Yona Primadesi

Membaca, Menulis, dan Berkarya

OPTIMALISASI PERPUSTAKAAN DALAM MEMBANGUN MINAT BACA SISWA

Dipublikasikan pada: 

Jurnal Suluah Bendang

Volume IX, Nomor 1 April 2009

 

Optimalisasi Perpustakaan dalam Proses Membangun Minat Baca Siswa Sebagai Salah Satu Usaha Meningkatkan Kualitas Pendidikan

Quality of education in Indonesia has faced a serious problem. According to the survey of 55 countries in the world, the quality of education in Indonesia ranked 53, which also affect the Human Development Index ranking (HDI) which is at 107th position from 177 countries. The main problem facing our nation in the field of education is the low quality of human resources due to community interest in reading. Reading interest of students in Indonesia is in the same level with the children in the State of South Africa. One of the factors that affect the low interest in reading is the limited number of school libraries and the library managements are not based on the needs of students’ knowledge. Therefore, libraries are expected to be able to function optimally as a center of activities due to reading interest and to develop reading habits

 

  1. 1.      Pendahuluan

Berdasarkan berbagai hasil survey yang dilakukan oleh beberapa pihak, Indonesia termasuk kedalam salah satu Negara berkembang yang minat baca penduduknya masih dibawah rata-rata.  Survey yang dilakukan oleh International Asociation for Evaluation of Educational (IEA) pada tahun 1992 menyebutkan bahwa kemampuan membaca siswa sekolah dasar kelas IV di Indonesia berada pada urutan ke 29 dari 30 negara, satu tingkat di atas Venezuella. International Association for Evaluation of Educational Achievement (IAEEA) pada tahun 1996 menyebutkan bahwa kemampuan baca anak usia 9 hingga 14 tahun berada pada urutan ke-41 dari 46 negara. Selain itu, Data Bank Dunia pada awal tahun 1998 menginformasikan bahwa kebiasaan membaca anak-anak di Indonesia berada pada peringkat paling rendah, setara dengan Negara-negara belahan bagian selatan. Sedangkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2006 menyebutkan bahwa masyarakat Indonesia lebih cendrung untuk menggunakan televisi sebagai media pemerolehan informasi, bukan melalui media buku. Hal ini menunjukkan bahwa membaca belum menjadi prioritas dan kebutuhan utama masyarakat Indonesia, khususnya anak usia sekolah

Rendahnya minat baca masyarakat khususnya dikalangan siswa berdampak buruk terhadap kualitas pendidikan di Indonesia. Kualitas pendidikan Indonesia masih jauh tertinggal dari Negara-negara tetangga. Berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh Political and Economy Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia berada di urutan paling bawah dari 12 negara di Asia, bahkan jauh lebih buruk dibandingkan kualitas pendidikan di Vietnam.

Rendahnya kualitas pendidikan berimplikasi pada kemampuan sumber daya manusia dalam mengelola masa depan. Implikasi lain dari rendahnya kualitas pendidikan dapat dilihat dari Human Development Index (HDI) yang hanya berkisar di anga 0,728 atau berada diurutan ke-107 dari 177 negara dan menempati posisi ke-7 untuk Negara-negara Asean. Selain itu, rendahnya kualitas sumber daya manusia secara langung atau tidak langsung memperpanjang angka kemiskinan di Indonesia, memberikan pengaruh negatif terhadap keefektifan pemerintah sebagai pengelola negara, serta memicu kekerasan dan anarkhisme.

Rendahnya minat baca masyarakat Indonesia salah satunya dipengaruhi oleh minimnya fasilitas pendukung, seperti perpustakaan. Oleh karena itu, pemerintah diharapakan mampu memberikan perhatian khusus kepada perpustakaan sebagai sarana dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.

Jumlah perpustakaan umum sebagai salah satu tempat mendapatkan bahan bacaan bagi masyarakat hanya berkisar 2.585 perpustakaan. Hal ini tidak sebanding dengan jumlah penduduk Indonesia yang melebihi angaka 200 juta jiwa, sehingga jika dirasionalkan, maka satu perpustakaan umum terpaksa melayani hampir 85 ribu penduduk.

Minimnya bahan bacaan pun menjadi salah satu hambatan terbesar bagi masyarakat Indonesia dalam menumbuhkan dan mengembangkan minat baca. Indonesia hanya mampu menerbitkan lebih kurang 10.000 judul buku dalam setahun. Jumlah ini sangat jauh tertinggal jika dibandingkan dengan China yang mampu menghasilkan 140.000 judul buku setahun, dan Vietnam 15.000 judul buku dalam setahun.

  1. 2.      Keberadaan Perpustakaan Sekolah di Kalangan Masyarakat

            Sudah menjadi rahasia umum bahwa perpustakaan sebagai institusi informasi semakin usang dan tidak diperdulikan diantara kemajuan teknologi informasi yang sarat dengan kehandalan konvergensi medianya. Perpustakaan bagi kebanyakan orang hanyalan ruang sempit di ujung koridor sekolah yang menjadi tempat tumpukan buku-buku usang dan penuh debu, ditambah dengan paradigma pustakawan yang galak dan tidak bersahabat. Jumlah perpustakaan yang tidak sebanding dengan jumlah penduduk di Indonesia memperpanjang daftar buram nasib perpustakaan sebagai media peningkatan kualitas pendidikan.

Terbatasnya jumlah perpustakaan sekolah yang memadai, tidak dapat dipungkiri menjadi faktor penyebab rendahnya minat baca dikalangan anak usia sekolah. Dari 110 ribu sekolah yang ada di seluruh Indonesia, teridentifikasi tidak lebih dari 18% yang memiliki perpustakaan sekolah.

            Dari 200 ribu unit sekolah dasar di Indonesia, hanya 20 ribu diantaranya yang memiliki perpustakaan standar. Demikian pula dengan SLTP yang hanya 36% dari jumlah keseluruhan sekolah yang memiliki perpustakaan yang memadai. Untuk SMU, hanya 54% yang memiliki perpustakaan berkualitas standar. Sedangkan dari 1.000 instansi, diperkirakan baru 80% sampai 90%  yang memiliki perpustakaan dengan kualitas standar.

            Dari data tersebut dapat dilihat bahwa, sekolah di Indonesia masih minim dalam memfasilitasi perpustakaan sebagai sarana sumber ilmu pengetahuan. Perpustakaan belum dijadikan sebagai bagian dari sivitas pendidikan yang berfungsi menunjang kemajuan dan kualitas pendidikan itu sendiri, sehingga perpustakaan belum diperhatikan dan dikoordinir secara serius. Bahkan pihak sekolah tidak memaknai perpustakaan sebagai sarana penunjang utama yang perlu untuk dikembangkan kearah yang lebih maju dan professional.

            Pengelolaan perpustakaan sekolah yang terkesan setengah hati, makin memperburuk keburaman dunia pendidikan di Indonesia. Oleh sebab itu, potret buram dalam dunia pendidikan tidak hanya semata-mata dipengaruhi oleh rendahnya anggaran pendidikan dan tidak meratanya guru di Indonesia, tapi juga dipengaruhi oleh minimya jumlah sarana dan prasarana yang dapat membangun minat baca peserta didik. Perpustakaan sekolah masih dianggap sebagai bagian yang kurang penting dalam dunia pendidikan, sehingga peprustakaan sekolah tidak menjadi bagian yang perlu diperhitungkan dalam proses pengembangan di lingkungan pendidikan dasar dan menengah.

  1. 3.      Peranan dan Manfaat Perpustakaan

            Fenomena yang berkembang dalam masyarakat saat ini, pada umumnya tujuan dan fungsi perpustakaan sekolah  hanya berfokus pada kebanggaan pribadi, dalam hal ini sekolah. Bagi banyak sekolah, alasan mereka mendirikan perpustakaan hanya untuk menunjukkan kehebatan fasilitas, bukan pada arti makna dan fungsi perpustakaan sebagai pusat belajar yang sesungguhnya. Sehingga sering sekali dijumpai perpustakaan yang handal dalam fasilitas, tetapi tidak dalam hal peneluran program perpustakaan yang sesungguhnya dalam fungsi dan peranannya guna meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

            Peranan  perpustakaan sekolah dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, yaitu :

  1. Menumbuhkan kecintaan membaca, memupuk kesadaran membaca, dan menanamkan kebiasaan membaca dikalangan sivitas pendidikan.
  2. Membimbing dan mempercepat penguasaan teknik membaca
  3. Memperluas dan memperdalam pengalaman belajar
  4. Membantu perkembangan percakapan bahasa dan daya fikir siswa
  5. Menumbuhkan kesadaran guna menggunakan dan memelihara bahan pustaka bersama.
  6. Memberikan dasar-dasar kemampuan penelusuran informasi

Selain itu, perpustakaan sekolah juga berperan dalam menunjang proses kegiatan belajar mengajar di sekolah. Perpustakaan sekolah memiliki peranan dalam memacu tercapainya tujuan pendidikan.

  1. 4.      Optimalisasi Perpustakaan dalam Meningkatkan Minat Baca Siswa

Kelalaian pengelolaan peprustakaan sekolah di Indonesia, berakibat buruk terhadap perspektif perpustakaan itu sendiri. Perpustakaan masih dominan dipandang sebagai tempat penyimpanan buku-buku yang sumpek dan membosankan. Pandangan seperti ini dapat dirubah dengan mengoptimalkan pengembangan perpustakaan khususnya perpustakaan sekolah.

Optimalisasi pengelolaan perpustakaan harus didukung oleh pengelolaan perpustakaan yang profesional dan modern oleh pihak sekolah, sehingga masyarakat dapat melihat perubahan yang kongkritdari sebuah perpustakaan. Terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan oleh sekolah dalam rangka merubah stigma masyarakat tentang keberadaan sekolah. Pertama, dengan pengelolaan peprustakaan yang lebih profesional. Kedua, pengembangan perpustakaan dengan fasilitas yang memadai.

Salah satu faktor yang menghambat pengembangan perpustakaan di Indonesia adalah pengelolaan yang masih jalan di tempat. Perpustakaan masih dikelola dengan sistem manual dan hal ini berakibat terhadap ketidaknyamanan dalam pemanfaatan perpustakaan. Disamping itu, ruang perpustakaan belum tertata dengan apik dan menyenangkan, padahal suasana ruang baca sangat mempengaruhi terhadap kenyamanan pengguna perpustakaan.

Selain itu, koleksi perpustakaan sekolah belum mengalami pomedernisasian baik dalam hal kualitas, isi, maupun pengolahan. Koleksi buku-buku tersebut masih didominasi oleh literatur ilmiah, padahal dalam sebuah perpustakaan khususnya perpustakaan sekolah seluruh jenis bahan bacaan termasuk fiksi merupakan koleksi perpustakaan.

  1. a.      Pengembangan koleksi Perpustakaan

Permasalahan utama di perpustakaan sekolah adalah koleksi yang tidak memadai. Sebagaian besar koleksi perpustakaan sekolah hanya dipnuhi oleh buku-buku paket atau buku bacaan yang bahkan sudah tidak laik baca. Akibatnya, perpustakaan sekolah menjadi kurang popular dikalangan peserta didik. Hal ini pula yang menyebabkan perpustakaan tidak memiliki kolerasi yang signifikan dengan peningkatan kualitas pendidikan.

Hal semacam ini terjadi bukan hanya karena sekolah tidak memliki startegi dalam pengembangan perpustakaan, tetapi juga karena sekolah masih beranggapan bahwa perpustakaan semata-mata hanya menjadi tempat penyimpanan buku-buku paket yang dihadiahkan oleh pemerintah.

Untuk membangun perpustakaan yang memiliki peranan dalam meningkatkan minat baca siswa, sekolah perlu memperhatikan dan mempertimbangakan kebijakan-kebijakan yang berhubungan dengan pengadaan koleksi bagi perpustakaan. Koleksi perpustakaan haruslah bersifat Up to date dan dilakukan secara berkesinambungan. Perpustakaan sekolah hendaknya tidak saja diisi oleh buku-buku paket yang  menjemukan, tetapi juga diiringi dengan pengadaan bahan bacaan lain, baik yang bersifat fiksi maupu non-fiksi. Sekolah hendaknya menghilangkan anggapan bahwa pengadaan koleksi yang bersifat fiksi hanya akan membuat siswa menjadi malas belajar.

Dalam manajemen koleksi, pada dasarnya jumlah bukan suatu hal yang menjadi sangat prinsip, akan tetapi lebih penting bagaimana koleksi tersebut dapat dimanfaatkan dengan baik.

it doesn’t matter how many books you may have, but whether they are good or no”.

Tahun 1994, Ditjen Dikdasmen memprakasai survey guna memilih buku-buku bacaan yang sesuai dengan kebutuhan anak. Dengan cara ini, anak-anak dilibatkan dan didengarkan kebutuhannya.

Koleksi yang terdapat di peprustakaan sangat mempengaruhi keberhasilan sebuah perpustakaan dalam meningkatkan minat baca siswa karena koleksi atau bahan bacaan merupakan daya tarik yang sangat potensial bagi sebuah perpustakaan untuk menerima kunjungan bahakan untuk mengembangkan tradisi membaca.

  1. b.      Pengembangan Fasilitas Perpustakaan

Permasalahan lain yang dihadapi oleh perpustakaan sekolah adalah minimnya fasilitas standar perpustakaan. Tanpa disadari, fasalitas perpustakaan justru dpat merubah image perpustakaan sebagai gudang buku.

Fasilitas perpustakaan menjadi sisi lain yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan perpustakaan. Acapkali yang menjadi masalah adalah “ketiadaan” dan “ketidakberdayaan” fasilitas di perpustakaan.

Strata sekolah, mempengaruhi karakteristik fasilitas perpustakaan yang tersedia. Akan tetapi terdapat 3 hal yang harus diperhatikan sekolah dalam hal fasilitas perpustakaan,

 

  1. Kenyamanan
  2. Keterbukaan atau penerimaan
  3. Kemudahan bagi pengguna

Selain itu perpustakaan sudah sepatutnya dilengkapi dengan ruang baca, yang tidak hanya layak tapi juga nyaman. Selain itu perpustakaan dituntut untuk mampu menyediakan koleksi yang sejalan dengan perkembangan ilmu dan teknologi dewasa ini. Selain koleksi yang sudah mengedepankan bentuk audio-visual, perpustakaan hendaknya dilengkapi dengan sarana internet yang memungkinkan peserta didik mengikuti pekembangan informasi dan pengetahuan terkini dari seluruh belahan dunia.

Perpustakaan sekolah yang sebagian besar penggunanya adalah anak usia sekolah, harus mampu menampilkan suasana perpustakaan yang bersahabat, rileks, penuh kreativitas, serta tempat bermain dan belajar. Sekolah hendaknya jangan menciptakan sebuah image  perpustakaan yang menakutkan tapi justru sebaliknya. Jika lingkungan perpustakaan sudah cukup kondusif bagi peserta didik, maka perpustakaan akan dapat menjalankan perannya secara maksimal dalam meningkatkan minat baca siswa.

Fasilitas perpustakaan sekolah yang minim, pada dasarnya telah memberikan dampak terhadap pelaksanaan fungsi perpustakaan sebagai sarana pembangun minat baca peserta didik. Keterbatasan fasilitas ini dialami oleh hampir seluruh perpustakaan sekolah di Indonesia. Oleh karena itu, sudah saatnya sekolah merancang fasilitas yang memadai bagi peprustakaan guna terciptanya fungsi perpustakaan dalam membangun minat baca siswa.

  1. c.       Membangun Kerjasama dan Peran Serta Masyarakat

Pihak sekolah sudah saatnya merancang strategi dalam rangka pengembangan perpustakaan sekolah. Diharapkan, sekolah tidak lagi memfokuskan pengembangan perpustakaan hanya dari anggaran yang dialokasikan pemerintah tetapi juga dapat dilakukan dengan mengikutsertakan masyarakat pendukung sekolah.

Jika pihak sekolah masih bertolak pada anggaran pemerintah untuk pengembangan perpustakaan, maka sekolah yang mempunyai perpustakaan yang representative dimasa yang akan datang tidak begitu menjanjikan. Hal ini dikarenakan masih kecilnya alokasi Anggran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk pengembangan pendidikan. Oleh karena itu, sekolah harus mampu mengorganisir institusi pendidikan tersebut meskipun dengan keterbatasan dana.

Perpustakaan sekolah dapat dikembangkan dengan pemberdayaan masyarakat disekitar lingkungan sekolah karena pengembangan perpustakaan sekolah tidak bisa menunggu terlalu lama kucuran dana dari pemerintah.

Pengembangan perpustakaan sekolah sudah saatnya dilakukan dengan menjalin kerjasama antara lingkungan sekolah dan masyarakat, sehingga pada akhirnya perpustakaan sekolah diharapkan mampu tumbuh dan berkembang menjadi sebuah institusi yang ideal dalam pengembangan minat baca peserta didik.

Jalinan kerjasama ini tidak hanya dilakukan dengan orang tua murid, tetapi dapat dilakukan dengan masyarakat luas dan pada akhirnya peprustakaan dituntut untuk mampu meningkatkan sumber daya peprustakaan berupa koleksi, fasilitas yang berpotensi guna mewujudkan sebuah peprustakaan sekolah yang ideal.

  1. d.      Menghidupkan Kembali Fungsi Perpustakaan sebagai Ruang Publik

Akrab dengan perpustakaan dan tahu tentang keberadaan perpustakaan adalah jawaban dari semua premis-premis negatif yang berkembang dimasyarakat. Perpustakaan harus dikenalkan sejak kecil, mulai dari bangku sekolah dasar bahkan dari bangku taman kanak-kanak. Dalam proses pengenalan inilah, perpustakaan harus mampu memaksimalkan fungsinya sebagai ruang publik bukan hanya sebatas ruangan atau gudang penyimpan buku.

Perpustakaan harus mampu hadir sebagai sosok tempat yang selain menawarkan informasi dan pengetahuan juga memberikan kenyamanan dan suasana belajar yang kondusif bagi masyarakat, dalam artian bahwa perpustakaan bisa digunakan kapan pun oleh siswa.

Perangkat sekolah, terutama guru harus mampu menggalakkan kembali fungsi perpustakaan sebagai sumber ilmu dan tempat bermain. Siswa dapat mengerjakan tugas di perpustakaan, bahkan siswa pun dapat beristirahat, bermain, atau bercengkrama dengan teman di perpustakaan sekolah. Selain itu, perpustakaan pun dapat dijadikan sebagai media silaturahmi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, guru dengan orang tua, maupun sekolah dengan masyarakat luas.

Dengan demikian masyarakat akan lebih menenal perpustakaan, bukan hanya sebatas gudang buku tapi lebih kepada tempat yang nyaman untuk belajar dan beerkomunikasi.

  1. 5.      Simpulan

Dalam rangka mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas guna menyelamatkan kualitas pendidikan di Indonesia, perpustakaan sebagai salah satu sarana perlu mendapat perhatian khusus, tidak hanya dari peerintah tapi juga dari masyarakat itu sendiri.

Minat baca yang rendah merupakan salah satu akibat dari minimnya sarana dan prasarana perpustakaan sebagai lembaga utama dalam penumbuh kembang minat baca dikalangan peserta didik. Keberadaan perpustakaan sekolah masih sebatas gudang tempat penyimpanan buku dan masih jarang sekali kita jumpai perpustakaan yang memenuhi kriteria. Hal ini bisa terlihat jelas dari koleksi baik dari segi kualitas maupun kuantitas, minimnya fasilitas, serta pengelolaan perpustakaan yang tidak professional.

Untuk mengatasi permsalahan yang dihadapi oleh perpustakaan tersebut, sekolah dapat mengembangkan program yang cerdas dan berkesinambungan dalam peningkatan kualitas perpustakaan sebagai media penumbuhkembang minat baca siswa. Diantaranya yaitu dengan adanya pengembangan koleksi perpustakaan yang terpadu, pengembangan fasilitas perpustakaan yang mengutamakan kenyamanan pengguna, peningkatan kerjasama antara perpustakaan dengan masyarakat luas dalam rangka peningkatan mutu perpustakaan, serta membangun kembali fungs perpustakaan sebagai sebuah ruang publik.

 

 Daftar Pustaka

 

Alfons, Taryadi. 2003. Indonesia Baru. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

Anonim. 2006. School Library Management. Canada: Saschatcewan School

Burns, Susan. 1998. Starting Out Right. [s.l]: [s.n]

Illich, I. 1969. Celebration of Awarness: a Call for Institution Revolution. USA:

            Pantheon Books.

Lasa. 2007. Manajemen Perpustakaan Sekolah. Jogyakarta: Pinus Book

Sulistyo Basuki. 1993. Pengantar Ilmu Perpustakaan.Jakarta: Gramedia Pustaka

Supriadi, Dedi. 2000. Anatomi Buku Sekolah. Jogyakarta: Adi Cipta

Surachman, Arif. 2006. Manajemen Perpustakaan Sekola. Jogyakarta: UGM

2 comments on “OPTIMALISASI PERPUSTAKAAN DALAM MEMBANGUN MINAT BACA SISWA

  1. sigit
    17 Februari 2012

    Tulisan yang bagus. Saya lagi buat artikel tentang perpustakaan.Mohon ijin untuk mengutip data data dari tulisan ini. Terima .kasih

  2. Abdul Mu'iz
    14 September 2014

    makasih gan atas infonya, buat referensi Karil saya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 7 Desember 2011 by in Perpustakaan.
%d blogger menyukai ini: