RSS

UMRUL QAIS DAN KEKHAS-AN KARYA-KARYA SYAIRNYA

07 Des

Dipublikasikan pada: Harian Padang Ekspress Edisi Minggu, Oktober 2005

I. SYAIR DAN MASYARAKAT ARAB

Menurut pandangan bangsa Arab, Syair  merupakan puncak keindahan dalam sastra, sebab syair itu adalah suatu bentuk gubahan yang dihasilkan dari kehalusan perasaan dan keindahan daya khayal, karena itu bangsa Arab lebih menyenangi syair dibandingkan dengan hasil satra lainnya.

Apabila dibandingkan antara karangan-karangan ataupun kuliah dan khutbah, maka yang dapat berpengaruh lebih dahulu dihati seseorang adalah gubahan syair, karena gubahan syair itu dapat langsung dirasakan dalam hati walaupun tidak dipikirkan terlebih dahulu. Disini dapat kita ketahui dengan jelas bahwa bangsa Arab lebih menyukai syair daripada bentuk prosa lainnya

II. KEDUDUKAN PENYAIR PADA MASYARAKAT  ARAB JAHILIYAH

Keistimewaan bangsa Arab, meraka mempunyai perhatian yang besar terhadap bahasa dan keindahan sastra, karena mereka mempunyai perasaan yang halus dan ketajaman penilaian terhadap sesuatu. Dua sifat ini menjadi faktor utama mereka untuk mempunyai kelebihan dan kemajuan dalam bahasa. Karena keindahan bahasa akan bersandarkan pada perasaan yang halus dan daya khayal yang tinggi. Dengan kedua sifat ini maka bangsa Arab dapat mengeluarkan segala yang bergejolak dalam jiwanya dalam bentuk gubahan syair yang indah. Hal ini pula berkenaan dengan peranan atau kedudukan penyair dalam masyarakat Arab. Seorang penyair yang hebat mampu membela kehormatan kaum dan keluarga kabilahnya.

Bangsa Arab menganggap betapa pentingnya peranan penyair, sampai mereka sering memperalat seorang penyair sebagai seorang yang dapat memberi semangat dalam perjuangan, memberi sokongan suara bagi seorang untuk dapat diangkat sebagai kepala kabilah, dan ada pula yang menggunakan mereka sebagai perantaraan untuk mendamaikan dua lawan yang saling bermusuhan, bahkan ada juga yang menggunakan penyair untuk meminta maaf dari seorang penguasa.

Di kalangan bangsa Arab banyak terdapat penyair yang kenamaan, namun dari sekian banyak itu, yang paling terkenal hanya ada tujuh sampai sepuluh orang saja, sebab hampir sebagian besar dari hasil karya mereka masih utuh dan terjaga hingga kini. Seluruh hasil karya dari kesepuluh orang penyair itu, semuanya dianggap hasil karya syair yang terbaik dari karya syair yang pernah dihasilkan oleh bangsa Arab.

Hasil karya syair mereka terkenal dengan sebutan Al-Muallaqad, yaitu yang tergantung, sebab setiap hasil karya syair yang paling indah dimasa itu, pasti digantungkan di dinding Ka’bah sebagai penghormatan bagi penyair atas hasil karyanya. Dari dinding Ka’bah inilah nantinya masyarakat umum akan mengetahuinya secara meluas dan turun temurun.

Seluruh hasil karya syair yang digantungkan pada dinding Ka’bah selain dikenal dengan sebutan Al-Muallaqad juga disebut Al-Muzahabah yaitu yang ditulis dengan tinta emas. Sebab setiap syair yang baik sebelum digantungkan pada dinding Ka’bah, ditulis dengan tinta emas terlebih dahulu sebagai penghormatan terhadap hasil karya itu. Diantara penyair-penyair terkenal pada masa jahiliyah adalah Umrul Qais.

III. UMRUL QAIS DAN KARYA SYAIRNYA

Kepandaian Umrul Qais dalam bersyair

Umrul Qais berasal dari suku Kindah, yaitu suku yang pernah berkuasa penuh di Yaman, karena itu beliau lebih dikenal sebagai penyair Yaman (Hadramaut). Nasab penyair ini sangat mulia karena beliau anak seorang raja Yaman yang bernama Hujur Al Kindy. Dari segi nasab ibunya, Umrul Qais adalah anak Fatimah binti Rabiah saudara Kulaib Tghlibiyah seorang perwira Arab yang amat terkenal dalam peperangan Al Basus.

Segi nasab ini sangat berpengaruh sekali terhadap kepribadian Umrul Qais. Sejak kecil ia dibesarkan di Nejed di kalangan keluarga bangsawan yang gemar dengan foya-foya. Kebiasaan penyair ini sering bermain cinta, mabuk, dan melupakan segala kewajibannya sebagai anak raja yang harus pandai mawas diri dan berlatih

untuk memimpin masyarakat. Karena itulah penyair ini sering dimarahi oleh ayahnya, bahkan akhirnya dia diusir dari istana disebabkan oleh perangai buruknya.

Selama dalam pembuangan, Umrul Qais sering pergi mengembara kesegala penjuru jazirah Arab untuk menghabiskan waktunya bersama orang Badui. Orang-orang Badui ini gemar sekali mengikuti Umrul Qais karena disamping mereka membutuhkan harta Umrul Qais, mereka juga sangat butuh  kekuatan Umrul Qais untuk menghadapi lawan mereka.

Pengembaraan Umrul Qais berlangsung selama beberapa tahun, Dan pengalaman pengembaraannya itu kelak akan membawa pengaruh yang kuat sekali pada karya syairnya, karena dalam pengembaraannya yang seluas itu dapat menambah pengetahuan dan pengalaman baru baginya. Sehingga bila kita perhatikan dari penyair lain yang tidak banyak berkelana, maka kita akan dapat menilai karya syair Umrul Qais lebih tinggi daripada karya penyair lain. Dalam hal ini ahli sastra Arab banyak yang berpendapat bahwa syair Umrul Qais jauh lebih tinggi dari karya yang dihasilkan penyair jahiliyah lain yang tidak banyak berkelana.

Suatu ketika Umrul Qais sedang asyik berfoya-foya, tiba-tiba datang kabar kematian ayahnya terbunuh ditangan Kabilah Bani Asaf yang sedang memberontak kepada kekuatan orang tuanya. Kermatian orang tuanya itu menuntut Umrul Qais untuk kembali ke Nejed agar dapat menuntut balas kematian orang tuanya. Panggilan itu tidak disambut baik oleh Umrul Qais, bahkan dia dengan bermalas-malas berkata:  “Dulu semasa kecilku aku dibuang, kini setelah aku dewasa aku dibebani dengan darahnya, biarkan saja urusan itu, sekarang waktunya untuk mabuk-mabukan dan besok untuk menuntut darahnya.” (Al Wasit, hal.61).

Namun tak lama kemudian penyair ini berangkat menuju ke Nejed untuk menuntut kematian orang tuanya. Untuk menunaikan maksudnya itu, Umrul Qais terpaksa minta bantuan dari kabiah-kabilah Arab yang berada disekitarnya, sehingga pertempuran itu berkecamuk lama dan akhirnya melarikan diri menuju kerajaan Romawi Timur (Byzantium) di Turki. Di tengah perjalanannya penyair itu terbunuh oleh musuhnya dan dimakamkan dikotaAngkara (Turki),

Karya-karya Syairnya

Sebagian besar ahli sastra Arab berpendapat bahwa puisi Umrul Qais dapat digolongkan dalam kelas tertinggi dari golongan penyair jahiliyah. Karena penyair ini banyak menyandarkan pada kekuatan daya khayalnya dan pengalamannya dalam mengembara, bahasanya sangat tinggi sekali dan isinya padat.

Umrul Qais dianggap orang pertama yang menciptakan cara menarik perhatian dengan jalan istiqhafus sohby (cara mengajak orang untuk berhenti pada puing runtuhan bekas rumah kekasihnya sekedar untuk mengenangkan masa cinta). Memang cara ini sangat menarik sekali bila digunakan dalam syair ghazal (merayu wanita) dan cara seperti ini adalah suatu cara yang amat disenangi para penyair Arab dalam membuka setiap Qashidahnya untuk perhatian orang.

Umrul Qais juga dianggap sebagai seorang penyair pertama dalam mensiasati kecantikan seorang wanita dengan mengumpamakannya dengan seekor kijang yang panjang lehernya, karena wanita yang panjang lehernya menandakan sebagai seorang wanita yang cantik.

Orang yang mempelajari syair karya Umrul Qais dengan mendalam, maka dia akan mengerti bahwa keindahan syairnya terletak pada caranya yang halus dalam syair ghazalnya. Ditambah denagn istiarah atau kata kiasan dan perumpamaan. Sehingga banyak yang beranggapan bahwa dialah orang yang pertama menciptakan perumpamaan dalam syair Arab. Hanya saja kadang-kadang syairnya juga tidak luput dari perumpamaan yang cabul. Tapi hal ini tidak mengurangi nilai syairnya, karena kecabulannya tidak berlebihan, disamping itu merupakan kebiasaan bagi setiap penyair Arab.

Dalam syair ghazalnya, Umrul Qais mengisahkan kepada kita tentang perjalanannya dengan kekasihnya yang bernama Unaizah :

ويوم دخلت الخدرخدرعنيزة          #             وقاليت لك الويلات إنك مرجلى

تقول وقد مال الغبيط بنامعا            #             عقرت بعيرى ياامرأالقيس فانزل

فقلت لها سيرى وارخى زمامه       #              ولاتبعدينى من جناك المعلل

Artinya:

“Suatu hari ketika aku sedang masuk dalam Haudatnya (tempat duduk diatas panggung unta khusus bagi wanita) Unaizah (kekasihnya), maka Unaizah berkata kepadaku: “celaka kamu, janganlah kamu payahkan untukku.” Ketika punggung untanya agak condong kebawah (keberatan) maka ia berkata kepadaku: “Turunlah hai Umrul Qais, janganlah kamu ganggu jalan untaku ini.” Disaat itu kukatakan padanya: “Teruskan perjalananmu dan lepaskan tali kekangnya, janganlah engau jauhkan aku dari sisimu.”

 

            Ditempat lain penyair ini pernah mensifatkan kecantikan Unaizah dalam bait syair nya:

فلما أجزنا ساحة الحى وانتحى       #            بنا بطن خبت زي حقاف عقنقل

هصرت بفودى رأسها فتمايلت       #           على هضيم الكشح رياالمخلخل

مهفهفة بياء غير مفاضة               #           ترائبهامصقولة كالسجنجل

وجيد كجيد الرئم ليس بفاحش        #            إزهي نصته ولا بمتعطل

وفرع يزين المتن أسود فاحم         #            أنيث كقنو النخلة المتعثكل

Artinya:

“Ketika kami berdua telah lewat dari perkampungan, dan sampai ditempat yang aman dari intaian orang kampung.

“Maka kutarik kepalanya sehingga ia (Unaizah) dapat melekatkan dirinya kepadaku seperti pohon yang lunak.”

“Wanita itu langsing, perutnya ramping, dan dadanya putih bagaikan kaca.”

“Lehernya panjang seperti leher Kijang, jika dipanjangkan tidak bercacat sedikitpun, karena lehernya dienuhi kalung permata.”

“Rambutnya yang panjang dan hitam bila terurai di bahunya bagaikan mayang korma.”

 

            Penyair ini menggambarkan wanita dengan gayanya yang khas, dan gambaran yang seindah ini tidak dapat terlukiskan kecuali bagi orang yang mempunyai daya khayal yang tinggi ditambah dengan pengalaman luas, sehingga dapat melukiskan sesuatu itu walaupun dengan berbagai macam perumpamaan, namun perumpaman itu seolah-olah hidup saja layaknya.

Adasatu contoh lain dari syairnya yang menunjukkan kelihaian penyair ini dalam menggambarkan suatu kejadian dengangayanya yang khas sehingga bayangan yang ada seperti benar-benar terjadi, seperti yang dituangkannya dalam syair berikut:

وليل كموج البحر مرج سدوله            #          علي بأنواع الهموم ليبتلى

فقلت له لما تمطى بصلبه                   #          وأ رداأعجازا وناء بكلكل

ألا أيها اليل الطويل ألا أنجالى            #           بصبح وماالإصباح منك بأمثل

Artinya:

“Di kala gulita malam seperti badai lautan tengah meliputiku dengan berbagai macam kereesahan untuk mengujiku (kesabaranku).”

“Di kala malam itu tengah memanjangkan waktunya, maka aku katakana padanya.”

“Hai malam yang panjang, gerangan apakah yang menghalangimu untuk berganti dengan pagi harinya? Ya, walaupun pagi hari itupun juga belum tentu sebaik kamu

 

Sebenarnya penyair ini akan mengutarakan betapamalangnasibnya. Dimana keresahan hatinya akan bertambah susah bila malam hari telah tiba. Karena disaat itu dia merasa seolah-olah malam itu sangat panjang sekali, sehingga dia mengharapkan waktu pagi segera tiba, agar keresahannya dapat berkurang, namun sayang sekali keresahannya itu tidak jua berkurang walaupun pagi hari telah tiba. Contoh syair diatas menandakan kepandaian penyair ini dalam menggambarkan suatu keadaan, sehingga seolah-olah keadaan itu benar-benar terjadi.

Bait syair Umrul Qais terkumpul semuanya dalam kasidah Muallaqad nya. Muallaqad Umrul Qais sangat terkenal sekali dikalangan setiap orang yang mempelajari sastra Arab. Umrul Qais menciptakan kasidah Muallaqadnya tak lain adalah untuk mengabadikan suatu kejadian yang paling menarik sekali dalam kehidupannya bersama Unaizah.

Pada suatu ketika Umrul Qais ingin bertemu dengan kekasihnya yang bernama Unaizah, namun keinginannya ini selalu dihalangi oleh pamannya karena dia takut anak putrnya akan terbujuk dengan syairnya Umrul Qais. Karena itulah Umrul Qais berusaha sekuat tenaga untuk dapat kesempatan agar dapat bertemu dengan anak pamannya yang bernama Unaizah. Pada suatu saat dia berhasil bertemu dengan Unaizah dan bersepakat untuk bertemu dalam kesempatan lain bila anggota kabilahnya sedang pergi mengambil air. Kebiasaan kabilah itu bila hendak pergi kemata air, kaum lelaki berjalan terlebih dahulu, selanjutnya diikuti oleh kaum wanita dari belakang. Waktu kaum lelaki pergi ke mata air Umrul Qais tidak keluar bersama mereka, bahkan penyair ini menunggu keberangkatan kaum wanita. Ketika kaum wanita hendak keluar ke mata air, maka Umrul Qais keluar mendahului mereka agar dapat sampai terlebih dahulu.

Ketika sampai di mata air yang bernama Juljul di daerah Kindah (Nejed), penyair ini langsung bersembunyi dibelakang batu tak jauh dari tempat itu. Ketika rombongan kaum wanita termasuk kekasihnya tiba di mata air Juljul, maka mereka langsung menanggalkan pakaiannya masing-masing dan diletakkan pada suatu batu. Setelah mereka masuk kedalam air semuanya, maka Umrul Qais yang tengah menyaksikan dari belakang batu langsung mengambil semua pakaian milik kaum wanita itu dan bersumpah tidak akan mengembalikannya kecuali bila mereka keluar dari kolam itu dengan telanjang bulat.

Melihat kejadian itu semua kaum wanita terkejut dan mereka minta pada Umrul Qais untuk mengembalikan pakaian mereka. Namun Umrul Qais tetap berkeras hati dan tidak mengembalikan kepada pemiliknya masing-masing bila mereka tidak mau keluar dengan telanjang bulat. Akhirnya seluruh wanita itu terpaksa keluar dari kolam untuk mengambil bajunya masing-masing dari Umrul Qais kecuali Unaizah ia tidak mau keluar dari kolam. Dan ia meminta pada Umrul Qais untuk mengembalikan pakaiannya. Setelah diketahui olehnya bahwa Umrul Qais tidak mau mengembalikan pakaiannya, terpaksa Unaizah keluar dari kolam dengan telanjang bulat pula seperti kaum wanita yang lain. Kemenangan Umrul Qais ini diabadikan olehnya dalam Kasidah Muallaqadnya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 7 Desember 2011 in umum

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 448 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: