Yona Primadesi

Membaca, Menulis, dan Berkarya

PERANAN INTERNATIONAL STANDARD BOOK NUMBER (ISBN) DALAM PROSES PENGADAAN BAHAN MONOGRAF PADA PERPUSTAKAAN DAN TOKO BUKU DI KOTA PADANG

Dipublikasikan pada:

Jurnal Tambua

Volume X Nomor 2, Mei 2011

 

This study raised the subject of “The Role of ISBN in the procurement process and the Monograph in Libraries and Bookstores”. The problem in this research can be formulated in the form of questions: (1) how the role of ISBN in book procurement activities in the library and bookstore in the city of Padang?, (2) what constraints encountered in implementation of the ISBN procurement process  on the book in the library and bookstore the city of Padang?, (3) what efforts to overcome obstacles faced on ISBN implementation on the procurement process in libraries and bookstores in the city of Padang? This research was a qualitative research using descriptive method with samples the  librarians. Data were collected by using questioner and interview methods directly with the research samples. Based on the data analysis, it  can be concluded that; the role of ISBN for  Gramedia bookstore and libraries in Padang (a) Lack of understanding  of librarians about the role of ISBN, (b) the library policy that does not use ISBN in the list of suggested books, lead librarian thought that ISBN is not important, (c) ISBN sometimes not included in the catalog of publications, (d) Not all the books in Indonesia has the ISBN number, (e) Law no. 4 in 1990 is not functioning as appropriate, (f) Lack of bibliographic control in Indonesia, (g) The substitution of ISBN with the production code in ordering  in Gramedia bookstores, and (h) Using double barcodes , the ISBN barcode and store barcode in Gramedia

1.      Latar Belakang Masalah

            Keseluruhan koleksi yang ada di perpustakaan dan toko buku diadakan melalui sebuah proses pengadaan. Jika di toko buku pengadaan keseluruhan berasal dari kegiatan pembelian, tidak demikian halnya dengan perpustakaan. Proses pengadaan koleksi di perpustakaan dapat dilakukan melalui kegiatan, antara lain: (1) pembelian, (2) tukar-menukar, (3) hadiah atau hibah, dan (4) keanggotaan organisasi. Berdasarkan pengamatan di lapangan, 85% kegiatan pengadaan di perpustakaan dilakukan melalui proses pembelian, baik dengan sistem tender atau borongan, sistem kerja sama, ataupun pembelian langsung kepada penerbit dan toko buku.

            Pada umumnya dalam proses pengadaan koleksi melalui pembelian, terlebih dahulu dibuatkan  daftar pesanan buku yang akan dibeli. Untuk satu judul yang dipesan berkemungkinan diterbitkan oleh penerbit yang berbeda, dan ditulis oleh pengarang yang berbeda di seluruh dunia. Agar tidak terjadi kekeliruan, daftar pesanan ini disertai dengan nama pengarang dan penerbit yang memproduksi buku tersebut. Daftar pesanan juga harus diperiksa dengan teliti. Meskipun demikian, pembuatan daftar pesanan tetap kurang efisien, bahkan tidak jarang terjadi kekliruan pengiriman sehingga diperlukan satu cara pemesanan yang khas. Untuk itulah diciptakan Internatona Standard Book Number (ISBN) atau nomor buku standar yang berlaku secara internasional. Selain memuat fungsi utama sebagai kontrol literatur dunia, ISBN pun menjadikan proses pengadaan buku lebih efisien dan efektif.

            ISBN merupakan deretan angka yang memuat informasi tentang identitas sebuah buku. Denga hanya menyebutkan ISBN, buku yang dipesan dan yang dikirim sangat kecil kemungkinan salah. Selain itu, ISBN pun memudahkan kinerja pustakawan dan karyawan di toko buku.

            ISBN dapat berperan penting dalam pengadaan buku pada perpustakaan dan toko buku. Sebagai contoh, banyak masalah yang akan muncul jika pemesanan dilakukan tanpa mencantumkan nomor ISBN. Hal ini dikarenakan buku dengan judul dan pengarang yang sama bisa diterbitkan dalam beberapa versi, seperti versi revisi, versi hard cover, dan versi soft cover. Akan tetapi jika pemesanan dilakukan dengan mencantumkan ISBN, maka kesalahan tersebut tidak akan terjdi, karena ISBN untuk setiap buku dengan tipe terbitan yang berbeda pun tidak sama dengan buku yang mempunyai judul atau ditulis oleh pengarang yang sama. Dengan demikian,        Istilah ISBN itu sendiri bukan merupakan hal yang asing disebuah perpustakaan atau toko buku, khususnya bagi pustakawan atau karyawan yang bekerja di bagian pengadaan. Namun kebanyakan di antara mereka hanya mengenal ISBN sebagai ciri fisik yang terdapat pada kulit suatu buku yang diterbitkan, tanpa mengetahui arti, makna, dan fungsi sesungguhya dari deretan angka tersebut. Dari deretan angka ISBN, dapat diidentifikasi negara tempat buku diterbitkan, nama penerbit, serta kode khusus untuk buku yang diterbitkan.

            Pentingnya peranan ISBN dalam pengadaan koleksi buku pada toko buku dan perpustakaan tidak sepenuhnya terwujud, karena sebagian besar toko buku dan perpustakaan di Indonesia khususnya kota Padang, masih tetap memesan buku dengan menyebutkan judul dan nama pengarang. Seringkali ISBN tidak dicantumkan dan disebutkan dalam daftar pesanan. Hal ini akan berakibat semakin besarnya kemungkinan kesalahan pengiriman pesanan oleh penerbit yang menyebabakan tertundanya pelayanan kebutuhan informasi masyarakat.

            Penelitian ini akan meninjau sejauh mana fungsi ISBN diberdayakan oleh perpustakaan dan toko buku dalam proses pengadaan monograf khususnya buku, serta latar belakang masih kurangnya penggunaan ISBN dalam proses pengadaan tersebut.

  1. 2.      Perumusan Masalah

2.1  Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah, dapat dikemukakan rumusan masalah sebagai berikut : (1) bagaimana peranan ISBN dalam pengadaan buku di perpustakaan dan toko buku di kota Padang? ; (2) kendala apa yang ditemui dalam penerapan ISBN pada proses pengadaan buku di perpustakaan dan toko buku di kota Padang? ; (3)  bagaiman upaya untuk mengatasi kendala yang dihadapi dalam penerapan ISBN pada proses pengadaan buku di peprustakaan dan toko buku di kota Padang?

2.2  Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui : (1) peranan ISBN yang diterapkan dalam pengadaan buku di perpustakaan dan toko buku di kota Padang; (2) kendala-kendala yang dihadapi dalam penerapan ISBN dalam pengadaan buku di perpustakaan dan toko buku di kota Padang; (3) upaya untuk mengatasi kendala yang dihadapi pada penerapan ISBN dalam pengadaan buku di peprustakaan dan toko buku di kota Padang. 

  1. B.     Tinjauan Pustaka

Dalam dunia penerbitan dikenal istilah ISBN (International Standard Book Number) dan ISSN (International Standard Serial Number). ISBN is a unique identifier assigned to each edition of every published book and book-like product ( Zoe: 2005,3). Sementara itu dalam buku Pengantar Penerbitan dikatakan bahwa ISBN adalah singkatan dari International Standard Book Number yang terdiri dari deretan 10 angka sebagai pemberi identifikasi terhadap suatu judul buku yang diterbitkan oleh suatu penerbit dan bersifat internasional (Sofia-Mansoor: 123), dengan kata lain seharusnya tidak akan ada nomor yang sama diseluruh dunia untuk setiap buku yang diterbitkan.  ISBN menunjukkan bahasa atau daerah geografi tepat buku tersebut diterbitkan, jati diri penerbit, dan nomor urut buku yang diterbitkan oleh penerbit tersebut.        

  1. 1.      Struktur ISBN

ISBN pada awalnya selalu terdiri dari 10 angka, angka 0 sampai 9 dan angka romawi X. Khusus untuk angka romawi ini hanya digunakan pada angka terakhir, yaitu sebagai angka pemeriksa atau check Digit untuk mengganti bilangan 10 yang terdiri atas dua angka.  Kesepuluh angka ISBN ini dikelompokkan menjadi empat bagian yang dipisahkan oleh tanda hubung “-“ atau spasi. Keempat bagian tersebut adalah ciri geografis, ciri penerbit, nomor urut buku, dan angka pemeriksa yang selalu hanya satu angka. 

Namun sejak 1 Januari 2007, jumlah angka ISBN menjadi tiga belas angka atau lima kelompok yang merupakan ketentuan ISO dan dimuat dalam dokumen TC 46 atau SC 9. Tiga angka tambahan tersebut diletakkan didepan ciri geografis, dan menurut ketentuan, kelompok EAN tersebut terdiri dari prefiks “978” atau “979”. EAN atau dikenal juga dengan istilah Bookland telah diperkenalkan sejak tahun 1980, tetapi terbatas hanya pada Negara-negara tertentu di daratan Eropa.

  1. a.      Ciri Geografis (1-3 angka)

Bagian pertama dari deretan angka ISBN 10 digit disebut dengan nama cirri geografis. Ciri geografis ini menunjukkan bahasa atau daerah geografis tempat buku yang bersangkutan diterbitkan.

Contoh :

0                                            digunakan oleh Inggris, Amerika serikat, Australia, Kanada,

Afrika Selatan

            88                    Digunakan oleh Italia

            81                    Digunakan oleh India

            979                  Digunakan oleh Indonesia

            980                  Digunakan oleh Venezuela

  1. b.      Ciri penerbit (2-7 angka)

Bagian kedua dari deretan angka ISBN 10 digit dikenal dengan istilah ciri penerbit yang menunjukkan nama penerbitan tertentu. Junlah angka yang digunakan untuk ciri penerbit tergantung pada jumlah buku yang diterbitkan oleh penerbit yang bersangkutan dalam jangka waktu satu tahun. Semakin banyak jumlah buku yang diterbitkan, maka semakin sedikit angka yang digunakan sebagai ciri penerbit.

Kelompok ciri penerbit ditetapkan oleh lembaga ISBN internasional melalui perwakilannya disetiap Negara, yang dinaungi oleh perpustakaan nasional masing-masing Negara. Untuk Indonesia, kelompok ciri penerbit bisa diperoleh dan didaftarkan melalui perpustakaan Nasional.

 

Contoh :

            19                    digunakan oleh Oxford University Pers di Inggris

            224                  digunakan oleh Willey Eastern di India

            403                  digunakan oleh Gramedia di Indonesia

 

  1. c.       Nomor urut buku (1-6 angka)

Bagian ini menunjukkan nomor urut penerbitan buku, yang juga bergantung pada jumlah angka ciri kelompok dan ciri penerbit. Jumlah angka dari ketiga kelompok ini (geografis, penerbit, dan nomor urut buku) selalu Sembilan angka.

Contoh :

Buku urutan ke-12 dari berbagi penerbit, ISBNnya ditulis sebagai berikut :

 

OUP                0-19-000012-x

Keterangan :

Ciri geografis              0

Cirri penerbit               19

Nomor urut buku        12 ( penerbit dapat menghasilkan 999999 terbitan dalam satu

                                          tahun) 

dari contoh diatas dapat disimpulkan, semakin sedikit angka untuk ciri penerbit, semakin banyak angka untuk nomor urut buku.

  1. d.      Angka pemeriksa (1 angka)

Bagian terakhir dari struktur ISBN disebut dengan angka pemeriksa atau check digit. Angka pemeriksa hanya terdiri dari satu angka, antara angka 0 sampai 9 atau angka romawi X (sepuluh). Angka ini harus dicantumkan dengan cermat karena bila salah, komputer pengolah pemesanan akan menolaknya. Selain itu angka pemeriksa pun berfungsi sebagai indikator benar atau salah susunan Sembilan angka sebelumnya.

Cara untuk menentukan angka pemeriksa pada ISBN 10 angka:

  1. Angka pertama pada ISBN dikalikan dengan angka 10, angka ke-2 dengan 9, angka ke-3 dengan angka 8, sampai angka ke-9 dikalikan dengan angka 2.
  2. Hasil perkalian dijumlahkan
  3. Bagi (b) dengan angka 11. Jika (b) habis dibagi 11, maka angka pemeriksanya adalah 0.
  4. Jika (b) tidak habis dibagi 11, hasil pembagian dibulatkan ke atas, lalu pembulatan dikalikan dengan 11.
  5. Hitung selisih antara (b) dengan (d). Selisih inilah yang menempati angka pemeriksa.
  6. Jika selisih itu 10, maka angka pemeriksa adalah X.

Contoh:

Diketahui cirri geografis sebuah terbitan adalah 979 dengan cirri penerbit 403, maka ISBN dari terbitan ke-20 dari penerbit tersebut adalah : 979-403-020-?

 

Perhitungan     9          7          9          4          0          3          0          2          0          p

            X         10        9          8          7          6          5          4          3          2

                        90 +     63 +     72 +     28 +     0  +      15 +     0 +       6 +       0    =  274

Bagi jumlah dengan 11, 274 : 11 = 24+

Bulatkan angka 24+ menjadi 25

Kalikan 25 dengan 11, sehingga diperoleh 275

Selisih antara 275 dan 274 adalah 1

Maka ISBN dari terbitan tersebut adalah : 979-403-020-1

  1. 2.      Konversi dari ISBN 10 angka ke ISBN 13 angka

Sejak 1 Januari 2007, perpustakaan, toko buku maupun penerbit harus mengganti semua sistem operasi database pengolahan koleksi mereka agar bisa menerima tambahan kelompok EAN yang pada umumnya terdiri dari prefix 978 atau 979.

Bagi penerbit, untuk terbitan yang telah terlanjur diterbitkan dengan ISBN 10 angka dan telah terdaftar di perpustakaan nasional, maka bisa dikonverter menjadi ISBN 13 angka oleh penerbit itu sendiri.

Penerbit hanya perlu mencari angka pemeriksa yang baru untuk ISBN 1 angka dengan cara :

a)      Membuang angka pemeriksa untuk ISBN 10 angka

b)      Menambahkan prefix 978 atau 979 pada sebelum cirri geografis

c)      Kedua belas angka tersebut dikalikan secara bergantian dengan angka 1 dan angka 3

d)     Jumlah hasil perkalian dibagi dengan 10

e)      Jika hasil pembagian dengan 10 adalah genap, maka angka pemeriksanya adalah “0”, akan tetapi jika terdapat selisih dari pembagian tersebut, maka selisihnya dikurangi dengan 10, dan hasil pengurangan tersebut yang dijadikan sebagai angka pemeriksa.

  1. 3.      Fungsi dan Kegunaan ISBN

Dalam era teknologi saat ini, peran ISBN menjadi sangat penting. Zoe dalam ISBN for Dumies mengatakan bahwa ISBN memiliki fungsi antara lain :

  1. Memberikan identitas terhadap satu judul buku yang diterbitkan oleh penerbit
  2. Membantu memperlancar arus distribusi buku karena dapat mencegah terjadinya kekeliruan dan pemesanan buku
  3. Sarana promosi bagi penerbit karena informasi pencantuman ISBN disebarluaskan baik oleh Badan Nasional ISBN di Jakarta mupun Badan Internasiona ISBN di berlin.
  4. ISBN memungkinkan pembaharuan data tentang data bibliografi literature dunia, arus perdagangan literatur dunia, serta perkembangan katalog literature dunia.
  5. 4.      Aplikasi ISBN

ISBN diperuntukkan bagi penerbit buku. Nomor ISBN tidak bisa dipergunakan secara sembarangan, dan diatur oleh sebuah lembaga International yang berkedudukan di Berlin Jerman. Di Indonesia, untuk mendapatkan nomor ISBN, kita tinggal menghubungi Perpustakaan Nasional di Jakarta.

Untuk memperoleh ISBN terhadap sebuah terbitan, setiap pemohon harus terdaftar sebagi anggota ISBN. Persyaratan permohonan ISBN adalah sebagai berikut:

  1. Membuat surat permohonan atas nama penerbit atau lembga tertentu yang tlah terdaftar sebagai anggota ISBN beserta fotocopi halaman judul, fotocopi halaman balik judul, fotocopi daftar isi, dan fotocopi kata pengantar.
  2. Mengisi surat pernyataan sebagai anggota ISBN/ KDT yang disediakan oleh lembaga ISBN.
  3. Membayar biaya administrasi sebesar Rp. 50.000/ judul buku dan Rp. 120.000 untuk terbitan yang disertai dengan KDT.

Setelah terbitan mendapatkan ISBN dan KDT (katalog dalam terbitan), maka pemohon dalam hal ini penerbit atau lembaga diwajibkan untuk mengirimkan satu eksemplar dari hasil terbitan tersebut kepada lembaga ISBN nasional yang akan digunakan untu memantau penggunaan ISBN dan KDT serta memantau perkembangan literature di Indonesia.

  1. 5.      Prosedur Pengadaan Koleksi Monograf melalui Pembelian

Kegiatan memilih dan mengadakan bahan monograf terutama buku dalam pengembangan koleksi perpustakaan disesuaikan dengan kebijakan yang ditetapkan oleh pustakawan.

Dalam memilih buku diperlukan perkakas perpustakaan. Perkakas perpustakaan yang biasa digunakan dalam kegiatan memilih buku tersebut antara lain: (1) angket, (2) katalog penerbit atau berita buku, (3) bibliografi, (4) daftar perolehan baru dari perpustakaan, (5) tinjauan dan resensi buku, (6) iklan dan selebaran tentang terbitan baru, (7) books in print, (8) pangkalan data, dan lain-lain.

Jika buku telah dipilih, proses selanjutnya ialah pengadaan atau pemesanan buku. Perpustakaan membeli atau memperoleh buku dengan cara: (a) pembelian, (b) hadian atau hibah, (c) tukar-menukar, (d) keanggotaan organisasi. Akan tetapi yang paling sering dilakukan adalah pemesanan dengan cara pembelian.

Langkah-langkah pembelian dan pelangganan pustaka adalah sebagai berikut: (1) memeriksa dan melengkapi daftar bibliografi pustaka yang diususlkan, (2) mencocokan daftar usulan dengan koleksi perpustakaan yang dimiliki melalui catalog atau pangkalan data perpustakaan, (3) menerima atau menolak usulan, (4) membuat daftar pesanan beberapa rangkap menurut kebutuhan,(5) mengirimkan daftar pesanan, (6) mengarsipkan satu rangkap daftar pesanan, (7) membayar pesanan, (8) menyusun laporan pembelian dan berlangganan .

Dalam pembuatan daftar pesanan buku, biasanya perpustakaan memuat tiga hal penting mengenai buku yang akan dipesan. Antara lain, judul buku, pengarang, dan penerbit yang menerbitkan buku tersebut. Ketiga hal tersebut dianggap telah mewakili identitas buku yang dipesan, dan sangat kecil kemungkinan terjadi kesalahan dalam pemesanan.

Namun, akan lebih efisien apabila digunakan International Standar Book number atau ISBN karena dalam ISBN memuat informasi yang lebih spesifik tentang sebuah terbitan. Dengan menggunakan ISBN pustakawan atau karyawan toko buku dapat menghemat waktu dan lebih efektif dalam bekerja. Akan tetapi dalam penggunaan ISBN untuk pemesanan, pustakawan atau karyawan toko buku dituntut untuk lebih teliti dalam memasukkan angka-angka ISBN dalam daftar pesanan karena salah dalam penulisan satu angka saja, akan menghasilkan buku yang berbeda.

  1. C.    Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskripsitf. Menurt Arikunto dalam Manajemen Penelitian, metode deskriptif adalah suatu metode yang digunakan untuk menjelaskan suatu kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu peristiwa pada masa sekarang yang bersifat memaparkan , dalam hal ini peranan ISBN dalam proses pengadaan bahan monograf.

            Variabel dalam penelitian ini, yaitu :

Variabel X                   : International Standard Book Number (ISBN)

Variabel Y                   : Kegiatan Pengadaan bahan Monograf di perpustakaan

                                       Toko buku di kota Padang

Indikator                     :     a. Penggunaan ISBN dalam kegiatan pengadaan

  1. Kendala dalam penggunan ISBN
  2. Upaya untuk mengatasi kendala dalam penggunaan ISBN

Penelitian dilakukan di perpustakaan dan toko buku yang melakukan kegiatan pengadaan rutin setiap tahunnya dengan anggaran dana diatas 100 juta rupiah. Dari ketentuan tersebut, diperoleh lokasi penelitian yakni:

Dalam penelitian ini ditentukan populasi penelitian adalah subjek dengan syarat dan ketentuan, yaitu pustakawan atau karyawan toko buku yang bekerja di bagian pengadaan koleksi khususnya koleksi monograf. Sedangkan sampel dalam penelitian adalah total sampling atau keseluruhan dari populasi penelitian. Data primer yang digunakan dalam penelitian dikumpulkan dengan mengunakan metode questioner berupa wawancara langsung dengan sampel penelitian.

Teknik analisis data dilakukan dengan cara menganalisa data primer dan data skunder berupa penyusunan atau pengabungan dari sekumpulan informasi yang memberikan kemungkinan adaya penarikan kesimpulan.

  1. D.    Hasil dan Pembahasan

Dalam prosedur pengadaan buku di perpustakaan, informasi yang biasanya selalu ada dalam suatu formulir atau daftar usulan pengadaan adalah judul, pengarang, harga, penerbit, dan jumlah buku yang akan dipesan. Dalam daftar usulan tersebut, ISBN sangat jarang ditemukan bahkan hampir tidak pernah ditemukan sama sekali.

Dari wawancara dan observasi yang dilakukan diketahui bahwa ISBN hanya berfungsi sebagai pelengkap pada proses pengadaan di perpustakaan IAIN Imam Bonjol Padang. Artinya, dalam daftar usul pengadaan buku ISBN boleh dicantumkan atau tidak dicantumkan sama sekali. Hal ini disebabkan tidak semua terbitan terutama buku di Indonesia memiliki ISBN, kecuali untuk buku-buku yang berasal dari luar negeri. Perpustakaan IAIN Imam Bonjol Padang hanya mencantumkan ISBN dalam pembuatan deskripsi bibliografis atau kartu katalog.

Hal yang sama juga dapat kita temui dalam proses pengadaan buku di perpustakaan Universitas Andalas Padang, perpustakaan hanya menekankan pada lima hal, yaitu:

  1. Judul buku
  2. Nama pengarang
  3. Penerbit
  4. Harga buku per eksemplar
  5. Jumlah buku yang dipesan

Bagi peprustakaan UNAND, nomor ISBN lebih difungsikan pada pembuatan deskripsi bibliografis atau kartu katalog.

            Hal ini selain dikarenakan oleh kebijakan dari masing-masing perpustakan yang lebih mengedepankan pencantuman judul, pengarang, penerbit, harga dan jumlah pesanan dalam daftar usulan, juga dikarenakan perpustakaan tidak menemukan nomor ISBN dalam katalog penerbit.

            Pada perpustakaan UNP, ISBN selain digunakan dalam pembuatan deskripsi bibliografis terbitan, juga digunakan dalam kegiatan pengecekkan pesanan dari penerbit dan memasukkannya kedalam data base koleksi perpustakaan.

Sedangkan dalam proses pengadaan koleksi monograf di toko buku, fungsi ISBN hanya sebatas angka kendali atau angka pemeriksa dalam entry daftar buku yang diterima. Dalam kegiatan pemesanan, toko buku Gramedia tidak menggunakan ISBN dalam daftar usul buku. Pemesanan hanya dilakukan dengan menggunakan kode produksi, sesuai dengan yang tercantum dalam katalog penerbit. Hal ini dikarenakan pada catalog penerbit, ISBN terbitan tidak dicantumkan. ISBN di toko buku Gramedia hanya berfungsi sebagai media penelusuran dan penemuan kembali koleksi (Collection retrieval). Hal ini selain mempermudah karyawan juga memberikan kemudahan bagi pembeli, sehingga sistematika kerja di toko buku lebih efisien.

Untuk koleksi keluaran tahun 2007 yang mencantumkan dua ISBN sekaligus, yaitu ISBN 10 angka dan ISBN 13angka, tidak mengubah sistematika kerja di toko buku Gramedia Padang, karena Gramedia mengambil kebijakan untuk menggunakan ISBN kelompok tiga belas angka.

            Kenyataan ini sangat bertolak belakang dengan fungsi dan peranan ISBN yang sesungguhnya. Nomor ISBN belum dimanfaatkan secara maksimal oleh pustakawan. ISBN hanya digunakan sebagai pelengkap isian data pemesanan atau pengolahan koleksi di perpustakaan. Hal ini memungkinkan terjadinya kesalahan dalam pengiriman pesanan oleh penerbit, karena tidak menutup kemungkinan buku dengan judul yang sama dikarang oleh dua orang yang berbeda.

Disamping itu Prosedur untuk mengkomfirmasi buku yang salah kirim cukup rumit. Perpustakaan harus membuat laporan untuk melakukan pemesanan kembali dan menjelaskan adanya kesalahan dalam pesanan. Kesalahan dalam pemesanan koleksi akan berdampak sangat buruk bagi proses pengembangan koleksi di perpustakaan yang bersangkutan. Oleh karena itu, perpustakaan diharapkan dapat menggunaka ISBN dalam daftar usul pengadaan untuk meminimalisir kesalahan tersebut.

Tidak berjalannya fungsi ISBN sebagaimana mestinya disebabkan oleh perbedaan penafsiran masing-masing individu yang memiliki wewenang di perpustakaan  khususnya dalam kegiatan pengadaan. Kebijakan perpustakaan untuk tidak mencantumkan ISBN dalam daftar usul pengadaan menjadi salah satu penghambat yang bersifat intern. Keterbatasan pengetahuan dan kemampuan sumber daya manusia, dalam hal ini pustakawan pun menjadi penyebab tidak difungsikannya ISBN dalam kegiatan pengadaan.

            Faktor ekstern yang menghambat penggunaan ISBN dalam proses pengadaan antara lain, kebijakan sebagian besar penerbit yang tidak mencantumkan ISBN dalam katalog terbitan yang diedarkan ke perpustakaan. Katalog penerbit mengganti ISBN dengan kode produksi dalam pengertian bahwa tidak semua penerbit mencantukan ISBN dalam terbitannya.

Dalam Undang-Undang no.4 tahun 1990 tentang Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekan (KCKR) menyebutkan bahwa, setiap penerbit atau pengusaha rekaman harus menyerahkan hasil produksinya pada perpustakaan Nasional RI dan perpustakaan Nasional di tiap provinsi selambat-lambatnya tiga bulan setelah karya tersebut selesai diproduksi. Ketentuan ini tercakup pada bab I pasal1 ayat 5, bab II pasal 2, dan bab II pasal 3 ayat 1. Undang-undang ini diperkuat dengan adanya Peraturan Pemerintah nomor 70 tahun 1991, tentang pelaksanaan UU nomor 4 tahu 1990 tenang serah simpan karya cetak dan karya rekam tersebut.

Untuk mengatasi kendala yang dihadapi dalam penerapan ISBN, dapat dilakukan dalam beberapa cara, yaitu:

  1. Kebijakan dari perpustakaan atau toko buku untuk selalu menggunakan ISBN dalam daftar usul pengadaan
  2. Daftar usul buku tidak lagi berorientasi pada judul, pengarang, dan penerbit tetapi cukup mencantumkan nomor ISBN, barcode dan jumlah pemesanan
  3. Perpustakaan atau toko buku hanya akan melakukan pemesanan untuk buku-buku yang mencantumkan ISBN dalam katalog penerbit
  4. Penerbit tidak lagi menggunakan kode produksi dalam katalog penerbit, namun diganti dengan ISBN dan barcode-nya. Hal ini bertujuan agar pustakawan pengadaan melampirkan informasi buku dalam daftar usul sesuai yang tertera dalam katalog penerbit.
  5. Toko buku Gramedia, diharapkan hanya akan menggunakan satu barcode  dalam pengadaan dan pengolahan koleksi, yaitu barcode ISBN.
  6. Meningkatkan pengawasan bibliografi di Indonesia dengan memperketat pelaksanaan Undang-undang no. 4 tahun 1990. Tujuannya agar penerbit mendaftarkan KCKR pada Perpustakaan Nasional.
  7. E.     Kesimpulan dan Saran

ISBN merupakan nomor karateristik sebuah terbitan yang dapat meminimalisir kesahan dalam kegiatan pengadaan dan memudahkan tugas pystakwan dan karyawan toko buku dalam pengajuan daftar usul pesanan, pengolahan, maupun temu kembali koleksi. Akan tetapi pada kenyataannya, ISBN tidak difungsikan sebagaimana metinya. Kenyatan tersebut disebabkan oleh beberapa factor sebagaiman yang telah disebutkan, baik dari lembaga penaung, sumber daya manusia dalam hal ini pustakaan dan karyawan toko buku, penerbit, maupun pemerintah.

Untuk mengatasi hal tersebut, diharapkan lembaga penaung dalam hal ini perpustakaan dan toko buku dapat mengeluarkan kebijakan yang mengharuskan penggunaan atau pencantuman nomor ISBN dan barcode dalam daftar usul pemesanan buku. Sedangkan untuk penerbit sendiri, diharuskan untuk mecantumkan ISBN dan barcode dalam catalog penerbit, bukan nomor kode produksi buku.

Pemerintah hendaknya dapat mengawasi secara lebih ketat pelaksanaan Undang-Undang no.4 tahun 1990 mengenai KCKR, terutama pemberian sanksi yang tegas bagi pihak yang tidak melaksanakan atau melanggar. Hal ini juga harus disertai dengan peningkatan pengawasan bibliografi di Indonesia yang berfungsi sebagai pemantau perkembangan keilmuan di tanah air.

DAFTAR PUSTAKA

 

Aman, BS. 2006. Mengenal International Standard Book Number. Jakarta:

            Universitas Indonesia

Anonim. International Standard Book Number. http://en.wikipedia.org/wiki/isbn,

            10 Februari 2008

Anonim. International Standard Serial Number.

            http://en.wikipedia.org/wiki/international.

Anonim.2004.ISBN Agencies: Guidelines for the Implementaion of 13 Digit ISBN.

            Berlin: Stastdbibliothek zu Berlin

Anonim.ISBN Agencies.

            http://www.isbn-international.org/en/agencies/indonesia.html. 10Februari 208

Anonim.Perpustakaan Nasional dan Penerbitan Perlu Saing Koreksi.

            http://www.kompas.com. 5 Juni 2008

Anonim.Perpustakaan Nasional Segera Benahi Layanan SBN.

            http://www.suarapembaharuan.com/News/2007/06/13/kes01.htm. 5 Juni 2008

Anonim. Universal Product Code.

            http://www.isbn-international.org/wiki/universalcode. 10 Februari 2008

Depdikbud. 1986. Perpustakaan Perguruan inggi. Jakarta: Balai Pustaka

Hartono, Bambang. 1986. Sistem dan Pelayanan Informasi. Jakarta: Arga Kencana

            Abadi

International ISBN Agencies. 2005. ISBN User’s Manual. Berlin: International

            ISBN Agency

Ismail, Nurdin. 2007. Validasi ISBN 10dan 13 Angka. Bandung: ITB 

Mansoor, sofia. [s.a]. Pengantar Penerbitan. Bandung : ITB

Sofia. 2008. Pengadaan Bahan Pustaka. Bandung: Angkasa Raya

Sulistyo-Basuki.1991. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia Pustaka

Sutarno NS. 2005. Tanggung JawabPerpustakaan dalam Mengembangkan

            Masyarakat Informasi. Jakarta: Panta Rei.

 Wykes, Zoe. 2005. ISBN-13 for Dumies: Special Edition. Indiana: Willey Publs.

One comment on “PERANAN INTERNATIONAL STANDARD BOOK NUMBER (ISBN) DALAM PROSES PENGADAAN BAHAN MONOGRAF PADA PERPUSTAKAAN DAN TOKO BUKU DI KOTA PADANG

  1. denyzf
    14 Februari 2014

    Apakah KDT dirilis untuk umum?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 7 Desember 2011 by in Perpustakaan.
%d blogger menyukai ini: