Yona Primadesi

Membaca, Menulis, dan Berkarya

PROFIL PELESTARIAN NASKAH KUNO MINANGKABAU: Konservasi, Restorasi, dan Revitalisasi Naskah

Abstrak

Classical text of Minangkabau stored in the text and in memory of Minangkabau society. Text stored in the script is written with Arab-Melayu srcript. The manuscripts are mostly stored in the library of Leiden University and just a little is stored in Indonesia especially in the community library of text owner, traditional society, public library, archieve institution, and museum. The local goovernment had tried to do persuasive approach with Netherland government and traditional society as the script owner and connected institution in order to preserve old manuscripts, both physic and information value. Preservation that had been done such conservation, restoration, transliteration, and revitalitation of those manuscripts. Especially for literature text of “kaba” genre that is kept still inside the memory of the old one, on definite occasion is conveyed on traditional performances succh bakaba (barabab), badendang, barandai performance and so on. The writings are now many on revitalisastion works, is written by memory of the writers (written kaba version). The other shape of kaba story text preservation is contemporer genre of drama such story transformation and values that try enwaken thhe rationality of its lover in enjoy it. This is in one side weaken the text image, the old culture values in society perspective. But on the other side it motivates the society especially the young ones re-learn the ancestor culture that had been norm in old society, and they can make opinion of which value would be continued by the next generation.

Key words: manuscripts, conservation, restoration, revitalitation

 A.    Pendahuluan

Istilah post-modernisme lahir pada paruh kedua abad ke-20, berkisar antara  tahun 1960 hingga tahun 1990. Lahirnya post-modernisme ditandai dengan lahir dan berkembangnya era informasi dalam masyarakat yang mengakibatkan perubahan-perubahan dalam fenomena sosial-budaya masyarakat. Seperti yang dinyatakan oleh Akhyar, bahwa salah satu ciri sosia-budaya masyarakat post-modernisme ditandai dengan lahirnya era mode informasi. Era mode informasi ini memungkikkan masyarakat untuk mengorganisir dan menyebarkan informasi dalam masyarakat (Akhyar, 2011).

Dinamika kebutuhan dan ketergantungan terhadap informasi menyebabkan perubahan dalam masyarakat, seperti perubahan estetis, kultural, dan ekonomi. Proses perubahan ini kemudian melahirkan istilah masyarakat informasi atau information society. Konsep masyarakat informasi itu sendiri muncul pada awal tahun 1970.

Daniel Bell menggunakan istilah post-industrial society untuk menyebut masyarakat informasi, yaitu pergantian produksi barang-barang kepada sistem pengetahuan dan inovasi pelayanan sebagai strategi dan sumber informasi masyarakat (Bell, 1973). Menurut William J. Martin, masyarakat informasi merupakan suatu kedaan masyarakat dimana kualitas hidup, prospek untuk perubahan sosial dan pembangunan ekonomi bergantung pada peningkatan informasi dan pemanfaatannya (Martin, 1995).

Dalam Deklarasi World Summit on the Information Society yang dilaksanakan di Genewa, Desember 2003, menyatakan bahwa masyarakat informasi yang berpusat pada masyarakat, inklusif, dan berorientasi pada pembangunan adalah dimana setiap orang dapat membuat, mengakses, memanfaatkan berbagai informasi dan pengetahuan, yang memungkinkan setiap individu, komunitas, masyarakat untuk mencapai potensi mereka dalam rangka mengembangkan pembangunan yang terus terpelihara dan mengembangkan kualitas hidup mereka, sebagaimana yang tercantum dalam deklarasi Hak Azasi Manusia.

Masyarakat yang mendapat kesempatan dan akses informasi secara cepat dan tepat akan jauh lebih maju dibandingkan dengan mereka yang kurang mendapat “nasib” baik dalam hal pemerolehan informasi. Menurut Pendit, misi utama masyarakat informasi adalah mewujudkan masyarakat yang sadar tentang pentingnya informasi, ilmu pengetahuan dan teknologi, terciptanya suatu layanan informasi yang terpadu, terkoordinasi dan terdokumentasi serta tersebarnya informasi ke masyarakat secara luas dan cepat, tepat dan bermanfaat (Putu L.Pandit, 2005).

John Goddard mengidentifikasi empat unsur yang saling berkaitan dalam proses perubahan menuju masyarakat informasi. Pertama, informasi mulai menduduki panggung utama sebagai sumber daya strategis, dimana adanya ketergantungan terhadap informasi. Kedua, teknologi informasi dan komunikasi menyediakan infrastruktur yang memungkinkan informasi diproses dan didstribusikan. Ketiga, terjadinya pertumbuhan yang sangat cepat pada sector informasi yang bisa diperdagangkan dalam ekonomi. Keempat perubahan dalam aspek budaya yang mudah dikenali tetapi sulit untuk diukur (John Goddard, 1992). Disamping itu, pembentukan masyarakat informasi dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni, kemajuan dalam bidang pendidikan, perubahan karateristik pola kerja, perubahan dalam cara menyebarkan pengetahuan, perubahan dalam cara mencari pengetahuan, serta kemajuan dalam menciptakan alat-alat untuk menyebarkan dan mengakses pengetahuan.

Masyarakat informasi ditandai dengan adanya perilaku informasi yang merupakan keseluruhan perilaku manusia yang berhubungan dengan sumber dan saluran informasi, perilaku penemuan informasi yang merupakan upaya dalam menemukan informasi dengan tujuan tertentu sebagai akibat adanya kebutuhan untuk memenuhi tujuan tertentu, perilaku mencari informasi yang ditujukan seseorang ketika berinteraksi dengan sistem informasi, dan perilaku penggunaan informasi yaitu perilaku yang dilakukan seseorang ketika menggabungkan informasi yang ditemukannya dengan pengetahuan dasar yang sudah dimiliki sebelumnya.

Salah satu sumber informasi yang ada di dalam masyarakat adalah teks. Teks berisi nilai, pengetahuan, kebiasaan, adat-istiadat, bahasa, kesenian, dan tata cara hidup yang tertuang di dalam tulisan, dalam bentuk naskah, dan tersimpan didalam memori masyarakat, dalam bentuk ingatan dan diturunkan dari generasi ke genarasi. Teks  yang dimaksud adalah teks yang  mengandung nilai- nilai yang  menyentuh  berbagai aspek kehidupan  masyarakat sebagai gambaran kehidupan manusia pada masa silam  serta kebudayaannya. Nilai-nilai ini merupakan informasi kepada kita tentang bagaimana mereka hidup, pekerjaan sehari-hari, apa yang dirasakan dan bagaimana sikap hidup mereka (Ikram, 1983).

Naskah merupakan warisan dari sebuah peradaban manusia yang terakumulasi dari sebuah budaya kehidupan masyarakat masa lalu. Potret perjalanan dan kemajuan manusia terekam utuh dalam naskah tersebut.  Naskah merupakan sebuah bentuk peninggalan budaya yang sampai sekarang masih dapat dirasakan keberadaannya.

Masyarakat Minangkabau sangat terkenal dengan tradisi lisan “kaba babarito” yang mengungkap sesuatu pesan dari mulut ke mulut, akan tetapi bukan berarti masyarakat Minangkabau minim budaya tulisan. Pada beberapa tempat di Minangkabau atau Sumatera Barat secara umum, dapat ditemukan berita tercetak atau terekam dalam bahasa tulis sebagai peninggalan para leluhur.

Aksara lokal masyarakat Minangkabau merupakan adaptasi dari aksara Arab dengan kebudayaan masyarakat setempat, yang dibawa oleh pedagang dari bangsa Arab, dan dikenal dengan nama aksara Arab-Melayu atau aksara Arab gundul. Aksara Arab-Melayu diajarkannya dalam sistem pendidikan tradisional Minangkabau melalui surau-surau. Surau pun memiliki fungsi sebagai kriptorium, tempat penulisan ulang naskah-naskah yang sebagian besar berisi informasi yang bersifat religius. Selain itu, aksara Arab-Melayu pun melatarbelakangi lahirnya teks-teks berupa naskah yang berisi nilai-nilai kehidupan masyarkat Minangkabau pada saat itu.

Salah satu indikator yang bisa digunakan untuk melihat perkembangan budaya tulisan dengan menggunakan aksara Arab-Melayu sebagai aksara lokal masyarakat Minangkabau adalah melalui sejarah panjang penerbitan di Minangkabau. Sujatmoko mengemukakan bahwa jauh sebelum kolonial Belanda masuk wilayah Minangkabau (Sumatera Barat minus Mentawai), masyarakat Minangkabau telah mengenal usaha penerbitan lokal, yang terdapat dimasing-masing nagari di Minangkabau. Terbitan yang dikenal pada masa itu, menyerupai surat kabar pada masa sekarang. Terbitan yang beradar disetiap kenagarian Minangkabau bercerita tentang urang nagari dan nilai-nilai kehidupan pada kenagarian tersebut. Terbitan tersebut menggunakan bahasa Minangkabau dengan aksara Arab-Melayu.

Akan tetapi, kerisauan yang mengemuka saat ini adalah bahwa kebanyakan naskah-naskah tua atau media tercetak yang ditinggalkan tersebut tidak lagi terpelihara dengan baik. Bukti-bukti menunjukkan bahwa sebagian besar sudah hilang dan tidak dapat dipahami lagi isinya (Sindunegara, 1997). Naskah tersebut saat ini sebagian besar tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden dan sedikit sekali yang tersimpan di Indonesia, di dalam komunitas masyarakat pemilik teks, seperti masyarakat tempatan, Perpustakaan, Badan Arsip maupun Meseum.

Jika menilik kepada jejak sejarah, banyak hal yang menyebabkan kaburnya keberadaan naskah-naksah Minangkabau beraksara Arab-Melayu tersebut, diantaranya keberadaan aksara Arab-Melayu mulai mengalami pergeseran, terutama ketika pemerintah kolonial Belanda mulai melakukan hegemoni dengan memperkenalkan aksara latin pada masyarakat Minangkabau. Hegemoni aksara latin tersebut menyebabkan mulai memudar dan hilangnya budaya aksara Arab-Melayu, yang berakibat hilangnya teks-teks baik berupa naskah maupun ingatan yang tersimpan dalam memori generasi tua Minangkabau. Selain itu, hegemoni politik yang ditawarkan pemerintah Belanda, menyebabkan banyak naskah-naskah Minangkabau yang diserahkan kepada pemerintah Belanda baik sebagai hadiah maupun hibah, ataupun naskah-naskah dengan bahasa Minangkabau beraksara Arab-Melayu yang dianggap “cabul” dan kasar sehingga tidak layak untuk di publikasikan dan menjadi terlantar begitu saja.

Pemerintah Daerah telah mencoba melakukan pendekatan persuasif dengan pemerintah Belanda dan masyarakat tempatan, selaku pemegang naskah, maupun badan yang berwenang dalam rangka pelestarian naskah-naskah kuno, baik fisik maupun nilai informasinya. Bentuk pelestarian yang telah dilakukan atara lain konservasi, restorasi, dan rivitalsasi naskah.

 

Permasalahan yang berkembang sehubungan dengan keberadaan naskah-naskah kuno Minangkabau, yakni semakin banyak naskah yang tidak diketahui keberadaanya, banyak naskah yang berada dalam kondisi yang memprihatinkan, serta banyak naskah yang telah mulai hilang esensi nilai yang terkandung didalamnya. Pemerintah, masyarakat dan lembaga yang terkait telah melakukan berbagai langkah guna melindungi naskah-naskah tersebut, diantaranya melalui kegiatan konservasi, restorasi dan revitalisasi naskah.

Konservasi dan restorasi merupakan kegiatan untuk meperbaiki lingkungan fisik naskah maupun kondisi fisik naskah itu sendiri. Salah satu bentuk kegiatan restorasi guna memperbaiki fisik naskah yakni dengan adanya transformasi naskah ke bentuk digital. Naskah-naskah kuno Minangkabau telah dilakukan restorasi dan transformasi. Tetapi kesadaran masyarakat yang masih rendah, kebijakan pemerintah yang belum sepenuhnya mendukung, dan keterbatasan dana menjadi permasalahan pokok dalam melakukan restorasi dan transformasi naskah. Revitalisasi perlu dilakukan terhadap naskah-nakah kuno dengan harapan akan timbul pemikiran dan kesadaran dari masyarakat tentang arti penting naskah dan nilai-nilai yang terkandung didalam naskah.

 

Daftar Pustaka

Arsip Nasional Republik Indonesia.1980. Pemeliharaan dan Penjagaan Arsip. Jakarta

Apostel, Richard and Boris Raymond. 1997. Librarianship and the Information Paradigm. London: The Scarecrow Press.

Buckland,, Michael. 2001.  Redesigning Library Services: A Manifesto.  New York: American Library Association.

Ensiklopedi Nasional Indonesia, Jilid. 3.  Jakarta: Cipta Adi Pustaka. 1989.

Hardjoprakoso, Mastini.  1997.  “Buku dan Perpustakaan”.  Di dalam Buku Membangun Kualitas Bangsa : Bunga rampai sekitar Perbukuan di Indonesia.  Yogyakarta: Kanisius.

Kasbolah, Kasihani. 1992.  “Studi Kepustakaan”  di dalam  Forum Penelitian,  4(1&2).

Magnis-Suseno, Franz. 1997.  “Memanusiakan Buku – Membukukan Manusia”. Di dalam Buku Membangun Kualitas Bangsa : Bunga rampai sekitar Perbukuan di Indonesia. Kanisius. Yogyakarta

Martin, William. J. (2003). Global Infprmation Society. London: Aslib Gower.

Martono, Boedi.1994. Penyusutan dan Pengamanan Arsip Vital dalam Manajemen   Kearsipan. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.

Purwono, 2004. Buku Dan  Perpustakaan : Catatan Memori  Bangsa Pembangkit Nasionalisme.

Rowley, Jennifer.  1996.   Organizing of Knowledge.  London: Library Association.

Somadikarta, Lily K. 1998.  “Perkembangan dalam pengelolaan informasi”, di dalam Analisis Kebudayaan.

Sudarsono, Blasius.2006.  Antologi Kepustakawanan Indonesia.  Editor Joko Santoso.  Jakarta: PP IPI.

Sulistyo-Basuki. 1991. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

——————-. 2000. “Potensi Perpustakaan dalam Menghadapi Krisis Sosial Budaya”

Suryadi. 2007. Yang Tersisa Dan Masih Bertahan Dari Tradisi Pernaskhahan Minangkabau. Fakultas Sastra Universitas Andalas.

Wursanto, Ig. 1990. Kearsipan 1. Yogyakarta : Kanisius.


One comment on “PROFIL PELESTARIAN NASKAH KUNO MINANGKABAU: Konservasi, Restorasi, dan Revitalisasi Naskah

  1. muslimshares
    7 Desember 2011

    nice blog gan
    kalo berkenan tukeran link yuk

    salam,
    muslimshares
    http://muslimshares.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 7 Desember 2011 by in Naskah Minangkabau.
%d blogger menyukai ini: