Yona Primadesi

Membaca, Menulis, dan Berkarya

Peran Masyarakat Lokal dalam Usaha Pelestarian Naskah-Naskah Kuno

Dipublikasikan pada: Jurnal Bahasa dan Seni Volume X Nomor  2 September 2010

Peran Masyarakat Lokal dalam Usaha Pelestarian

Naskah-Naskah Kuno 

PENDAHULUAN

Naskah merupakan subuah bentuk peninggalan budaya yang sampai sekarang masih dapat dirasakan keberadaannya. Naskah kuno atau manuskrip merupakan dokumen dari berbagai macam jenis yang ditulis dengan tangan tetapi lebih mengkhususkan kepada bentuk yang asli sebelum dicetak (Purnomo, 2010:1). Barried menyatakan bahwa naskah merupakan semua bentuk tulisan tangan berupa ungkapan pikiran dan perasaan sebagai hasil budaya bangsa pada masa lampau (Barried, 1985:54). Pendapat lain menyebutkan bahwa naskah Kuno atau manuskrip adalah dokumen dalam bentuk apapun yang ditulis dengan tangan atau diketik yang belum dicetak atau dijadikan buku tercetak yang berumur 50 tahun lebih (UU Cagar Budaya No. 5 Tahun 1992, Bab I Pasal 2).

Perjalanan peradaban manusia pada masa lalu di ranah minang tidak banyak meninggalkan kabar dalam bentuk naskah-naskah tercetak, yang berbeda dari kebudayaan Melayu dan Jawa (Supriadi, 2001). Hal ini didukung oleh tradisi lisan yang ada di Minangkabau “kaba babarito” yang mengungkap sesuatu pesan dari mulut ke mulut. Hanya sebagian kecil pesan yang digambarkan dalam media tercetak atau dalam bahasa tertulis.

Pada beberapa tempat di Minangkabau atau Sumatera Barat secara umum, dapat ditemukan berita tercetak atau terekam dalam bahasa tulis sebagai peninggalan para leluhur.  Umumnya naskah tua tersebut adalah berupa kitab-kitab tasawuf dan buku-buku ajaran agama, baik yang sudah dicetak maupun ditulis tangan secara manual.

Kerisauan yang mengemuka saat ini adalah bahwa kebanyakan naskah-naskah tua atau media tercetak yang ditinggalkan tersebut tidak lagi terpelihara dengan baik. Bukti-bukti menunjukkan bahwa sebagian besar sudah hilang dan tidak dapat dipahami lagi isinya (Sindunegara, 1997). Berbagai upaya untuk pelestarian (preservasi) naskah-naskah tua tersebut perlu segera dilakukan. Dalam konteks keilmuan, kajian terhadap naskah-naskah tua sebagai bentuk peradaban manusia masa lalu yang dapat dipahami pada masa sekarang sudah ditempatkan sebagai sebuah ilmu baru yakni Filologi.

Salah satu naskah tua yang masih terpelihara sampai saat ini adalah kitab-kitab Tasawuf dan buku-buku ajaran agama di Mushala Paseban Kota Padang, yang selanjutnya di sebut dengan naskah-naskah tua Paseban. Terpeliharanya naskah-naskah tua Paseban, menunjukkan bahwa masyarakat lokal daerah tersebut memiliki energi dan kepedulian sebagai bentuk usaha preservasi naskah tersebut.  Kegiatan ini merupakan praktik kepustakawanan yang dijalankan masyarakat lokal. Pada sebagian daerah di Sumatera Barat, naskah-naskah tua tidak lagi terpelihara dan bahkan sudah hilang ditelan seiring perjalanan waktu.

KAJIAN TEORI

  1. 1.      Naskah-Naskah Kuno dan Perkembangannya

Naskah-naskah kuno merupakan warisan dari sebuah peradaban manusia yang terakumulasi dari sebuah budaya kehidupan masyarakat masa lalu. Selain itu, naskah-naskah kuno mengemban isi yang sangat kaya. Kekayaan tersebut dapat ditunjukkan oleh aneka ragam aspek kehidupan yang dikemukakan, seperti maslah sosial, politik, ekonomi, agama,kebudayaan, bahasa, dan sastra. Apabila dilihat dari sifat pengungkapannya, naskah-naskah kuno isinya mengacu kepada sifat-sifat historis, didaktis, religius, dan belletri. (Barried, 1985:4).

Naskah  yang dimaksud adalah naskah yang  mengandung nilai- nilai yang  menyentuh  berbagai aspek kehidupan  masyarakat sebagai gambaran kehidupan manusia pada masa silam  serta kebudayaannya. Nilai-nilai ini merupakan informasi kepada kita tentang bagaimana mereka hidup, pekerjaan sehari-hari, apa yang dirasakan dan bagaimana sikap hidup mereka (Ikram, 1983). Naskah pada umumnya berwujud buku atau bahan tulisan tangan sehingga naskah memuat cerita yang lebih lengkap dan lebih panjang dan bersifat anonim serta tidak berangka tahun.

Berbicara tentang naskah kuno, berarti berbicara tentang infromasi, karena naskah kuno memiliki nilai informasi yang sangat berharga baik ditinjau dari aspek sejarah naskah tersebut maupun kandungan informasi yang termuat di dalam naskah tersebut.

2.      Usaha Pelestarian Naskah-Naskah Kuno 

Naskah-naskah kuno perlu untuk dilestarikan keberadaannya agar tidak musnah dan bermanfaat bagi kehidupan masyarakatnya. Upaya melestarikan bisa dilakukan melalui penyimpanan di meseum atau perpustakaan serta mengolah dengan mengkaji isi yang terkandung di dalamnya agar mudah dipahami dan dimanfaatkan oleh pengembang kebudayaan.

Penyebab kerusakan bahan pustaka terbagi dua yakni : (1) Faktor eksternal, yaitu kerusakan bahan pustaka yang disebabkan oleh faktor luar dari buku, yang dapat dibagi faktor manusia dan faktor bukan manusia. Faktor  manusia,   yaitu   kerusakan   bahan   pustaka   yang   disebabkan   pemanfaatan   dan   perlakuan terhadap bahan pustaka  yang kurang  tepat. Faktor bukan manusia, antara lain: (a) Suhu dan kelembaban udara; (b) Serangga dan binatang pengerat; (c) Kuat lemahnya cahaya; dan  (d)  Perabot dan peralatan (ANRI, 1990).

Preservasi  dalam  hal-hal  tertentu  pelaksanaannya  memerlukan  keterampilan dan ilmu yang khusus, yang tidak semua orang dapat melakukannya. Pengelola naskah-naskah tua,  sebagai  sumber  daya  manusia  yang  memiliki  tugas  dan  fungsi  di  bidang  kearsipan,  memegang  peranan  penting  terutama  dalam  pelaksanaan preservasi. Peranan arsiparis dalam preservasi dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung yaitu melalui peningkatan wawasan masyarakat dalam hal kearsipan pada umumnya dan preservasi pada khususnya (Boedi, 1994).

Dalam ruang lingkup perpustakaan, pelestarain (preservasi) merupakan suatu pekerjaan untuk memelihara dan melindungi koleksi atau bahan pustaka sehingga tidak mengalami penurunan nilai dan bisa dimanfaatkan oleh masyarakat dalam jangka waktu lama. Tujuan utama pelestarian   bahan   pustaka   adalah untuk melestarikan kandungan informasi yang direkam dalam bentuk fisiknya, atau dialihkan pada media lain, agar dapat dimanfaatkan oleh pengguna perpustakaan. Pengertian bahwa preservasi bahan pustaka ini menyangkut usaha yang bersifat preventif, kuratif dan juga mempermasalahkan faktor-faktor yang mempengaruhi pelestarian bahan pustaka tersebut. Dalam strategi pelestarian (preservasi) naskah kuno, terdapat dua pendekatan yang dilakukan, yaitu pendekatan terhadap fisik naskah dan pendekatan terhadap teks dalam naskah (isi naskah).

Berdasarkan Undang-Undang Cagar Budaya Nomor 5 Tahun 1992 disebutkan bahwa yang merupakan naskah kuno adalah dokumen dalam bentuk apapun yang ditulis dengan tangan atau diketik yang belum dicetak atau dijadikan buku tercetak yang berumur 50 tahun lebih. Dari isi Undang-Undang Cagar Budaya di atasa dapat terbayang bahwa keadaan fisik dari naskah kuno yang berusia 50 tahun lebih tersebut tentu sudah rapuh atau rusak. Preservasi terhadap fisik naskah dilakukan sesuai dengan tujuan preservasi yaitu agar informasi yang terkandung di dalam manuskrip tersebut terjaga dan dapat digunakan secara optimal. Dua hal yang perlu dilakukan dalam preservasi fisik naskah, yaitu dengan melakukan konservasi dan restorasi.

a)      Konservasi

Konservasi adalah seni menjaga sesuatu agar tidak hilang, terbuang, dan rusak atau dihancurkan. Konservasi naskah kuno adalah perlindungan, pengawetan dan pemeliharaan naskah kuno atau dengan kata lain menjaga naskah kuno tersebut dalam keadaan selamat atau aman dari segala yang dapat membuatnya hilang, rusak, atau terbuang. Conservation atau pengawetan terbatas pada kebijakan serta cara khusus dalam melindungi bahan pustaka dan arsip untuk kelestarian koleksi tersebut.

Naskah kuno atau manuskrip mengandung kadar asam karena tinta yang digunakan. Tinta yang digunakan pada manuskrip terbuat dari karbon, biasanya  jelaga, dicampur dengan gum arabic. Tinta ini menghasilkan gambar yang sangat stabil. Agar kondisinya tetap baik, keasaman yang terkandung dalam naskah tersebut harus dihilangkan. Setelah keasamannya hilang, manuskrip dibungkus dengan kertas khusus, lalu disimpan dalam kotak karton bebas asam. Ini merupakan salah satu cara melakukan konservasi terhadap manuskrip.

b)     Restorasi

Setelah dilakukan konservasi, naskah kuno akan mengalami restorasi. Restorasi adalah mengembalikan bentuk naskah menjadi lebih kokoh. Ada teknik-teknik tertentu agar fisik naskah terjaga dan membuatnya kokoh.

Untuk melakukan restorasi harus melihat keadaan manuskrip tersebut, karena tiap kerusakan fisik perlu ditangani dengan cara yang berbeda. Hal ini dikarenakan cara manuskrip rusak ada bermacam-macam, tergantung sebab dan jenis kerusakan. Langkah-langkah melakukan restorasi naskah kuno antara lain:[1]

1)      Membersihkan dan melakukan fumigasi.

2)      Melapisi dengan kertas khusus (doorslagh) pada lembaran naskah yang rentan.

3)      Memperbaiki lembaran naskah yang rusak dengan bahan arsip.

4)      Menempatkan di dalam tempat aman (almari).

5)      Menempatkan pada ruangan ber-AC dengan suhu udara teratur.

c)      Kodekologi dalam Rangka Pelestarian Fisik Naskah

Kodikologi merupakan ilmu yang digunakan untuk melakukan preservasi fisik naskah. Istilah kodikologi berasal dari kata Latin ‘codex’ (bentuk tunggal; bentuk jamak ‘codies’) yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi ‘naskah’— bukan menjadi ‘kodeks’. Sri Wulan Rujiati Mulyadi mengatakan kata ’caudex’ atau ‘codex’ dalam bahasa Latin menunjukkan hubungan pemanfaatan kayu sebagai alas tulis yang pada dasarnya kata itu berarti ‘teras batang pohon’. Kata ‘codex’ kemudian di berbagai bahasa dipakai untuk menunjukkan suatu karya klasik dalam bentuk naskah.

Hermans dan Huisman menjelaskan bahwa istilah kodikologi (codicologie) diusulkan oleh seorang ahli bahasa Yunani, Alphonse Dain, dalam kuliah-kuliahnya di Ecole Normale Seprieure, Paris, pada bulan Februari 1944. Akan tetapi istilah ini baru terkenal pada tahun 1949 ketika karyanya, ‘Les Manuscrits’ diterbitkan pertama kali pada tahun tersebut.

Dain sendiri mengatakan bahwa kodikologi adalah ilmu mengenai naskah-naskah dan bukan mempelajari apa yang tertulis di dalam naskah. Dain juga menegaskan walaupun kata kodikologi itu baru, ilmu kodikologinya sendiri bukanlah hal yang baru. Selanjutnya Dain juga mengatakan bahwa tugas dan “daerah” kodikologi antara lain ialah sejarah naskah, sejarah koleksi naskah, penelitian mengenai tempat naskah-naskah yang sebenarnya, masalah penyusunan katalog, penyusunan daftar katalog, perdagangan naskah, dan penggunaan-penggunaan naskah itu.

Kodikologi, atau biasa disebut ilmu pernaskahan bertujuan mengetahui segala aspek naskah yang diteliti. Aspek-aspek tersebut adalah aspek di luar isi kandungan naskah tentunya. Analisis kodikologi ini, sesuai dengan tujuan, yaitu penyusunan daftar katalog dan juga memberi perhatian pada fisik naskah. Karena dalam katalog, terdapat deskripsi fisik naskah selain informasi di mana naskah itu berada. Pendeskripsian ini berguna untuk membantu para peneliti mengetahui ketersediaan naskah itu sehingga memudahkan penelitian. Pendeskripsian fisik ini dapat berupa judul dan pengarang naskah, tahun dan tempat naskah dibuat, jumlah halaman, latar belakang penulis, dan lain-lain.

Maka selain mencari asal-usul dan kejelasan mengenai kapan, bagaimana, dan dari mana naskah tersebut dihasilkan, analisis kodikologi juga berkembang juga pada ada atau tidaknya illuminasi dan ilustrasi, jumlah kuras naskah, bentuk jilidannya, sejauh mana kerusakan naskah (robek, terbakar, terpotong, rusak karena pernah terkena cairan, dimakan binatang, berjamur, hancur atau patah, dan lain-lain)— pendeknya segala hal yang bisa diketahui mengenai naskah itu.

Hal awal yang biasanya dilakukan dalam analisis kodikologi adalah menyusuri sejarah naskah. Sejarah naskah biasanya didapat dari catatan-catatan di halaman awal atau akhir yang ditulis oleh pemilik atau penyimpan naskah itu. Untuk fisik naskahnya, yang dilihat adalah panjang, lebar, ketebalan naskah keseluruhan, panjang, lebar, dan jumlah halaman yang digunakan untuk menulis, dan bahan atau media naskah.

Setelah hal-hal di atas dilakukan, preservasi masuk ke bagian dalam naskah, yaitu bagian naskah yang ditulisi atau teks. Di sini dilihat jenis huruf dan bahasa yang digunakan, ada atau tidaknya rubrikasi atau penanda awal dan akhir bagian dalam tulisan (biasanya berupa tulisan yang diwarnai berbeda dengan tulisan isi), ada atau tidaknya catchword/ kata pengait yang biasanya digunakan untuk menandai halaman naskah, bentuk tulisan naskah, apakah seperti penulisan cerita pada umumnya, ataukah berbentuk kolom-kolom hingga dalam satu halaman bisa terdapat dua atau lebih kolom tulisan (seperti syair).

Selanjutnya dicek garis bantuan yang digunakan untuk mengatur tulisan, cap kertas (watermark dan countermark) yang menandai perusahaan penghasil kertas alas, ada atau tidaknya iluminasi (hiasan di pinggir naskah) dan ilustrasi (bagian yang berisikan gambar keterangan yang menjelaskan sesuatu dalam naskah). Tak lupa pula kerusakan-kerusakan yang ada dicatat.

HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. 1.      Keberadaan Naskah-Naskah Kuno Paseban

Surau Paseban terletak di Kampung Koto Tangah, Koto Tinggi Kecamatan Kota Tangah Padang. Tidak ditemukan sumber pasti, kapan surau tersebut didirikan. Satu-satunya sumber informasi tentang sejarah berdirinya sura Paseban ini diperoleh dri Buya Azrinaldi, orang yang bertanggungjawab untuk menjaga dan memelihara surau tersebut. Informasi yang diperpileh Buya Azrinaldi dari Buya Idris bahwa surau Paseban berdiri sekitar tahun 1921 dan didirikan oleh Syekh Paseban Assyattari Rahimahullah Taala Anhuri

Suaru Paseban merupakan salah satu skriptorium dari naskah-naskah kuno minangkabau. Semua naskah yang ada disurau Paseban diduga merupakan tulisan tangan dari Syekh Paseban. Surau Paseban menyimpan lebih kurang 29 naskah kuno. Keseluruhan naskah tersebut ditulis dalam aksara Arab dan berbahasa Arab. Penggunaan aksara Arab dalam aktivitas tulis-menulis disebabkan karena masyarakat Minangkabau merupakan salah satu dari masyarakat Nusantara yang tidak memiliki sistem aksara sendiri. Masyarakat Minagkabau lebih mengenal aksara Arab dibandingkan aksara Hindu mapun Budha karena aksara Arab bisa digunakan oleh semua lapisan masyarakat pada saat itu, sedangkan aksara Hindu atau Budha hanya digunakan oleh kalangan tertentu atau kalangan kerajaan. Aksara arab yang digunakan merupakan bentuk perpaduan antara huruf arab dengan bahasa yang umum digunakan masyarakat minangkabau, yakni bahasa Melayu atau bahasa lokal sehingga aksara Arab tersebut mengalami perubahan karena terdapat ketidaksesuaian ejaan antara bahasa Arab dan bahasa Melayu atau bahasa lokal.

Naskah-naskah tersebut, seperti yang disampaikan oleh Kelompok Kajian Puitika-Fakultas Sastra Universitas Andalas,terdiri dari 5 versi kitab tafsir Al-Qur’an, kitab tafsir Gharbi Al-Qur’an, kitab Ma’ani, kitab ilmu Bayan, Badiq, Ma’ani, kitab Mantiq, kitab Yahya Mahyudin Abu Zahir Ibnu Sarakun Nawawi, kitab Syahru Minhaz, kitab Jraraj, kitab Sarah Minhaj, kitab Al-Bahri, kitab cerita Nabi Adam, serta 4 versi kitab Nahwu.

Menurut keterangan Buya Imam Maulana Abdul Manaf Amin Al-Khatib, sepeninggal Buya Paseban banyak naskah-naskah tersebut yang hilang, sehingga jika dikalkulasikan jumlah keseluruhan naskah pada awalnya mencapai 70 naskah. Nasah-naskah yang hilang tersebut dikarenakan sikap masyarakat yang kurang bertanggungjawab yang pada awalnya hanya sekedar meminjam naskah akan tetapi tidak dikembalikan lagi ke suaru Paseban.

Surau Paseban merupakan surau yang produktif dalam melahirkan naskah-naskah kuno atau manuskrip. Dari keseluruhan koleksi naskah yang ditemukan, terlihat adanya perbedaan naskah dari segi karakter huruf maupun jenis kertas. Hal ini menunjukan bahwa naskah-naskah yang terdapat di surau Paseban ditulis oleh sejumlah orang dalam rentang waktu yang tidak sama.

Suarau Paseban telah memainkan peranan penting dalam proses transmisi budaya pada masanya. Hal tersebut dapat dilihat dari kegiatan penulisan dan penggandaan naskah serta pengajaran yang dilakukan di surau Paseban. Yunis (2010) menyatakan bahwa naskah-naskah yang terdapat di surau Paseban berusia cukup tua, ditulisan sekitar 1632 M – 1808 M. Hal tersebut bisa dibuktikan melalui tes cap air kertas.

Informasi yang diperoleh di lapangan menunjukkan bahwa secara garis besar koleksi naskah yang terdapat di suaru Paseban bisa dikelompokkan menjadi tiga. Pertama, naskah yang dibawa oleh Syekh Paseban dari tempat beliau berguru. Kedua, naskah karangan Syekh Paeban sendiri maupun salinan dari kitab-kitab sebelumnya. Ketiga, naskah yang dikarang atau ditulis ulang oleh para murid, baik ketika menetap di surau maupun ketika mereka mendirikan surau di daerah masing-masing.

Akan tetapi yang menjadi masalah besar bagi kelangsungan nilai informasi dari naskah-naskah kuno di surau Paseban tersebut adalah kondisi naskah yang sangat memperihatinkan. Sebagian besar naskah berada dalam keadaan rusak berat, habis dimakan rayap atau kutu buku, keadaan kertas yang sangat rapuh, warna kertas yang sangat memprihatinkan yang pada akhirnya menyebabkan naskah tersebut tidak bisa dibaca atau digunakan kembali.

  1. 2.      Peran Masyarakat Lokal dalam Usaha Pelestarian Naskah-Naskah Kuno Paseban

Temuan yang diperoleh dari hasil wawancara dan observasi menunjukkan bahwa masyarakat lokal dalam hal ini masyarakat di sekitar surau Paseban belum berperan aktif. dalam kegiatan pelestarian bahan pustaka. Hal ini bisa ditunjukkan dari kenyataan bahwa sebagian besar naskah berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.

Pengelolaan naskah-naskah kuno di surau Paseban masih sangat sederhana. Kegiatan pemeliharaan naskah hanya dilakukan oleh buya atau guru mengaji di surau tersebut dan terbatas pada bentuk pemeliharaan dengan cara membersihkan dari debu dan menjaga naskah agar tidak kelua dari surau tersebut. Hal ini dikarenakan masih rendahnya tingkat pemahaman masyarakat terhadap arti penting naskah-naskah kuno bagi kelangsungan warisan budaya.

Pemerintah khususnya perpustakaan dan museum, selaku pihak yang paling bertanggungjawab terhadap pengelolaan naskah-naskah kuno dinilai kurang responsif. Pemahaman masyarakat yang masih rendah serta pemerintah yang kurang cepat tanggap semakin memperburuk kondisi naskah-naskah kuno tersebut.

Kegiatan yang umum dan rutin dilakukan dalam rangka pengelolaan dan pemeliharaan naskah-naskah kuno tersebut, antara lain:

  1. Penyimpanan naskah

Sejak tahun 2009, naskah-naskah kuno yang terdapat di surau Paseban disimpan pada sebuah lemari kaca. Untuk mencegah muncul binatang pengerat, larva dan kutu buku disektra naskah ditaburi kampher atau silica gel.

  1. Pemeliharaan naskah

Kegiatan pemeliharaan yang dilakukan masih sebatas membersihkan naskah dari debu dan kotoran yang biasa dilakukan satu kali dalam dua minggu. Tidak ada perlakuan khusus dalam kegiatan pembersihan ini, sehingga tak jarang tanpa disadari kegiatan pembersihan  justru semakin merusak nilai dan kondisi fisik naskah.

Sebagian besar naskah berusia lebih dari 100 tahun yang mengakibatkan daya tahan kertas semakin berkurang. Tidak sedikit dari naskah-naskah tersebut yang telah rapuh, sehingga kegiatan pembersihan yang dilakukan secara manual justru akan semakin memperparah kerusakan yang ada. Selain itu, tidak ada pemeliharaan atau penangan khusus terhadap naskah-naskah yang sudah mulai memudar atau berwarna kekuningan, kertas-kertas yang sudah mulai sobek atau berlubang dimakan rayap, serta perbaikan penjilidan naskah tersebut.

Tahun 2009  pasca gempa 30 September di kota Padang, pihak Perpustakaan Daerah Sumatera Barat bekerjasama dengan Fakultas Sastra Universitas Andalas dan Preservation department of Kyoto University melakukan kegiatan preservasi terhadap naskah-naskah kuno di surau Paseban. Kegiatan yang dilakukan berupa penjulidan, pembersihan naskah dari debu dan kotoran, laminating, penambalan naskah, serta kegiatan alih media atau digitalisasi naskah. Kegiatan tersebut masih dilakukan hingga saat ini dan berkala setiap tahunnya.

  1. Aturan dalam penggunaan naskah

Untuk melindungi naskah dari factor penggunaan dan penangan yang salah, pihak surau membuat aturan kepada semua pengunjung surau Paseban untuk tidak membawa naskah-naslah tersebut keluar surau Paseban. Naskah hanya diizinkan untuk dilihat dan dibaca di tempat, dan hanya berlaku untuk naskah-naskah tertentu yang dianggap masih layak. Naskah-naskah yang sudah rusak atau dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, tidak diperbolehkan untuk dibaca.

  1. Pengamanan naskah

Naskah-naskah pada surau Paseban tidak meliliki sistem pengamanan khusus. Pengamanan naskah hanya dalam bentuk kegiatan penyimpanan naskah dalam lemari kaca yang terkunci dan menjaga naskah agar tidak hilang atau dipinjam.

SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan. Pertama naskah-naskah tua yang terdapat di surau Paseban berjumlah 29 naskah dan berusia lebih dari 100 tahun. Kedua, naskah tersebut sebagian besar dalam keadaan rusak dan tidak layak pakai. Ketiga, kegiatan yang dilakukan dalam rangka preservasi naskah kuno dilakukan oleh masyarakat lokal, terutama pengurus surau Paseban, kegiatan tersebut masih berupa kegiatan sederhana seperti penyimpanan naskah dilemari kaca, dan pembersihan naskah. Keempat, sebagian besar masyarakat masih belum menyadari akan arti penting keberadaan naskah-naskah kuno tersebut, sehingga masyarakat bersikap kurang responsif bahkan cenderung destruktif 


 

Daftar Pustaka

Arsip Nasional Republik Indonesia.1980. Pemeliharaan dan Penjagaan Arsip. Jakarta

Apostel, Richard and Boris Raymond. 1997. Librarianship and the Information Paradigm. London: The Scarecrow Press.

Buckland,, Michael. 2001.  Redesigning Library Services: A Manifesto.  New York: American Library Association.

Ensiklopedi Nasional Indonesia, Jilid. 3.  Jakarta: Cipta Adi Pustaka. 1989.

Hardjoprakoso, Mastini.  1997.  “Buku dan Perpustakaan”.  Di dalam Buku Membangun Kualitas Bangsa : Bunga rampai sekitar Perbukuan di Indonesia.  Yogyakarta: Kanisius.

Kasbolah, Kasihani. 1992.  “Studi Kepustakaan”  di dalam  Forum Penelitian,  4(1&2).

Magnis-Suseno, Franz. 1997.  “Memanusiakan Buku – Membukukan Manusia”. Di dalam Buku Membangun Kualitas Bangsa : Bunga rampai sekitar Perbukuan di Indonesia. Kanisius. Yogyakarta

Martono, Boedi.1994. Penyusutan dan Pengamanan Arsip Vital dalam Manajemen   Kearsipan. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.

Purwono, 2004. Buku Dan  Perpustakaan : Catatan Memori  Bangsa Pembangkit Nasionalisme.

Rowley, Jennifer.  1996.   Organizing of Knowledge.  London: Library Association.

Somadikarta, Lily K. 1998.  “Perkembangan dalam pengelolaan informasi”, di dalam Analisis Kebudayaan.

Sudarsono, Blasius.2006.  Antologi Kepustakawanan Indonesia.  Editor Joko Santoso.  Jakarta: PP IPI.

Sulistyo-Basuki. 1991. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

——————-. 2000. “Potensi Perpustakaan dalam Menghadapi Krisis Sosial Budaya”

Suryadi. 2007. Yang Tersisa Dan Masih Bertahan Dari Tradisi Pernaskhahan Minangkabau. Fakultas Sastra Universitas Andalas.

Wursanto, Ig. 1990. Kearsipan 1. Yogyakarta : Kanisius


 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 7 Desember 2011 by in Naskah Minangkabau.
%d blogger menyukai ini: