Yona Primadesi

Membaca, Menulis, dan Berkarya

PERANAN PERPUSTAKAAN DIGITAL BERBASIS WEB

Dipublikasikan pada:

Jurnal Suluah Bendang Volume IX Nomor 2 Oktober 2009

Peranan Perpustakaan Digital Berbasis Web www.digilib.unp.ac.id

dalam Membentuk Citra Positif Perpustakaan Universitas Negeri Padang

Abstrak: Inti permasalahan yang diteliti adalah untuk mengetahui peran www.digilib.unp.ac.id dalam membentuk citra Perpustakaan Universitas Negeri Padang. Tujuannya untuk mengetahui peran www.digilib.unp.ac.id dalam membentuk citra Perpustakaan Universitas Negeri Padang. Penelitian ini menggunakan desain dominant less-dominant yakni mengkombinasikan pendekatan kuantitatif dan pendekatan kualitatif pada suatu penelitian. Data diperoleh dari observasi lapangan, wawancara, dan studi pustaka. Hasil penelitian mendapatkan bahwa www.digilib.unp.ac.id yang merupakan salah satu program pengembangan perpustakaan UNP masih dalam taraf pengembangan. Informasi yang diediakan oleh www.digilib.unp.ac.id masih sebatas katalog on-line dan abstrak tugas akhir mahasiswa. www.digilib.unp.ac.id belum menyediakan informasi dalam bentuk full text. Selain itu, tampilan www.digilib.unp.ac.id masih sangat sederhana dan pihak perpustakaan belum melakukan sosialisasi yang maksimal sehingga perpustakaan digital tersebut belum terlalu dikenal. Dengan kesimpulan bahwa www.digilib.unp.ac.id belum memberikan kontribusi yang cukup besar dalam membentuk citra perpustakaan UNP. Rekomendasinya yaitu dengan meningkatkan kualitas dan layanan www.digilib.unp.ac.id yang meliputi kelengkapan dan kemutakhiran koleksi, tampilan, aksesabiliti dan sosialisasi kepada masyarakat.

 

Kata Kunci: perpustakaan digital, www.digilib.unp.ac.id, citra perpustakaan

 

 

PENDAHULUAN

 

Perpustakaan merupakan salah satu sarana pembelajaran yang dapat menjadi sebuah kekuatan untuk mencerdaskan bangsa. Perpustakaan mempunyai peranan penting sebagai jembatan menuju penguasaan ilmu pengetahuan dan sekaligus menjadi tempat rekreasi yang menyenangkan, menyegarkan, dan mengasyikkan. Oleh karena itu citra perpustakaan perlu dibangun agar dapat berkembang dengan baik. Dengan citra perpustakaan yang positif, perpustakaan akan mampu membangn mengembangkan citra institusinya lebih lanjut, baik di dalam maupun di luar lembaga induknya. Dalam mengembangkan citra, perpustakaan berusaha meningkatkan layanannya yang sesuai dengan sistem manajemen mutu (Quality Management System). Strategi yang ditawarkan untuk mengembangkan citra perpustakaan, khususnya perpustakaan perguruan tinggi di Indonesia melalui 3 (tiga) pilar citra utama yaitu, pertama membangun citra perpustakaan (building image), kedua meningkatkan citra pustakawan (librarian image), dan ketiga mengembangkan perpustakaan yang berbasis pada teknologi informasi dan komunikasi atau information and communication technology (ICT based).

Pada era informasi abad ini, teknologi informasi dan komunikasi atau ICT (Information and communication Technology) telah menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan. Kemajuan teknologi memungkinkan masyarakat melakukan rutinitas lebih cepat hingga waktu yang digunakan dapat efektif dan efisien. Perkembangan ICT melahirkan sebuah perpustakaan berbasis komputer. Paradigma lama tentang perpustakaan dengan berbagai kerumitannya dalam melakukan pengelolaan perpustakaan kini terhapus. Penerapan teknologi informasi di perpustakan saat ini sudah menjadi sebuah ukuran untuk mengetahui tingkat kemajuan dari perpustakaan tersebut, bukan lagi pada besarnya gedung, banyaknya rak buku, ataupun jumlah pengunjung setiap harinya.

Pemanfaatan information and comunication technology (ICT) sebagai sarana dalam meningkatkan kualitas layanan dan operasional telah membawa perubahan yang besar di perpustakaan. Perkembangan dari penerapan information and comunication Technology (ICT) dapat diukur dengan telah digunakannya ICT sebagai sistem automasi perpustakaan serta telah diterapkannya perpustakaan digital (digital library). Sistem automasi perpustakaan merupakan pengintegrasian antara bidang pekerjaan administrasi, pengadaan, inventarisasi, katalogisasi, pengolahan, sirkulasi, statistik, pengelolaan anggota perpustakaan, dan lain-lain. Digital library atau sistem perpustakaan digital merupakan konsep menggunakan internet dan teknologi informasi dalam manajemen perpustakaan. Pengembangan perpustakaan digital atau e-library bagi tenaga pengelola perpustakaan dapat membantu pekerjaan di perpustakaan melalui fungsi sistem otomasi perpustakaan, sehingga proses pengelolaan perpustakaan lebih efektif dan efisien. Sedangkan bagi pengguna perpustakaan dapat membantu mencari sumber-sumber informasi yang diinginkan dengan menggunakan katalog on-line yang dapat diakses melalui intranet maupun internet, sehingga pencarian informasi dapat dilakukan kapan pun dan di mana pun.

Dengan dikembangkan perpustakaan yang berbasis pada teknologi informasi dan komunikasi (ICT based) baik dalam sistem automasi perpustakaan maupun digital library, diharapkan dapat memberikan kenyamanan kepada anggota perpustakaan dan memberikan kemudahan kepada tenaga pustakawan dan pengelola perpustakaan, baik dalam layanan maupun pengolahan, dan sekaligus kemudahan untuk menerapkan strategi-strategi pengembangan perpustakaan serta dapat meningkatkan citra perpustakaan dalam memberikan layanannya terhadap pemakai dilingkungannya.

Perpustakaan Universitas Negeri Padang (UNP) sebagai salah satu perpustakaan perguruan tinggi di Indonesia, telah menerapkan 3 (tiga) pilar utama dalam membangun citra perpustakaan, salah satunya dengan mengembangkan perpustakaan yang berbasis pada teknologi informasi dan komunikasi atau information and communication technology (ICT based) yang mencakup automasi perpustakaan (sistem informasi manajemen) dan perpustakaan digital.

www.digilib.unp.ac.id sebagai bentuk penerapan ICT di perpustakaan UNP merupakan perpustakaan digital berbasis web yang telah mulai dirintis sejak 1980-an. Sejalan dengan perkembangan, perpustakaan digital UNP telah memungkinkan untuk diaskses oleh segenap civitas akademika di UNP sendiri maupun oleh masyarakat luas.

Mengingat perkembangan dan kemajuan teknologi khususnya perkembangan perpustakaan digital berbasis web milik perpustakaan UNP dalam membentuk citra positif perpustakaan, peneliti tertarik untuk meneliti tentang peranan perpustakaan digital berbasis web khususnya www.digilib.unp.ac.id.  dalam membentuk citra positif perpustakaan.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan desain dominant less-dominant yakni mengkombinasikan pendekatan kuantitatif dan pendekatan kualitatif pada suatu penelitian. Pendekatan kualitatif berposisi dominant (utama) sedangkan pedekatan kuantitatif berposisi less-dominant. Pendekatan kualitatif dalam penelitian ini dimaksudkan untuk mendukung dan memberikan penjelasan atau pemaknaan terhadap hasil yang diperoleh dari pendekatan kuantitatif.  Pendekatan kualitatif ini menekankan kepada proses dan pemaknaan terhadap fakta-fakta yang terjadi di lapangan.

Penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif, menurut Nasution (1988) dan Creswell (1994) peneliti bersangkutanlah yang menjadi instrumen utama yang langsung turun ke lapangan mengumpulkan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Sedangkan dalam penelitian kuantitatif menggunakan metode survei dengan instrumen utama dalam pengumpulan data adalah kuesioner.

Kedua metode tersebut bersifat triangulasi, yakni data yang diperoleh dengan kuesioner digali lebih mendalam melalui observasi, dan wawancara mendalam (in-depth interview) serta diperkaya oleh dokumen lainnya. Pada akhirnya, kedua pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini digabungkan untuk menemukan jawaban dari tujuan penelitian secara keseluruhan.

Penentuan informan dalam penelitian ini dilakukan secara snowball,  artinya peneliti menentukan orang-orang yang bisa diwawancarai berdasarkan informasi yang diperoleh dari pustakawan Universitas Negeri Padang serta pemustaka yang aktif megakses http://www.didigilib.unp.ac.id dan pengamatan lapangan.  Wawancara dimulai dari  informan kunci (key informant) yakni pustakawan digital, pengguna perpustakaan digital kemudian dilanjutkan kepada informan lainnya sampai informasi yang diperoleh sudah dianggap cukup dan memadai.

Secara umum data yang dikumpulkan dalam penelitian ini dibedakan atas data primer dan data sekunder.  Data primer dikategorikan ke dalam dua bagian. Pertama, pengumpulan data melalui pendekatan kualitatif adalah dengan melakukan wawacara mendalam (in-depth interview) dengan informan kunci. Ke dua, pengumpulan data melalui pendekatan kuantitatif dilakukan melalui pengamatan atau pengukuran lapangan, dan survei kepada pemustaka. Data sekunder dikumpulkan melalui studi kepustakaan yang berhubungan dengan penelitian ini.

 

KAJIAN TEORI

1.      Hakikat Perpustakaan Digital

Perpustakaan merupakan suatu sarana pembelajaran yang menjadi salah satu kekuatan guna mencerdaskan kehidupan bangsa. Perpustakaan atau library didefinisikan sebagai tempat buku-buku yang diatur untuk dibaca dan dipelajari atau dipakai sebagai bahan rujukan (The Oxford English Dictionary). Istilah perpustakaan juga diartikan sebagai pusat media, pusat belajar, sumber pendidikan, pusat informasi, pusat dokumentasi dan pusat rujukan (The American Library Association dalam Mahmudin, 2006).

Perpustakaan adalah salah satu unit kerja yang berupa tempat untuk mengumpulkan, menyimpan, mengelola, dan mengatur koleksi bahan pustaka secara sistematis untuk digunakan oleh pemakai sebagai sumber informasi sekaligus sebagai sarana belajar yang menyenangkan (Darmono, 2001: 2). Secara lebih umum, Yusuf dan Suhendar (2005:1) menyatakan bahwa perpustakaan adalah suatu tempat yang didalamnya terdapat kegiatan menghimpun, mengelola, dan menyebarluaskan segala macam informasi, baik yang tercetak maupun yang terekam dalam berbagai media seperti buku, majalah, surat kabar, film, kaset, tape recorder, video, komputer, dan lain-lain.

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahawa peprustakaan merupakan suatu bentuk organisasi yang memiliki tugas untuk mengumpulkan, mengolah, menyajikan, dan melayani kebutuhan informasi para pengguna perpustakaan.

Sebuah perpustakaan dikatakan ideal apabila memenuhi syarat-syarat, sebagai berikut (Subrata, 2009:4) : 1) berani memantapkan keberadaan lembaga perpustakaan sesuai dengan jenisnya, 2) selalu meningkatkan mutu melalui pelatihan-pelatihan bagi tenaga pustakawan, 3) melakukan promosi dan menyelenggarakan jaringan kerjasama dalam maupun luar negeri, 4) melakukan upaya pengembangan dan pembinaan perpustakaan terus-menerus dari segi manajemen dan teknis operasional.

Dalam masyarakat informasi, pengetahuan merupakan sumber daya primer bagi individu maupun publik. Sebagai akibatnya, masyarakat lebih selektif dalam mencari data dan informasi. Selain itu informasi yang lebih efektif dan efisien dalam pemelrolehannya menjadi komiditi utama bagi masyarakat. Selain itu, perkembangan teknologi informasi (TI) yang telah menyebar kesemua aspek kehidupan, tuntutan untuk menciptakan sebuah perpustakaan yang ideal sesuai dengan zaman dan kebutuhan penggunanya pun menjadi sebuah tantangan baru bagi institusi perpustakaan.

Akibatnya, perpustakaan sebagai institusi pengelola informasi sudah seharusnya terjamah penerapan teknologi informasi. Salah satu bentuk penerapan teknologi informasi di perpustakaan yaitu dengan adanya perpustakaan digital.

Menurut Sismanto (2008), perpustakaan digital merupakan sebuah sistem yang memiliki berbagai layanan dan obyek informasi yang mendukung akses obyek informasi tersebut melalui perangkat digital. Layanan ini diharapkan dapat mempermudah pencaharian informasi dalam koleksi obyek informasi seperti dokumen, gambar, dan data base dalam format digital dengan lebih cepat, tepat dan akurat.

Definisi singkat dari perpustakaan digital adalah bentuk perpustakaan yang keseluruhan koleksinya memakai format digital yang disusun dalam sebuah arsitektur komputerisasi. Arsitektur ini disusun dalam sebuah proyek yaitu proyek perpustakaan digital. Penelitian proyek perpustakaan digital menggunakan web atau  WWW (World Wide Web) yang dihubungkan dengan jaringan internet sebagai media penyalur informasi utama. WWW memiliki banyak kelebihan yang didukung berbagai macam protokol komunikasi (HTTP, FTP, Gopher), penggunaan HTML sebagai bahasa standar markup, dan kelebihan pada GUI (Graphical User Interface).

Koleksi perpustakaan digital tidak hanya terbatas pada dokumen elektronik pengganti dokumen cetak, akan tetapi koleksinya melingkupi keseluruhan dokumen bahkan yang tidak bisa digantikan dalam bentuk tercetak, seperti artefak digital. Koleksi pada peprustakaan digital lebih menekankan pada isi informasi.

Lesk (dalam Pandit, 2007) memandang bahwa perpustakaan digital secara umum merupakan kumpulan informasi yang tertata secara sistematis dan koleksi tersebut disediakan sebagai jasa dengan pemanfaatan teknologi jaringan informasi.

Perbedaan perpustakaan konvensional dengan perpustakaan digital terlihat pada keberadaan koleksinya. Koleksi perpustakaan konvensional pada umumnya terletak pada sebuah tempat yang menetap, sedangkan koleksi pada perpustakaan digital tidak berada pada sebuah tempat fisik. Perpustakaan konvensional identik dengan ruang dan buku-buku, sedangkan pada perpustakaan digital lebih identik dengan komputer serta internet. Selain itu, perpustakaan konvensional hanya bisa dinikmati oleh pengguna yang datang ke perpustakaan dan berkemungkinan bertempat tinggal disekitar perpustakaan, akan tetapi perpustakaan digital memungkinkan untuk dikunjungi oleh siapa pun, dari mana pun, dan kapan pun.

  2.      Konsep Citra

Sebuah organisasi atau lembaga yang memiliki citra baik di masyarakat, produk atau jasa yang dihasilkan oleh lembaga tersebut akan lebih diterima di masyarakat. Membangun citra di masyarakat sama halnya dengan bagaimana cara kita membentuk image, kesan, atau opini publik yang positif terhadap organisasi atau lembaga.

Citra dimulai dari identitas lembaga yang tercermin melalui lambang atau logo dan tampilan lainnya, seperti laporan tahunan, profil perusahaan, interior, iklan,maupun tampilan karyawan.

Citra akan terlihat atau terbentuk melalui proses penerimaan secara fisik (panca indera), masuk kesaringan perhatian (attention filter), dan menghasilkan pesan yang dapat dimengerti atau dilihat (perceived message), yang pada akhirnya berubah menjadi sebuah persepsi. (Rahmah, 2009:42)

 Menurut Bill Canton (dalam Soemirat, 2003:111) mengatakan bahwa citra adalah “image; the impression, the felling, the conception which the public has of a company; a concioussly created impression of an object, person of organization”. Sedangkan citra menurut Ruslan (1995:50) adalah “abstrak atau intangible, tetapi dapat dirasakan dari hasil penilaian, penerimaan, kesadaran dan rasa hormat dari publik disekitar atau masyarakat luas terhadap perusahaan sebagai badan usaha ataupun personilnya.”

Menurut Frank Jefkins (2003:20) ada beberapa jenis citra, yaitu :

1)      Citra bayangan, merupakan yang dianut oleh orang mengenai pandangan luar terhadap organisasi

2)      Citra yang berlaku, adalah suatu citra oleh pihak-pihak luar mengenai sebuah organisasi

3)      Citra yang diharapkan, adalah suatu citra yang diinginkan oleh pihak manajemen.

4)      Citra perusahaan, adalah citra dari suatu organisasi secara keseluruhan

5)      Citra majemuk adalah banyaknya jumlah pegawai, cabang, atau perwakilan dari sebuah perusahaan atau organisasi dapat memunculkan suatu citra yang belum tentu sama dengan citra organisasi secara keseluruhan.

Dapat ditarik kesimpulan bahwa citra merupakan sesutu yang bersifat abstrak dan berhubungan dengan opini masyarakat luas, atau bisa juga dikatakan sebagai kesan yang ditimbulkan atau diperoleh seseorang melalui pengalaman, pengetahuan dan pengertian tentang fakta atau kenyataan terhadap obyek tertentu.

Citra sebuah organisasi atau lembaga tidak bisa direkayasa. Citra akan terbentuk dengan sendirinya dari upaya yang kita tempuh sehingga komunikasi lembaga merupakan hal yang sangat penting dalam proses pembentukan citra.

 3.      Citra Perpustakaan

Perpustakaan tidak bisa terlepas dari publik atau komunitasnya, dalam hal ini pengguna. Oleh karena itu perpustakaan perlu menjaga hubungan timbal balik dengan pengguna. Dari hubungan ini nantinya akan timbul citra terhadap perpustakaan. Citra perpustakaan merupakan serangkaian anggapan, kesan dan penilaian seseorang terhdap perputakaan yang sangat ditentukan oleh keyakinan seseorang terhadap perpustakaan. Dapat juga dikatakan bahwa citra perpustakaan adalah keseluruhan evaluasi pengguna terhadap lembaga perpustakaan yang memberikan produk atau jasa.

Meskipun perpustakaan memiliki fungsi dan peranan yang sangat penting dalam masyarakat, akan tetapi hingga saat ini citra atau image perpustakaan masih jauh dari yang diharapakan. Contoh yang paling nyata, jika kita berbicara tentang perpustakaan maka hal pertama yang bisa dibayangkan adalah gedung yang kusam dengan koleksi buku yang bertumpuk, usang dan berdebu serta pustakawan yang jutek serta tidak ramah. Padahal kita ketahui bersama bahwa citra perpustakaan sangat penting dan essential dalam membangun peranan dan fungsi peprustakaan di masyarakat.

Pada dasarnya citra yang positif merupakan tujuan sebuah organisasi atau lembaga, tidak terkecuali perpustakaan. Terciptanya suatu citra yang positif  di mata khalayak atau publik akan sangat menguntungkan bagi lembaga, karena akan membawa citra yang sama kepada semua produk serta jasa yang dihasilkan oleh lembaga.

   4.      Hubungan Perpustakaan Digital Berbasis Web dalam Membentuk Citra Positif Perpustakaan

Citra merupakan seperangkat kesan atau image di dalam pikiran pemakai terhadap sesuatu objek. Sedangkan citra suatu perpustakaan dapat dikatakan sebagai suatu pandangan yang diberikan masyarakat tentang sebuah institusi perpustakaan. Setiap perpustakaan selalu memperoleh kesan atau image, baik yang positif maupun negatif dari berbagai pihak yang selalu berhubungan. Hal ini merupakan konsekuensi logis, mengingat dalam segala aktivitasnya perpustakaan selalu berhubungan dengan berbagai pihak, khususnya dengan pemakai perpustakaan. Jadi dengan sendirinya pihak yang berkepentingan akan selalu mengamati keberadaan perpustakaan tersebut agar tidak merugikan pemakainya.

Dalam mengembangkan citra, perpustakaan berusaha meningkatkan layanannya yang sesuai dengan sistem manajemen mutu (Quality Management System). Strategi yang ditawarkan untuk mengembangkan citra perpustakaan khususnya perpustakaan perguruan tinggi di Indonesia melalui 3 (tiga) pilar citra utama yaitu pertama membangun citra perpustakaan (building image), kedua meningkatkan citra pustakawan (librarian image), dan ketiga mengembangkan perpustakaan yang berbasis pada teknologi informasi dan komunikasi atau information and communication technology (ICT based).

Pemanfaatan information and comunication technology (ICT) sebagai sarana dalam meningkatkan kualitas layanan dan operasional telah membawa perubahan yang besar di perpustakaan. Perkembangan dari penerapan information and comunication (ICT) dapat diukur dengan telah diterapkannya atau digunakannya sebagai sistem informasi manajemen (SIM) perpustakaan atau automasi perpustakaan dan perpustakaan digital (digital library).

Pengembangan perpustakaan digital atau e-library bagi tenaga pengelola perpustakaan dapat membantu pekerjaan di perpustakaan melalui fungsi sistem otomasi perpustakaan, sehingga proses pengelolaan perpustakaan lebih efektif dan efisien. Fungsi sistem otomasi perpustakaan menitikberatkan pada bagaimana mengontrol sistem administrasi layanan secara otomatis atau terkomputerisasi. Sedangkan bagi pengguna perpustakaan dapat membantu mencari sumber-sumber informasi yang diinginkan dengan menggunakan catalog on-line yang dapat diakses melalui intranet maupun internet, sehingga pencarian informasi dapat dilakukan kapan pun dan di mana pun ia berada.

Membangun sistem perpustakaan digital mengikuti langkah-langkah yang disebut dengan istilah Fast Methodology yang meliputi 6 (enam) fase yaitu (a) requirement analysis phase, (b) decision analysis phase, (c) design phase, (d) construction phase, (e) implementation phase, dan (f) operation and support phase.

Dengan dikembangkan perpustakaan yang berbasis pada teknologi informasi dan komunikasi (ICT based) baik dalam sistem informasi manajemen (SIM) perpustakaan maupun digital library, maka dapat memberikan kenyamanan kepada anggota perpustakaan juga memberikan kemudahan kepada tenaga pustakawan dan pengelola perpustakaan baik dalam layanan maupun pengolahan dan sekaligus kemudahan untuk menerapkan strategi-strategi pengembangan perpustakaan serta dapat meningkatkan citra dalam memberikan layanannya terhadap pemakai dilingkungannya.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Deskripsi penelitian meliputi: (a) deskripsi data, (b) temuan hasil penelitian, dan (c) pembahasan hasil penelitian. Deskripsi data penelitian diperoleh dari: (1) hasil pengamatan terhadap perpustakaan UNP dan perpustakaan digital www.digilib.unp.ac.id, (2) hasil wawancara dengan wakil kepala perpustakaan, pustakawan dan pemustaka, (3) hasil analisi dokumen yang terkait dengan penelitian.

1.      Perpustakaan Universitas Negeri Padang

Menurut PP No. 60 th 1999. dan Kepmendikbud No. 0276/ 0/1999 perpustakaan adalah unit pelaksana teknis di bidang perpustakaan yang menunjang pelaksanaan tridharma perguruan tinggi. Perpustakaan mempunyai tugas memberikan pelayanan bahan pustaka untuk keperluan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat Untuk menyelenggarakan tugas tersebut, perpustakaan mempunyai fungsi (a) menyediakan dan mengolah bahan pustaka, (b) memberikan layanan dan pendayagunaan bahan pustaka (a) memelihara bahan pustaka (d) melakukan layanan referensi, dan (e) melakukan urusan tata usaha pustaka.

UPT Perpustakaan UNP sebagai salah satu lembaga pelaksanan teknis Universitas Negeri Padang terdiri dari perpustakaan pusat, ruang baca fakultas, ruang baca jurusan dan ruang baca pada setiap UPP PGSD (Lubuk Buaya, Bandar Buat, dan Bukittinggi). UPT Perpustakaan ini, semejak tahun 1994 telah menempati gedung baru bertingkat lima dengan luas sekitar 5000 m². Pada gedung ini terdapat beberapa ruangan yang antara lain ruang: AVA, Kerja Pustakawan, proyeksi film, penjilidan, baca dosen/pasca sarjana, ruang internet, koleksi utama dan ruang baca mahasiswa.

Data hasil laporan tahunan, Perpustakaan UNP memiliki jumlah koleksi 72.008 judul dengan jumlah eksemplar sebanyak 223.399. Koleksi tersebut terdiri dari buku teks 41.904 judul dengan jumlah 190.640 eksemplar, karya ilmiah 29.534 judul dengan jumlah eksemplar yang sama, koleksi referensi 561 judul dengan jumlah 2.244 eksemplar serta koleksi terbitan berkala (majalah, buletin, jurnal) 9 judul dengan jumlah 981 eksemplar.

Perpustakaan UNP memiliki fasilitas dan koleksi yang hampir mencukupi kebutuhan pemustaka.  Jumlah koleksi yang dimiliki perpustakaan UNP sudah memadai dengan jumlah anggota perpustakaan berdasarkan pedoman penghitungan koleksi perpustakaan perguruan  tinggi. Hasil laporan tahunan Perpustakaan UNP, pengunjung dalam satu hari berkisar 413 orang atau 1,3% dari jumlah pengguna yang terdaftar, dan yang melakukan transaksi peminjaman kurang lebih 85 orang dalam satu hari.

2.      Citra Perpustakaan Universitas Negeri Padang

Citra merupakan sesuatu yang bersifat abstrak dan berhubungan dengan opini masyarakat luas, atau bisa juga dikatakan sebagai kesan yang ditimbulkan terhadap obyek tertentu. Membangun citra di masyarakat sama halnya dengan bagaimana cara kita membentuk image, kesan, atau opini publik yang positif terhadap organisasi atau lembaga. Citra dimulai dari identitas lembaga yang tercermin melalui lambang atau logo dan tampilan lainnya, seperti laporan tahunan, profil perusahaan, interior, iklan, maupun tampilan karyawan.

Setiap perpustakaan selalu memperoleh kesan atau image, baik yang positif maupun negatif dari berbagai pihak yang selalu berhubungan. Hal ini merupakan konsekuensi logis, mengingat dalam segala aktivitasnya perpustakaan selalu berhubungan dengan berbagai pihak, khususnya dengan pemustaka perpustakaan. Jadi dengan sendirinya pihak yang berkepentingan akan selalu mengamati keberadaan perpustakaan tersebut agar tidak merugikan pemakainya.

Berdasarkan wawancara dengan informan yang berasal dari perwakilan mahasiswa  mengenai citra perpustakaan  dapat dikatakan bahwa perpustakaan Universitas Negeri Padang telah memiliki citra yang positif. Hal ini dikarenakan anggapan informan sebagai pemustaka yang merasa tercukupi kebetuhun informasinya dengan koleksi yang ada, merasa nyaman dengan pelayanan yang diberikan, serta fasilitas yang sangat mendukung dan memadai.

Akan tetapi keterangan dari informan tersebut tidak sejalan dengan jawaban yang diberikan oleh informan yang berasal dari staf pengajar, staf administrasi, dan masyarakat di luar lingkungan UNP. Meraka beranggapan bahwa koleksi yang ada di perpustakaan UNP tidak memadai, baik dari segi subjek, jumlah maupun kelayakan. Perpustakaan UNP harus lebih responsif dan selektif terhadap kebutuhan pemustaka. Perpustakaan harus mampu menyediakan koleksi termutakhir guna memenuhi kebetuhan informasi pemustaka, disamping itu perpustakaan pun harus menyediakan koleksi yang cukup dari segi jumlah.

Selain itu, pustakawan dinilai kurang mampu memberikan layanan yang terbaik bagi pemustaka. Sebagian besar pustakawan dianggap kurang ramah, kurang responsif dan terkesan kurang bersahabat.

3.      Pengetahuan Pemustaka tentang www.digilib.unp.ac.id.

Perpustakaan digital UNP telah mulai dirintis sejak tahun 1998 oleh salah seorang staf pengajar UNP. Akan tetapi karena keterbatasan sumber daya manusia, dana, dan program maka hal tersebut baru bisa direalisasikan pada tahun 2007 dan bekerjasama dengan pihak Universitas Gadjah Mada Jogyakarta.

Saat ini, perpustakaan digital UNP telah bisa diakses dan dinikmati oleh semua masyarakat tanpa terbatas ruang, tempat dan waktu  melalui situs www.digilib.unp.ac.id.

Perpustakaan digital tersebut telah bisa digunakan sebagai alat bantu penelusuran informasi keberadaan koleksi-koleksi perpustakaan UNP. Disamping itu, perpustakaan digital UNP pun telah meyediakan akses terhadap abstrak tugas akhir, skripsi, tesis, dan disertasi mahasiswa UNP. Akan tetapi dari data yang dikumpulkan melalui wawancara dengan sejumlah informan diketahui bahwa perpustakaan digital UNP atau www.digilib.unp.ac.id tidak terlalu dikenal oleh masyarakat UNP sendiri maupun masyarakat di luar UNP.

Hal ini dikarenakan masih minimnya sosialisasi yang dilakukan oleh pihak perpustakaan. Sosialisasi dilakukan hanya sebatas pengenalan perpustakaan digital kepada mahasiswa baru pada masa pengenalan lingkungan perpustakaan dan buku panduan yang diberikan kepada masing-masing mahasiswa.

Perpustakaan UNP hendaknya bisa lebih pro aktif untuk memperkenalkan www.digilib.unp.ac.id kepada masyarakat, tidak hanya masyarakat UNP tetapi juga masyarakat diluar lingkungan UNP.

4.      Peran www.digilib.unp.ac.id dalam Membentuk Citra Positif Perpustakaan

Baik atau buruknya citra sebuah perpustakaan sangat ditentukan oleh pertama, pengelolaan atau manajemen perpustakaan yang baik, kedua layanan yang memuaskan, ketiga penerapan teknologi informasi da komunikasi.

www.digilib.unp.ac.id merupakan salah satu bentuk penerapan teknologi informasi di perpustakaan. Perpustakaan digital ini diadakan dengan tujuan efektifitas waktu, tempat dan tenaga serta memberikan layanan lebih kepada pemustaka. Akan tetapi dalam prakteknya hal tersebut belum bisa sepenuhnya direalisasikan. www.digilib.unp.ac.id masih dalam tahap pengembangan, sehingga ada rasa ketidakpuasan dari pemustaka terhadap perpustakaan.

Berdasarkan data yang diperoleh melalui wawancara dan observasi dengan sejumlah informan, diketahui bahwa www.digilib.unp.ac.id masih belum bisa dikatakan sebagai perpustakaan digital. www.digilib.unp.ac.id memiliki program terbatas pada alat penelusuran informasi on-line. Digilib hanya berisi data-data buku yang ada di perpustakaan serta abstrak dari tugas akhir dan penelitian mahasiswa. Dalam digilib pemustaka belum menemukan buku elektronik atau buku yang bersifat full text.

Tampilan dari www.digilib.unp.ac.id dinilai sangat sederhana, kurang menarik, dan tidak bersifat interaktif. Pemustaka yang melakukan penelusuran informasi melalui www.digilib.unp.ac.id masih belum menemukan link-link yang terkait dengan informasi yang dibutuhkan. Disamping itu, pilihan menu pada tampilan www.digilib.unp.ac.id masih sangat terbatas, sehingga tak jurang pemustaka enggan untuk menggunakan jasa digilib dalam proses pencarian, penelusuran, maupun pemerolehan informasi. Keterbatasan hardware dan software pun menyebabkan akses pemustaka terhadap digilib terkadang tersendat-sendat bahkan tak jarang terputus.

Dengan kehadiran www.digilib.unp.ac.id masyarakat telah beranggapan bahwa peprustakaan UNP telah mampu mengikuti perkembangan teknologi, sehingga digilib merupakann nilai tambah bagi perpustakaan UNP. Akan tetapi pemustaka masih mengharapakan perbaikan, pembenahan dan penyempurnaan digilib agar pemustaka merasa nyaman dan kebutuhan informasinya terpenuhi.

 

SIMPULAN

Citra merupakan kesan atau penilaian yang diberikan masyarakat kepada sebuah lembaga atau institusi. Citra sangat dipengaruhi oleh  kemampuan lembaga tersebut untuk mengelola sumber daya, memberikan layanan prima, serta menerapkan teknologi informasi dan komunikasi dalam setiap aspek.

Perpustakaan Universitas Negeri Padang (UNP) sebagai sebuah lembaga pelaksana teknis perguruan tinggi telah memiliki citra yang cukup baik di mata masyarakat meskipun ada beberapa kekurangan dari perpustakaan yang erat hubungannya dengan koleksi dan layanan perpustakaan.

Untuk lebih meningkatkan citra, perpustakaan UNP menyelenggarakan sebuah peprustakaan digital dengan nama www.digilib.unp.ac.id.  Secara garis besar, digilib dianggap telah mampu memuat penilaian yang positif dari masyarakat terhadap perpustakaan UNP. Akan tetapi, ada beberapa kekurangan digilib yang harus segera dibenahi oleh pihak peprustakaan, diantaranya: kurangnya sosialisasi digilib kepada masyarakat; digilib masih terbatas hanya sebagai alat bantu penelusuran on-line bukan perpustakaan digital; tampilan digilib masih sangat sederhana dan terbatas; keterbatasn program digilib yang menyebabkan tidak adanya buku elektronik, link-link, serta menu yang sangat terbatas yang disediakan digilib; dan akses digilib yang terkadang bermasalah.

Daftar Pustaka

Bafadal, Ibrahim. 2006.Pengelolaan Perpustakaan. Jakarta: Bumi Aksara

Bajpai. 2004. Digital Libraries and Information Services. India: Shree Publsh

Bavakutty. 2004. Information Acsses in Technology Ages. India: Ess Ess Publsh

Darmono. 2001. Manajemen dan Tata Kerja Perpustakaan. Jakarta: Gramedia

2007. Menjadi Pintar: Perpustakaan Sekolah sebagai Sumber Belajar Siswa. Malang: PenerbitUNM

Griffin, Gill.2005. Costumer Loyalty. Jakarta: Erlangga

Hasibuan, Zainal. 2005. Pengembangan Perpustakaan Digital. Makalah Pelatihan

Pengelolaan Perpustakaan Perguruan Tinggi. Cisarua, Mei 2005.

Jefkins, Frank. 2003. Public Relation. Jakarta:Erlangga.

Mahmudin. 2006. Pengantar Ilmu Perpustakaan (on-line). http://www/ipi.or.id/unpas/materio-07-06.doc, diakses 20 maret 2010.

Pendit, Putu Lexmana. 2007. Perpustakaan Digital: Perspektif Perpustakaan PTN. Jakarta: Agung

Ruslan, Rosady. 1999.  Praktek dan Solusi Public dalam Situasi Krisis dalam Pemulihan Citra. Jakarta: Ghil Indoensiao.

Saleh, Soemirat.2001.Fungsi Perpsutakaan Kampus dalam Pembinaan Budaya Baca. Bandung: Unisba. 

Subrata, Gatot. 2009. Perpustakaan Digital. Malang: Penerbit UNM.

Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Bandung: Alfabeta

Supriyono. 2008. Teknologi Informasi Perpustakaan. Jogyakarta: Kanisius.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 7 Desember 2011 by in ICT perpustakaan dan Pusat Informasi.
%d blogger menyukai ini: