Yona Primadesi

Membaca, Menulis, dan Berkarya

HEGEMONI PEMERINTAH KOLONIAL BELANDA TERHADAP KEBERADAAN NASKAH MINANGKABAU

Hegemoni Pemerintah Kolonial Belanda Terhadap Keberadaan Naskah-Naskah Kuno Minangkabau Beraksara Arab-Melayu

1.1.Latar Belakang

Selama ini terdapat anggapan bahwa sebelum intervensi pemerintah kolonial Belanda, bangsa Indonesia adalah bangsa yang buta huruf. Jika yang dimaksud adalah buta huruf latin mungkin benar, akan tetapi kalau buta huruf tradisional-lokal, realitas sejarah tidak dapat menerima anggapan tersebut karena masyarakat Indonesia telah memiliki aksara lokal atau aksara daerah. Aksara lokal tersebut telah banyak menghasilkan teks-teks berupa naskah yang berisi nilai kehidupan masyarakat pada saat itu. Selain itu, aksara lokal telah menjadi aksara pengantar dalam sisitem pendidikan tradisional masyarakat Indonesia. Salah satunya masyarakat Minangkabau yang menggunakan aksara Arab-Melayu sebagai aksara lokal.

Aksara lokal masyarakat Minangkabau merupakan adaptasi dari aksara Arab dengan kebudayaan masyarakat setempat, yang dibawa oleh pedagang dari bangsa Arab, dan dikenal dengan nama aksara Arab-Melayu atau aksara Arab gundul. Aksara Arab-Melayu diajarkannya dalam sistem pendidikan tradisional Minangkabau melalui surau-surau. Selain itu, aksara Arab-Melayu pun melatarbelakangi lahirnya teks-teks berupa naskah yang berisi nilai-nilai kehidupan masyarkat Minangkabau pada saat itu.

Teks berisi nilai, pengetahuan, kebiasaan, adat-istiadat, bahasa, kesenian, dan tata cara hidup yang tertuang di dalam tulisan, dalam bentuk naskah, dan tersimpan didalam memori masyarakat, dalam bentuk ingatan dan diturunkan dari generasi ke genarasi. Pada beberapa tempat di Minangkabau atau Sumatera Barat secara umum, dapat ditemukan berita tercetak atau terekam dalam bahasa tulis sebagai peninggalan para leluhur.

Di Sumatra Barat, naskah-naskah itu disimpan di beberapa lembaga formal, lembaga nonformal, dan masyarakat (perorangan dan kelompok). Museum Daerah Provinsi Sumatra Barat, Adityawarman, sebagai lembaga formal, menyimpan sekitar 60 naskah. Berbagai koleksi naskah yang terdapat di museum itu dapat dilihat dalam katalog naskah yang sangat sederhana, yang disusun oleh Museum bekerja sama dengan Fakultas Sastra, Universitas Andalas, Padang. Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau, Padang Panjang, juga menyimpan beberapa naskah. Akan tetapi, naskah-naskah tersebut merupakan kopian dari naskah-naskah koleksi PNRI, Jakarta. Di samping itu, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Andalas, Padang, juga menyimpan sekitar 25 naskah; dan Balai Kajian Sejarah dan Nilai-Nilai Tradisional, Padang, juga menyimpan beberapa naskah (Suryadi, 2007).

Surau yang dapat disebut sebagai satu lembaga nonformal (di Minangkabau) merupakan tempat yang paling banyak menyimpan naskah. Hampir di setiap surau di Minangkabau ini, terutama surau yang menjadi pusat pendidikan agama (tarekat) memiliki dan menyimpan naskah, seperti Surau Paseban, Koto Tangah, Padang; Surau Batang Kabung, Koto Tangah, Padang; Surau Parak Pisang, Sumani, Solok; Surau Tandikek dan Ampalu, Padang Pariaman; dan Surau Batu Ampa dan Taram, Payakumbuh.

Naskah-naskah yang masih disimpan oleh masyarakat, baik dari kelompok keluarga umum, maupun dari kelompok keluarga ‘kerajaan’, disimpan oleh pewarisnya dan dapat ditemukan, misalnya di Palembayan, Matur, Pariaman, Payakumbuh, Solok, dan Kabupaten Agam. Begitu juga, keluarga kerajaan, seperti Keluarga Raja Istana Pagaruyung di Batusangkar, Keluarga Raja ‘Istana’ Mandeh Rubiah di Lunang, Pesisir Selatan, Keluarga Raja Kerajaan Inderapura juga di Pesisir Selatan, dan Keluarga Raja Kerajaan Balun di Sungai Pagu, Solok Selatan, tercatat sebagai pewaris yang masih menyimpan berbagai naskah di rumah keluarga masing-masing (Suryadi, 2007). Keberadaan naskah-naskah Minangkabau di luar tempat asalnya itu disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain penjajahan dan perdagangan naskah.

Jika menilik kepada jejak sejarah, banyak hal yang menyebabkan kaburnya keberadaan naskah-naksah Minangkabau beraksara Arab-Melayu tersebut, diantaranya keberadaan aksara Arab-Melayu mulai mengalami pergeseran, terutama ketika pemerintah kolonial Belanda mulai melakukan hegemoni dengan memperkenalkan aksara latin pada masyarakat Minangkabau. Hegemoni aksara latin tersebut menyebabkan mulai memudar dan hilangnya budaya aksara Arab-Melayu, yang berakibat hilangnya teks-teks baik berupa naskah maupun ingatan yang tersimpan dalam memori generasi tua Minangkabau. Selain itu, hegemoni politik yang ditawarkan pemerintah Belanda, menyebabkan banyak naskah-naskah Minangkabau yang diserahkan kepada pemerintah Belanda baik sebagai hadiah maupun hibah, ataupun naskah-naskah dengan bahasa arab-melayu yang dianggap “cabul” dan tidak layak untuk di publikasikan, sehingga terlantar begitu saja.

Gramsci menjelaskan bahwa hegemoni merupakan sebuah proses penguasaan kelas dominan kepada kelas bawah, dan kelas bawah juga aktif mendukung ide-ide kelas dominan. Di sini penguasaan dilakukan tidak dengan kekerasan, melainkan melalui bentuk-bentuk persetujuan masyarakat yang dikuasai.

Tulisan ini merupakan wacana dan pemikiran penulis yang sangat bersifat subyektif tentang pengaruh hegemoni kolonial Belanda terhadap keberadaan naskah-naskah kuno Minangkabau.


Daftar Referensi

Boothman, D. (2008). Hegemony: Political and Linguistic Sources for Gramsci’s   Concept of Hegemony. London: Routledge.

Bocock, Robert. (2005). Pengantar Komprehensif Untuk Memahami Hegemoni.    Yogyakarta: Jalasutra.

Howson, R. (2006). Challenging Hegemonic Masculinity. London: Routledge.

Howson, R. & Smith, K. (2008). Hegemony: Studies in Consensus and Coercion. London: Routledge.

Simon, Roger (1991). Gramsci’s Political Thought: An introduction. Lawrence       and Wishart:  London.

Strinati, Dominic (1995). An Introduction to Theories of Popular Culture.   Routledge: London.

One comment on “HEGEMONI PEMERINTAH KOLONIAL BELANDA TERHADAP KEBERADAAN NASKAH MINANGKABAU

  1. ayu
    7 Desember 2011

    boleh juga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 7 Desember 2011 by in Naskah Minangkabau.
%d blogger menyukai ini: