1). Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahawa peprustakaan merupakan suatu bentuk organisasi yang memiliki tugas untuk mengumpulkan, mengolah, menyajikan, dan melayani kebutuhan informasi para pengguna perpustakaan.

Perkembangan Information and communication technology (ICT) yang telah menyebar kesemua aspek kehidupan, memberikan tuntutan kepada semua pihak agar mampu menciptakan sebuah perpustakaan yang ideal sesuai dengan zaman dan kebutuhan penggunanya. Akibatnya, perpustakaan sebagai institusi pengelola informasi sudah seharusnya terjamah penerapan teknologi informasi. Perkembangan ICT melahirkan sebuah perpustakaan berbasis komputer. Penerapan teknologi informasi di perpustakan saat ini sudah menjadi sebuah ukuran untuk mengetahui tingkat kemajuan dari sebuah perpustakaan. Paradigma lama tentang perpustakaan dengan berbagai kerumitannya dalam melakukan pengelolaan perpustakaan harus dihapuskan dengan dikembangkannya perpustakaan berbasis teknologi informasi.

Salah satu bentuk penerapan teknologi informasi di perpustakaan yaitu dengan adanya automasi perpustakaan dan perpustakaan digital. Sistem automasi perpustakaan merupakan pengintegrasian antara bidang pekerjaan administrasi, pengadaan, inventarisasi, katalogisasi, pengolahan, sirkulasi, statistik, pengelolaan anggota perpustakaan, dan lain-lain. Digital library atau sistem perpustakaan digital merupakan konsep menggunakan internet dan teknologi informasi dalam manajemen perpustakaan.

Pengembangan perpustakaan berbasis teknologi informasi, bagi tenaga pengelola perpustakaan dapat membantu pekerjaan di perpustakaan melalui fungsi sistem otomasi perpustakaan, sehingga proses pengelolaan perpustakaan lebih efektif dan efisien. Sedangkan bagi pengguna perpustakaan dapat membantu mencari sumber-sumber informasi yang diinginkan dengan menggunakan katalog on-line yang dapat diakses melalui intranet maupun internet, sehingga pencarian informasi dapat dilakukan kapan pun dan di mana pun, melalui digital library.

Dengan dikembangkan perpustakaan yang berbasis pada teknologi informasi dan komunikasi (ICT based) baik dalam sistem automasi perpustakaan maupun digital library, diharapkan dapat memberikan kenyamanan kepada anggota perpustakaan dan memberikan kemudahan kepada tenaga pustakawan dan pengelola perpustakaan, sekaligus kemudahan untuk menerapkan strategi-strategi pengembangan perpustakaan serta dapat meningkatkan citra perpustakaan dalam memberikan layanannya terhadap pemakai dilingkungannya.

Akan tetapi, dalam praktiknya banyak kendala yang dihadapi dalam pengembangan perpustakaan berbasis ICT ini. Selain sumber daya yang terbatas, pustakawan, pemustaka, media, kondisi sosia-budaya, kebijakan pemerintah dan kondisi geografis pun turut berperan dalam mengembangakan sebuah perpustakaan yang berbasis ICT ini.

Sumatera Barat sebagai salah satu propinsi di pulau Sumatera bagian tengah telah mulai menerapkan ICT di berbagai perpustakaan, baik perpustakaan milik pemerintah maupun perpustakaan non pemerintah, dan mulai berkembang sejak tahun 1997. Idealnya, keseluruhan perpustakaan di wilayah Sumatera Barat tersebut dalam kurun waktu 13 tahun telah terintegrasi dalam sebuah jaringan perpustakaan. Akan tetapi hal tersebut belum terlaksana. Masih banyak perpustakaan yang baru akan menerapkan automasi perpustakaan atau bahkan  ada perpustakaan yang dalam kegiatan sehari-hari masih menggunakan sistem pengolahan yang bersifat manual.

            Oleh karena itu, melalui makalah ini penulis bermaksud mengangkat wacana tentang penerapan ICT dalam bidang automasi perpustakaan pada perpustakaan di wilayah Sumatera Barat serta peluang dan kendala yang dihadapi dalam pengembangan system automasi tersebut.

2.1.  Automasi Perpustakaan

Salah satu gejala yang timbul akibat perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang cukup pesat yaitu dengan adanya perubahan perilaku masyarakat dalam proses pencarian informasi. Masyarakat dituntut untuk lebih selektif dalam memanfaatkan teknologi informasi untuk mengelola dan memperoleh informasi yang sangat tidak terbatas tersebut. Perpustakaan sebagai salah satu institusi atau lembaga yang memiliki fungsi guna memenuhi kebetuhan informasi masyarakatnya pun harus sejalan dengan perkembangan tersebut. Salah satu bentuk kongkrit kepedulian perpustakaan terhadap ledakan informasi, perkembangan teknologi informasi, dan kepuasan masyarakat penggunanya, adalah dengan diterapkannya sistem automasi di perpustakaan.

Lasa H.S. menyatakan bahwa automasi perpustakaan merupakan pemanfaatan mesin, komputer, dan peralatan elektronik lainnya untuk memperlancar tugas-tugas perpustakaan (Lasa, 1998). Sementara itu wahyudi menyebutkan bahwa automasi perpustakaan adalah pemanfaatan komputer untuk pengelolaan aktifitas perpustakaan yang menyangkut pengadaan bahan pustaka, pengelolaan dan pelayanan (Wahyudi, 1999). Nur berpendapat, automasi perpustakaan adalah proses pengelolaan perpustakaan dengan menggunakan bantuan teknologi informasi (Nur, 2007).

Selain itu, istilah automasi perpustakaan juga dikemukakan oleh beberapa ahli lainya, seperti Harrod yang berpendapat bahwa automasi perpustakaan merupakan pengorganisasian mesin untuk mengerjakan tugas-tugas rutin perpustakaan, sehingga hanya dibutuhkan sedikit campur tangan manusia (Harrod, 1990:47). Sulistyi Basuki berpendapat bahwa automasi mencakup konsep proses atau hasil membuat mesin swatindak dan atau swakendali dengan menghilangkan campur tangan manusia dalam proses tersebut ( Sulistyo-Basuki, 1994: 96).

Jadi dapat disimpulkan bahwa kegiatan automasi perpustakaan merupakan sebuah proses pengelolaan perpustakaan dengan menggunakan bantuan teknologi informasi sehingga menciptakan efisiensi dan efektifitas dalam pekerjaan.

Dengan bantuan teknologi informasi ini, maka beberapa pekerjaan manual dapat dipercepat dan diefisienkan. Selain itu proses pengolahan data koleksi menjadi lebih akurat dan lebih cepat ditelusur kembali. Dengan demikian para pustakawan dapat menggunakan waktu lebih untuk mengembangkan perpustakaan. Menurut Sophia, penerapan automasi di perpustakaan ini memiliki beberapa manfaat, diantaranya:

  1. Mempercepat proses temu kembali informasi
  2. Memperlancar proses pengolahan, dan pengadaan bahan pustaka
  3. Mempermudah komunikasi antar perpustakaan
  4. Menjamin pengelolaan data administrasi perpustakaan (Sophia, 1998).

Sistem automasi perpustakaan yang baik adalah sistem yang terintegrasi, mulai dari pengadaan bahan pustaka, pengolahan, sistem temu kembali, sistem sirkulasi, sistem keanggotaan, pengaturan denda keterlambatan, dan sistem reporting aktifitas perpustakaan dengan berbagai parameter lainnya. Sistem automasi perpustakaan akan lebih sempurna lagi apabila dilengkapi dengan barcording dan mekanisme pengaksesan data berbasis web di internet.

Sebuah sistem automasi perpustakaan umumnya terdiri dari 3 komponen utama, yakni sumber daya manusia, pangkalan data, dan perangkat automasi. Sumber daya manusia yang dimaksud disini tidak hanya pustakawan, akan tetapi juga pemustaka yang merupakan target dan tujuan utama kita dalam peningkatan layanan melalui program automasi.

Pangkalan data merupakan keseluruhan koleksi yang tersedia di perpustakaan, yang pada awalnya diorganisir secara manual. Pemanfaatan teknologi informasi dalam pengolahan koleksi perpustakaan ini harus tetap berada pada koridor kaidah-kaidah pengolahan koleksi di perpustakaan, hanya medianya saja yang diganti. Sedangkan perangkat automasi yang digunakan terdiri dari perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software). Tanpa adanya dua perangkat automasi ini secara memadai, maka proses automasi tidak akan berjalan dengan baik.

 

2.2. Peluang sistem Automasi Perpustakaan di Wilayah Sumatera Barat

Sumatera Barat merupakan salah satu propinsi di wilayah Indonesia dengan jumlah penduduk yang cukup besar dengan variasi kebutuhan informasi yang berbeda. Perpustakaan sebagai salah satu penyedia informasi yang utama di wilayah Sumatera Barat, selain toko buku dan internet, memiliki peluang yang cukup besar dalam mengembangakan teknologi informasi guna memenuhi kebutuhan masyarakat tersebut. Ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian lebih perpustakaan dalam peningkatan layanan dengan menggunakan teknologi automasi di perpustakaan.

2.2.1. Penggunaan Perangkat Lunak Berbasis Open Sources

            Open sources merupakan perangkat lunak yang disediakan secara gotong-royong, yang tersedia secara bebas dan didistribusikan melalui internet. Selama ini yang menjadi permasalahan utama dalam pengembangan automasi di perpustakaan, terutama perpustakaan miliki pemerintah ialah kurangnya dana untuk pengembangan kegiatan automasi. Dengan adanya open souces  software, perpustakaan memiliki peluang lebih untuk bisa menerapkan sistem automasi karena open sources software harganya jauh lebih murah dan bahkan gratis. Akan tetapi, perpustakaan harus bisa memilih software yang sesuai dengan sumber daya yang tersedia di perpustakaan dan sumber daya manusia yang bisa mengaplikasikan program tersebut dalam kegiatan rutin di perpustakaan.

Perpustakaan-perpustakaan yang ada di Sumatera Barat hendaknya mampu memafaatkan open sources yang tersedia guna menghemat biaya. Akan tetapi perpustakaan pun harus mampu memilih aplikasi open sources yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan peprustakaa.

 

2.2.2. Pengelolaan Dokumen Elektronik

Koleksi yang terus bertambah di perpustakaan setiap tahunnya akan membutuhkan tempat dan ruang dan dana yang lebih besar dalam pngelolaannya. Untuk meminimalisir penggunaan ruang di perpustakaan, salah satu hal yang bisa dilakukan yakni dengan mengembangkan sistem dokumen elektronik. Proses pengelolaan dokumen elektronik memiliki beberapa tahapan, yakni proses digitalisasi dokumen, proses penyimpanan, dan proses temu kembali dokumen. Kegiatan-kegiatan tersebut sangat berbeda dengan proses pengelolaan dokumen tercetak. Akan tetapi pengelolaan dokumen elektronik yang baik dan terstruktur akan menjadi sebuah dasar yang bagus dalam pengembangan sistem automasi perpustakaan bahkan digitalisasi perpustakaan.

2.2.3. Transformasi dari Perpustakaan Tradisonal ke Perpustakaan Digital

Digital library atau sistem perpustakaan digital merupakan konsep menggunakan internet dan teknologi informasi dalam manajemen perpustakaan. Pengembangan perpustakaan digital atau e-library bagi tenaga pengelola perpustakaan dapat membantu pekerjaan di perpustakaan melalui fungsi sistem otomasi perpustakaan, sehingga proses pengelolaan perpustakaan lebih efektif dan efisien. Sementara itu, perpustakaan digital atau e-library bagi pengguna perpustakaan dapat membantu mencari sumber-sumber informasi yang diinginkan dengan menggunakan katalog on-line yang dapat diakses melalui intranet maupun internet, sehingga pencarian informasi dapat dilakukan kapan pun dan di mana pun.

Menurut Sismanto (2008), perpustakaan digital merupakan sebuah sistem yang memiliki berbagai layanan dan obyek informasi yang mendukung akses obyek informasi tersebut melalui perangkat digital. Layanan ini diharapkan dapat mempermudah pencaharian informasi dalam koleksi obyek informasi seperti dokumen, gambar, dan data base dalam format digital dengan lebih cepat, tepat dan akurat.

Definisi singkat dari perpustakaan digital adalah bentuk perpustakaan yang keseluruhan koleksinya memakai format digital yang disusun dalam sebuah arsitektur komputerisasi. Arsitektur ini disusun dalam sebuah proyek yaitu proyek perpustakaan digital. Penelitian proyek perpustakaan digital menggunakan web atau  WWW (World Wide Web) yang dihubungkan dengan jaringan internet sebagai media penyalur informasi utama. WWW memiliki banyak kelebihan yang didukung berbagai macam protokol komunikasi (HTTP, FTP, Gopher), penggunaan HTML sebagai bahasa standar markup, dan kelebihan pada GUI (Graphical User Interface).

Koleksi perpustakaan digital tidak hanya terbatas pada dokumen elektronik pengganti dokumen cetak, akan tetapi koleksinya melingkupi keseluruhan dokumen bahkan yang tidak bisa digantikan dalam bentuk tercetak, seperti artefak digital. Koleksi pada peprustakaan digital lebih menekankan pada isi informasi. Lesk (dalam Pandit, 2007) memandang bahwa perpustakaan digital secara umum merupakan kumpulan informasi yang tertata secara sistematis dan koleksi tersebut disediakan sebagai jasa dengan pemanfaatan teknologi jaringan informasi.

Perbedaan perpustakaan konvensional dengan perpustakaan digital terlihat pada keberadaan koleksinya. Koleksi perpustakaan konvensional pada umumnya terletak pada sebuah tempat yang menetap, sedangkan koleksi pada perpustakaan digital tidak berada pada sebuah tempat fisik. Perpustakaan konvensional identik dengan ruang dan buku-buku, sedangkan pada perpustakaan digital lebih identik dengan komputer serta internet. Selain itu, perpustakaan konvensional hanya bisa dinikmati oleh pengguna yang datang ke perpustakaan dan berkemungkinan bertempat tinggal disekitar perpustakaan, akan tetapi perpustakaan digital memungkinkan untuk dikunjungi oleh siapa pun, dari mana pun, dan kapan pun.

Dibeberapa perpustakaan perguruan tinggi di Sumatera Barat, konsep perpustakaan digital sudah mulai diperkenalkan dan dikembangkan. Akan tetapi sebagian besar penerapan perpustakaan digital tersebut baru sebatas katalog on-line tanpa memuat dokumen lengkap dalam format elektronik.

 

2.3. Tantangan dan Hambatan Sistem Automasi Perpustakaan di Wilayah       

       Sumatera Barat

Idealnya, sejak diperkenalkannya istilah dan kegiatan automasi di beberapa perpustakaan, seperti perpustakaan Daerah Sumatera Barat, dan perpustakaan perguruan tinggi sejak tahun 1997, perpustakaan-perpustakaan yang ada di Sumatera barat harus telah mampu menerapkan sistem automasi tersebut di seluruh unit kegiatan yang ada di perpustakaan. Bahkan, seharusnya perpustakaan-perpustakaan yang berada dalam toritorial Sumatera barat harus telah mampu membentuk sebuah jaringan perpustakaan yang terintegrasi, sehingga akan lebih sangat memudahkan masyarakat sebagai konsumen informasi.

Meskipun pada beberapa perpustakaan, seperti Perpustakaan Daerah Propinsi Sumatera Barat, perpustakaan Universitas Andalas, perpustakaan Universitas Negeri Padang, perpustakaan Universitas Bung Hatta, dan perpustakaan Univeristas Pendidikan Indonesia, kegiatan automasi telah terlaksana dengan baik bahkan perpustakaan-perpustakaan tersebut telah mulai beranjak ke perpustakaan digital, akan tetapi tidak sedikit perpustakaan yang masih menggunakan sistem pengolahan manual yang berorientasi pada manusia dalam pelaksanaannya. Ketertinggalan tersebut disebabkan oleh banyak faktor, yakni ketidaksiapan sumber daya yang dimilki oleh perpustakaan, kondisi geografis sumatera barat, kondisi sosial-budaya masyarakat sumatera barat, serta kebijakan pemerintah yang dirasa masih setengah-setengah dalam pengembangan automasi perpustakaan.

 

2.3.1. Sumber Daya

Sumber daya merupakan faktor yang paling menentukan berhasil atau tidaknya penerapan dan pemanfaatan teknologi automasi di perpustakaan. Sumber daya ini menyangkut, sumber daya manusia, baik pustakawan maupun pemustaka, perangkat automasi perpustakaan, serta sarana penunjang kegiatan automasi tersebut.

Pustakawan merupakan pelaksana kegiatan automasi. Pustakawan harus mengetahui dan memahami dengan baik perkembangan teknologi, khususnya untuk dunia perpustakaan, aplikasi teknologi yang layak digunakan untuk perpustakaan, hardware maupun software yang digunakan dalam kegiatan automasi perpustakaan, serta pengetahuan tentang layanan purna jual aplikasi teknologi tersebut di perpustakaan. Akan tetapi, sebagian besar pustakawan di perpustakaan Wilayah Sumatera Barat merupakan pustakawan yag buta teknologi. Hal ini dikarenakan tidak adanya gairah untuk mengembangkan diri dan pustakawan telah terjebak dengan rutinitas kerja di perpustakaan, sehingga tidak membuka mata dan wawasan terhadap perkembangan teknologi yang ada.

Dalam sistuasi seperti ini, ketika aplikasi teknologi automasi diperkenalkan di perpustakaan, pustakawan akan merasa kewalahan. Jangankan untuk menggunakan program automasi, untuk menghidupkan komputer saja banyak dari pustakawan yang masih kebingungan. Hal ini bisa segera diatasi apabila pustakawan diberikan bekal berupa pengetahuan dan pelatihan yang intens tentang penggunaan teknologi di perpustakaan. Karena apabila pustakawan buta teknologi di sebuah perpustakaan yang telah menerapkan sistem teknologi automasi, maka kinerja perpustakaan akan menurun drastis dan layanan yang diberikan kepada pemustaka akan menjadi tidak maksimal.

Pemustaka pun haruslah masyarakat yang melek teknologi. Pemustaka harus mengerti bagaimana cara menelusur informasi tanpa membutuhkan katalog kartu, bagaimana prosedur peminjaman tanpa sistem pencatatan manual, srta bagaimana proses pengembalian buku dengan sistem yang teah terautomasi tersebut. Jika pemustaka, dalam hal ini masyarakat pengguna perpustakaan adalah orang yang buta teknologi, maka sistem automasi yang dikembangkan di perpustakaan akan percuma, karena tidak dimanfaatkan oleh pemustaka dalam proses penulusan informasi di peprustakaan.

Sumatera Barat merupakan wilayah dengan karakteristik masyarakat yang beragam. Perpustakaan dituntut untuk mampu menyatukan perspektif masyarakat, khususnya pemustaka, tentang sistem dan layanan automasi perpustakaan. Salah satu cara dengan diadakannya pendidikan pemakai bagai pemustaka. Pendidikan pemakai ini pada umumnya digelar sepanjang tahun bagi pemustaka-pemustaka baru. Hal ini bertujuan agar pemustaka bisa memanfaatkan fasilitas automasi yang tersedia di perpustakaan dengan baik.

Selain itu, aplikasi teknologi yang digunakan dalam kegiatan automasi perpustakaan pun harus disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan perpustakaan.

Perangkat yang digunakan dalam sistem automasi hendaknya user friendly, sehingga memudahkan pustakawan dan pemustaka. Selain itu, aplikasi dan perangkat harus sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas perpustakaan, ditinjau dari pendanaan, pustakawan, masyarakat pemustaka, dan kondisi geografis dimana perpusakaan berada.

 

2.3.2. Kondisi Geografi

Sumatera Barat merupakan wilayah yang terbentang disepanjang jalur pengunungan Bukit Barisan di pulau Sumatera. Selain itu, Sumatera Barat berada diatas jalur gunung api aktif dan berada di antara pertemuan dua lempeng benua. Hal ini menjadikan Sumatera Barat sebagai daerah dengan kontur bebukitan dan wilayah yang rawan bencana, seperti letusan gunung api, gempa, dan tsunami.

Kondisi geografis ini menjadi salah satu kendala pengembangan automasi di perpustakaan. Wilayah sumatera barat yang terdiri dari perbukitan dan pegunungan, menyebabkan jarak antara satu wilayah dengan wilayah lainnya menjadi sangat panjang, jauh dan susah dijangkau. Jangankan teknologi informasi, dibanyak daerah di Sumatera Barat saat ini, yang belum terjamah listrik dan sambungan telekomunikasi. Selain itu, wilayah Sumatera Barat yang rawan bencana pun memberikan sumbangan yang cukup besar bagi terhambatnya pengembangan teknologi informasi, khususnya automasi di perpustakaan.

Gempa berkekuatan 8,2 S.R yang terjadi di penghujung September 2009, merupakan salah satu bencana terbesar yang pernah dihadapi oleh propinsi ini. Gempa tersebut menyebabkan jejak kerusakan yang tidak sedikit, terutama kerusakan infrastruktur. Perlu waktu yang cukup lama untuk bisa mengembalikan Sumatera Barat seperti kondisi awal. Hingga saat ini, Perpustakaan Daerah Propinsi Sumatera Barat masih dalam taraf pembangunan.

 

2.3.3. Sosial-Budaya Masyarakat

Masyarakat asli Sumatera Barat disebut dengan masyarakat Minangkabau (Sumatera Barat minus Mentawai). Masyarakat minangkabau sangat terkenal dengan budaya gotong-royong. Segala hal yang berat, jika dikerjakan bersama-sama akan menjadi ringan, seperti pepatah “ringan samo dijinjiang, barek samo dipukua”. Mayarakat Minangkabau telah terbiasa dengan kerjasama dan tolong-menolong, sehingga suasana kekeluargaan sangat kental dirasakan dihampir seluruh wilayah Sumatera Barat. Masyarakat Minangkabau sangat menghargai interaksi sosial. Masyarakat Minangkabau bukanlah orang yang bisa otonom tanpa melakukan interaksi dengan orang lain untuk jangka waktu yang lama.

Selain itu, masyarakat Minangkabau merupakan masyarakat yang sangat menghargai adat-istiadat, sehingga perubahan yang terjadi dalam masyarakat terkadang dianggap sebagai ancaman terhadap kelangsungan “adat di nagari” mereka, sebagai contoh, dengan adanya internet dan handphone.

            Dikarenakan cara berfikir yang seperti ini, perubahan-perubahan ang sifatnya radikal akan sangat sulit untuk diterima oleh masyarakat. Automasi perpustakaan, mau-tidak mau akan meminimalisirkan kerja pustakawan dan hal tersebut akan dianggap sebagai ancaman, tanpa mampu menilai lebih jauh tentang manfaat yang didatangkan oleh sistem tersebut.

 

2.3.4. Pembiayaan dan Kebijakan Pemerintah

Pemerintah merupakan lembaga yang berperan penting bagi kelangsungan perpustkaan, terutama perpustakaan milik pemerintah. Kebijakan pemeritah yang kurang mendukung dan dinilai setengah hati, akan mempengaruhi perkembangan perpustakaan. Hal klasik yang sering dihadapi oleh perpustakaan adalah pembiayaan atau pendanaan. Alokasi dana untuk perpustakaan dinilai tidak memadai untuk sebuah institusi yang mengemban misi mencerdaskan masyarakat.

Tidak bisa dipungkiri, kegiatan automasi perpustakaan membutuhkan dana yang tidak sedikit, mulai dari pengadaan alat automasi, pelatihan pustakawan, serta biaya operasioal automasi. Perpustakaan memerlukan alokasi dana dan sistem pembiayaan yang mendukung kegitan tersebut. Akan tetapi hal tersebut masih belum mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah. Terlebih lagi, gempa 30 September, memaksa pemerintah daerah untuk mengalokasikan dana guna membangun infrastruktur daerah, sehingga pengembangan automasi perpustakaan di Sumtera Bart mengalami hambatan.

Selain itu, kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah melalui peraturan dan keputusan, dinilai belum sepenuhnya memberikan perhatian guna pengembangan perpustakaan yang berbasis teknologi informasi. Padahal, pemerintah mesin penggerak utama dalam pengembanan peprustakaan, terutama perpustakaan milik pemerintah.

3.1. Simpulan

Penerapan teknologi informasi di perpustakan saat ini sudah menjadi sebuah ukuran untuk mengetahui tingkat kemajuan dari sebuah perpustakaan. Salah satu bentuk penerapan teknologi informasi di perpustakaan yaitu dengan adanya automasi perpustakaan dan perpustakaan digital. Sistem automasi perpustakaan merupakan pengintegrasian antara bidang pekerjaan administrasi, pengadaan, inventarisasi, katalogisasi, pengolahan, sirkulasi, statistik, pengelolaan anggota perpustakaan, dan lain-lain. Digital library atau sistem perpustakaan digital merupakan konsep menggunakan internet dan teknologi informasi dalam manajemen perpustakaan.

Pengembangan perpustakaan berbasis teknologi informasi, bagi tenaga pengelola perpustakaan dapat membantu pekerjaan di perpustakaan melalui fungsi sistem otomasi perpustakaan, sehingga proses pengelolaan perpustakaan lebih efektif dan efisien. Sedangkan bagi pengguna perpustakaan dapat membantu mencari sumber-sumber informasi yang diinginkan dengan menggunakan katalog on-line yang dapat diakses melalui intranet maupun internet, sehingga pencarian informasi dapat dilakukan kapan pun dan di mana pun, melalui digital library.

Sumatera Barat sebagai salah satu propinsi di pulau Sumatera bagian tengah telah mulai menerapkan ICT di berbagai perpustakaan, baik perpustakaan milik pemerintah maupun perpustakaan non pemerintah, dan mulai berkembang sejak tahun 1997. Idealnya, keseluruhan perpustakaan di wilayah Sumatera Barat tersebut dalam kurun waktu 13 tahun telah terintegrasi dalam sebuah jaringan perpustakaan. Akan tetapi hal tersebut belum terlaksana. Masih banyak perpustakaan yang baru akan menerapkan automasi perpustakaan atau bahkan  ada perpustakaan yang dalam kegiatan sehari-hari masih menggunakan sistem pengolahan yang bersifat manual.

Sumber daya yang dimilki oleh perpustakaan, kondisi geografis yang menyebabkan Sumatera Barat sebagai daerah rawan bencana, sosial-masyarakat yang masih sangat menjunjung nilai-nilai adat istiadat, serta kebijaka pemerintah yang berhubungan dengan pendanaan dan pembiayaan menjadi kendala utama dalam penerapan dan pengembangan teknologi automasi di perpustakaan.

Akan tetapi, perpustakaan dituntut untuk mampu mencari jalan keluar dari semua permasalahan tersebut dan harus bisa melihat potensi dan peluang yang ada guna mengembangkan pemanfaatan teknologi informasi dalam perpustakaan, seperti pemanfaatan perpustakaan berbasis open sources yang murah bahkan gratis, digitalisasi dokumen yang akan menghemat ruang dan mengantisipasi bencna, serta perintisan pembangunan peprustakaan digital.

Daftar Pustaka

Bafadal, Ibrahim. (2006).Pengelolaan Perpustakaan. Jakarta: Bumi Aksara

Bajpai. (2004). Digital Libraries and Information Services. India: Shree Publsh

Bavakutty. (2004). Information Acsses in Technology Ages. India: Ess Ess Publsh

Bambang Hariyanto. (2003). Sistem Pengarsipan dan Metode Akses, Informatika. Bandung: [s.n].

Connolly, T.M., (2002). Database system: A practical Approach to Design, Implemantation, and Management. [s.l]: Addison Wesley

Darmono.(2001). Manajemen dan Tata Kerja Perpustakaan. Jakarta: Gramedia

 

Diao, Ai Lien. (September, 2003). Perubahan perpustakaan perguruan tinggi dan kebutuhan akan tenaga baru. Seminar Ilmiah Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI). Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia.

Fahmi, Ismail. Pendayagunaan Digital Library Network Untuk Mendukung Riset Nasional.3 November 2011.www.itb.ac.id.

G. Edward Evans. (2000). Developing Library and Information Center Collections. [s.l]: Libraries Unlimited

Griffin, Gill. (2005). Costumer Loyalty. Jakarta: Erlangga

Hasibuan, Zainal. (2005). Pengembangan Perpustakaan Digital. Makalah Pelatihan                         Pengelolaan Perpustakaan Perguruan Tinggi. Cisarua, Mei 2005.

Hakim, Heri Abi Burachman. Open source Sebuah Peluang Bagi Pengembangan Perpustakaan. 3 November 2011.http://www.ugm.ac.id.

Harmawan, Sistem Otomasi Perpustakaan.3 November 2011. http://www.unila.ac.id.

Lasa HS. (2005). Manajemen Perpustakaan. Yogyakarta: Gama Media.

Subrata, Gatot. (2009). Perpustakaan Digital. Malang: Penerbit UNM.

Sulistiyo-Basuki, (2004), Pengantar Dokumentasi. Rekayasa Sains.

Qalyubi, Syihabuddin. (2003). Dasar-dasar Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Yogyakarta: Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga.

Wahyudi, Kumoroto. (1999). Sistem Informasi Manajemen Dalam Organisasi-organisasi Publik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

One comment on “PROFIL PENERAPAN AUTOMASI PERPUSTAKAAN DI SUMATERA BARAT

  1. zontrisman
    18 Maret 2013

    tulisannya luar biasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 7 Desember 2011 by in ICT perpustakaan dan Pusat Informasi.
%d blogger menyukai ini: